Atasannya kemudian memeriksa wajahnya.

“Kamu menyebut ini demi kebaikan bersama?”

“Ya, Pak. Setidaknya orang akan lebih bisa mengenal saya.”

“Betul begitu?”

“Saya pikir begitu. Dan, terlebih lagi, saya bisa membiarkan mereka menatap saya. Saya tidak lagi keberatan ditatap.”

“Tapi itu menakutkan. Bagaimana kami tahu itu benar dirimu? Jika semua orang datang bekerja dengan topeng, hidup menjadi tidak mungkin.”

“Mari kita coba selama seminggu, Pak. Kita lihat hasilnya.”

Setiap hari, dia memakai topeng yang berbeda. Setiap hari, tanggapan orang selalu sama. Manajer memanggilnya ke kantor. Pada akhir pekan, manajer merasa cukup sudah.

“Kamu mungkin perlu menemui seseorang,” saran manajer.

“Semuanya akan selesai minggu depan,” katanya.

“Entah kamu menemui seseorang atau kami yang terpaksa memecatmu.”

“Tapi kenapa, Pak?”

“Kamu membuat takut semua orang. Kamu mempersulit orang melakukan pekerjaan mereka.”

“Akan selesai minggu depan,” janjinya.

 

SETIAP hari pada minggu itu, perjalanan pulangnya telah mengkonfirmasi akan kemanjuran topeng itu. Pada hari pertama, wanita yang biasanya akan melarikan diri ke seberang jalan ketika melihatnya sekarang hanya menatap saja ketika dia lewat. Pada hari kedua, seorang wanita yang sudah akan menyeberang, berubah pikiran dan tetap berada di sisi jalan yang sama dengannya. Pada hari kelima, tidak ada dari mereka yang memperhatikannya.

Hal ini mengejutkannya. Dia yakin topeng itu membuatnya terlihat tidak wajar. Tapi mengapa mereka yang biasanya melarikan diri darinya, terganggu oleh wajahnya, tidak terganggu oleh topengnya?

Dia mengajukan pertanyaan itu kepada pria yang menjual topeng di pasar lokal pada hari Minggu pagi.

“Anda tidak pernah memberitahu saya untuk apa Anda membelinya,” kata pria itu. Seolah sedang mengiklankan kekuatan topeng yang dia jual, pria itu juga memakai topeng. Hari ini, dia mengenakan topeng Aztec yang menyenangkan anak-anak saat mereka lewat. Banyak orang berhenti untuk membeli penyamarannya yang mengesankan. “Sekarang setelah Anda memberi tahu saya masalahnya, saya yakin saya punya topeng terbaik untuk Anda. Namun, ada satu syarat.”

“Apa itu?”

“Untuk minggu pertama Anda memakainya, Anda harus percaya bahwa topeng itu adalah wajah Anda.”

“Apakah itu sudah semuanya?”

“Itu saja. Mudah bukan?”

Pria itu membawanya ke bagian belakang kios, di mana dia menyimpan banyak sekali topeng yang dia peroleh dari berbagai penjuru dunia. Pria itu memintanya untuk menutup matanya. Kemudian pria itu memasangkan topeng itu untuknya dan menyuruhnya untuk tidak melihat ke cermin selama beberapa waktu. Pria itu menolak ketika dia hendak membayar.

“Anda telah membantu saya. Karena Anda, semua orang ini mampir di kios saya. Mereka pasti tertarik ke sini berkat wajah Anda, bukan?” kata pria itu sambil tertawa.

Sesampai di rumah dia merasa penasaran, tapi dia tidak melihat ke cermin. Menjelang pagi, topeng itu telah menyatu dengan wajahnya. Dia menyentuh pipinya dan tidak merasakan ada topeng melapisi wajahnya. Dia tidak merasa perlu melihat cermin.

 

DI tempat kerja, semua orang menatapnya heran. Manajer lantas memanggilnya ke kantor dan menatap lama wajahnya, lalu mengirimnya kembali ke mejanya tanpa mengucapkan sepatah kata. Dalam perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi oleh reaksi yang tidak biasa dari rekan-rekan kerjanya sehingga dia lupa memperhatikan apakah orang-orang menyeberang jalan untuk menghindarinya. Di dekat rumahnya, seorang wanita muda yang cantik menghentikannya untuk menanyakan jalan. Wanita itu tersesat. Dia memberinya instruksi yang jelas dan berharap wanita itu baik-baik saja.

Pada akhir pekan, salah seorang wanita di kantor, seorang wanita cantik dengan kaki jenjang dan lipstik garang, yang bekerja di departemen digital, bertanya ke mana dia akan makan siang, tetapi dia tidak mengerti maksud wanita itu.

Dia tidak lagi memperhatikan topengnya sendiri, tetapi dia mulai dapat melihat topeng yang dipakai orang lain. Ketika dia berjalan pulang pada malam hari, dia bertanya-tanya mengapa dia tidak pernah memperhatikan topeng mereka sebelumnya. Sekarang, ketika dia menyadarinya, dia melihat bahwa dia merasa perlu untuk menghindari mereka dan menyeberang jalan sebelum semua terlambat.@

Tentang Ben Okri
Ben Okri adalah penyair dan prosais asal Nigeria. Lahir pada 15 Maret 1959, Ben Okri memenangkan Booker Prize pada tahun 1991 untuk bukunya “The Famished Road.” Beberapa buku terbarunya adalah novel “The Freedom Artist” dan kumpulan cerita pendek “Prayer for the Living.”
Cerpen “Topeng” diterjemahkan oleh Aliurridha dari cerpen Ben Okri yang berjudul “A Wrinkle in The Realm” yang terbit di The New Yorker pada tanggal 1 Februari 2021
Tentang Penerjemah
Aliurridha tinggal di Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dia adalah penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Dia juga menulis esai, opini, puisi, dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Dia bergiat di komunitas Akarpohon.
Facebook Comments