Aplikasi teknologi katalis sebenarnya sangat luas. Yang paling terasa manfaatnya di Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi dan energi, yaitu pengolahan minyak bumi/tumbuhan untuk energi di masa depan.

Ketergantungan bangsa ini pada teknologi impor menyebabkannya tidak mandiri dalam pemenuhan kebutuhan industri tersebut. Contoh lainnya adalah untuk catalytic converter yang dipasang di saluran gas buang mobil. Sejauh ini baru mobil mewah yang menggunakannya karena teknologinya masih mahal atau converter/anti-bakteri pada AC merek tertentu untuk keperluan khusus. Lagi-lagi, teknologi ini masih mahal dan hanya bisa ditemukan di negara maju atau barang mewah tertentu.

Paling tidak ada tiga langkah yang dapat dilakukan oleh Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dari negara maju dalam konteks teknologi katalis.

Pertama, riset dasar maupun terapan harus dijaga kontinuitasnya. Jangan sampai terlalu dipengaruhi oleh keputusan politik. “Apa yang sudah dirintis oleh mendiang BJ Habibie sebenarnya sudah bagus, tetapi situasinya tidak kondusif,” ujarnya.

Kedua, potensi bahan baku industri benilai tinggi harus mendapat proteksi dari pemerintah. Misal, material maju (termasuk Katalis), bahan bakunya diekspor jor-joran ke China dan didatangkan lagi ke Indonesia sudah dalam bentuk barang jadi.

Ketiga, dukungan kebijakan/fasilitas/insentif riset yang memadai. “Sumber daya manusia (SDM) kita juga sangat berkualitas dan kompetitif, tapi jika tidak mendapatkan dukungan yang memadai. SDM hanya sekadar bertahan untuk hidup, sangat sulit untuk berkarya,” jelasnya.

Mengapa sulit berkarya? Beberapa temannya di ULM atau di universitas lain tidak memiliki sama sekali laboratorium dan peralatan untuk eksperimen, sehingga mandek ilmu dan keahliannya. Dia bersyukur karena dalam rentang 201 4-2020 dapat hibah (Rp 4-5 milyar) yang bisa ia investasikan untuk alat/instrumen dan bahan, sehingga ia bisa tetap riset dan berkarya. 5Sementara, dukungan dari institusi (dana/peralatan/bahan) hanya cukup untuk pendidikan tidak untuk penelitian. Bahkan, untuk akses jurnal/artikel terbaru saja tidak punya.

SDM Peneliti katalis di universitas yang ada di Kalimantan (ULM, UNMUL, UPR, UNTAN, dan UBorneo) hanya sekitar sepuluh orang. Tiga orang dari ULM. Jika riset dilakukan sendiri jelas akan sulit berkembang. Tuntutan kolaborasi antaruniversitas, termasuk dengan universitas di Jawa, menjadi wajib. “Masalahnya, ULM secara institusi belum diakui oleh beberapa universitas di Jawa untuk membentuk Konsorsium Riset,” katanya.

Dia sendiri lebih dilibatkan oleh teman-temannya dari ITB, UI, LIPI, UGM, dan ITS secara personal untuk proyek konsorsium mereka. Ia mengharapkan peningkatan performansi institusi (khususnya LPPM) sehingga para peneliti katalis dapat dilibatkan dalam konsorsium yang ada. (Tim/ Artikel ini pernah dipublikasikan pada majalah Berita ULM No. 35 (Edisi September-Oktober 2020)

 

Facebook Comments