Peran tokoh Tionghoa terus berada pada posisi penting dalam program pendidikan yang diselenggarakan ULM di awal-awal. Pada Fakultas Hukum dengan Ketua Fakultas: Mr. Soejono Hadidjoyo, Sekretarisnya Mr. Ong Tjong Haw (A.M. Rahmanata,S.H). Fakultas Ekonomi yang menyelenggarakan pendidikan Jurusan Ekonomi Umum (Ekonomi Nasional), dan Jurusan Ekonomi Perusahaan. Dengan Ketua Fakultas: Prof. Soemadio, Sekretaris: Drs. Go Tjiaw Tiong (Drs. Bob Goenadhi), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang menyelenggarakan pendidikan Jurusan Pemerintahan/ Tata Praja, dan Jurusan Publisistik dengan Ketua Fakultas: Drs. Asful Anwar, Sekretaris: Drs. Lie Han Po (Drs. Djohansyah Rusli).

“Meski demikian, sayangnya tidak ada catatan dan lacakan lebih jauh mengenai nama-nama tokoh Tionghoa yang ikut berperan dalam sejarah dan awal berdirinya ULM, seperti Khoe Boen Tian, Tan Tjin Kie, Ong Tjong Hauw, Kho Sek Beng, Go, Tjaw Tiong, Lie Han Po, dan lain-lain,” ujar Ary.

Yang menarik juga, sejak awal sebenarnya Universitas Lambung Mangkurat memakai akronim ULM, bukan Unlam yang popular kemudian— meski belakangan dikembalikan lagi menjadi ULM.

“Mengapa nama Unlam yang lebih popular, ini misteri,” sebut Ary tersenyum. “Tapi mungkin ada suatu masa di mana orang kemudian lebih mudah dan nyaman menyebut nama Unlam ketimbang ULM, sehingga kemudian nama Unlam-lah yang lebih dikenal,” katanya.

Sementara Bambang Subiyakto lebih banyak menampilkan gambar dokumentasi dan nama tokoh-tokoh Tionghoa Banjar. Tidak saja yang berada di Banjarmasin, tapi juga hingga ke daerah Hulu Sungai.

Beberapa nama yang tercatat; Thio Soen Yang seorang pebisnis dan kapiten pada tahun 1909, di tahun 1920 ada nama Thio Mo Tiang pemilik toko “Tjin”, Thioe Soen Bie seorang saudagar kayu tahun 1926, Tjoe Eng Hoey pemilik kapal uap “Baharakat” pada tahun 1932, Ong Keng Lie pemilik BIM (Borneo Industrie Maatschappij), pabrik es krim, galangan kapal, bengkel konstruksi dan beberapa bioskop tahun 1940, Lim Tjoe Keng saudagar kopra dan tengkawang pemilik pabrik dan toko tahun 1942, hingga Goey Keng Tiong (Kandangan), So Kay Gwan (Barabai), Ek Liong Hind an Hock Tong  pengusaha/eksportir karet tahun 1960.

“Para tokoh Tionghoa Banjar ini tentu turut memiliki peran dalam perkembangan banua Banjar, Kalsel, termasuk juga dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Selanjutnya diskusi berkembang terkait pembauran etnis Tionghoa dengan warga lokal Banjar. Secara umum, masyarakat Banjar dengan etnis Tionghoa sudah hidup membaur, berdampingan, dengan tingkat toleransi yang tinggi.

“Saya bahkan berteman dan sudah seperti saudara dengan Aan ini,” ujar Bambang sambil menoleh kepada Aan di sampingnya. Ia menceritakan, selama tinggal di Kampung Gedang, Banjarmasin, ia bertetangga dengan Aan dan sudah saling mengenal keluarga masing-masing. “Jadi, Aan ini sudah saudara saya,” tegasnya.

Pada saat diskusi itu juga tercetus gagasan untuk membicarakan lebih lanjut tentang pembauran etnis Tionghoa dengan Banjar. Selain juga upaya untuk menyelamatkan bangunan-bangunan tempo dulu, seperti rumah Banjar, yang kini kian hilang karena tak terawat atau berpindah tangan yang kemudian dibongkar dan didirikan bangunan baru.

“Nanti perlu juga kita bicarakan tentang pembauran etnis Tionghoa dengan Banjar. Termasuk juga penyelamatan bangunan rumah Banjar bahari,” ujar Winardi Sethiono, salah satu penggagas pembangunan Masjid Cheng Ho di Banjarmasin yang masih belum terealisasikan karena terkendala lahan.@

 

Facebook Comments