Hari sedang mendung. Tapi tidak hujan. Gara-gara terbesit hati ingin makan di rumah Acil, jarak tempuh jadi bertambah lama. Saya tidak bilang waktu terbuang, tapi dari sana saya jadi merasa agar tidak mengharapkan bantuan manusia. Semoga tawakalnya makin kuat. Tapi belum mengukur sampai di mana batas kemampuan saya.

Tau gak sih, gara-gara jalan kaki menyusuri jalan seperti ini, barus saya ngeh, oh ini nyaleg tho.  Di sini, si anu itu kah, oh dapil ini. Baru momentum jalan kaki sedemikian yang tanpa sengaja betul-betul terbaca rincian caleg-caleg kita ini, dari spanduk yang tersebar di penjuru-penjuru belokan. Sebagaimana yang telah kalian baca di catatan sebelumnya, saya berjalan kaki dari Danau Seran menuju Masjid Al Karomah sebagai finish point-nya. Dan ini adalah bagian ketiga, perjalanan saya sudah lebih setengahnya.

Melewati batas kota, pikiran meracau, memilih untuk terus menyusuri Jl A Yani ke Masjid Al Karomah, atau berbelok ke kanan ziarah ke sekumpul. Sedari awal saya sudah tetapkan ziarah ke makam abah guru. Seolahnya macam ritual saya permisi mau nulis manakib beliau untuk dishare di situs ini, tapi gak mau datang dengan cara yang biasa. Berjalanlah saya dari rumah menuju sekumpul dengan salawat di setiap langkahnya.

Singkatnya, saya berbelok, masuk ke Guntung Alaban. Saya sudah memilih untuk lebih dulu ke makam Abah Guru Sekumpul sebagai check point ke… ke berapa? Saya jadi lupa. Basah peluh di badan saya memantapkan langkah.

Tiba di pintu gerbang makam, ramai orang berjual-beli. Umbul-umbul yang menghias jalanan. Lampu-lampu dipasang membuat kampung ini lebih ramai dari dua hari raya. Kurang dari sebulan tempat ini akan didatangi orang-orang dengan jumlah jutaan. Tak ada lain selain bentuk kecintaan kepada ulama, pewaris nabi, dan kecintaan kepada Rasul atas perayaan ini. Kadang, tidak bisa diukur secara logika dan ilmu raba-raba. Gak semua tentang sekumpul bisa dinalar. Orang-orang, datang jauh-jauh, ke kampung ini bermalam, untuk menghadiri peringatan tahunan berisikan amalan-amalan sunah. Yang wajib juga tentu saja.

Saya masuk bagian paimaman Musalla Ar-Raudah sekumpul. Hal pertama yang saya raih adalah air minum gratis yang disediakan di jalan masuk menuju kubah. Segala sunah minum tiga kali teguk dan minum berduduk teramalkan di sini, biasanya, saya cuek sekali. Setiap tegukan air yang masuk dalam tenggorokan begitu melegakan. Tak akan tergantikan dengan jenis minuman apa pun. Tersebab saya sudah terlampau lelah. Kaki memanas, keringat dan baju yang basah sudah tak dicemaskan.

Saya berwudhu, salat dua rakat di dalam musala Abah Guru. Persis di tengahnya. Bersyukur lagi atas interiornya. Saya berbaring, menikmati tiap desir darah dan lelah terpapar udara dari kipas angin besi raksasa di sudut tiangnya. Sembari mengingat waktu agar saya tak terlena. Seingat saya, waktu belum menujukkan pukul 15.00.

Saya ingat betul, orang di hadapan yang pegang kamera adalah fotografer kodim. Bagian dari humas tentara. Tentu karena kami sering bertemu di lapangan untuk urusan pekerjaan yang berkaitan dengan jurnalistik dan publikasi. But, sekali lagi saya menatap saja tanpa menyapa. Saya maju untuk mendekat ke bagian besi pagar lorong biasa abah guru melewati saat pengajian atau maulidan. Di satu ruang dalam musala menuju paimaman, 2 orang TNI lengkap dengan pangkatnya sedang berbicara dengan Guru Sya’duddin, Imam musalla Ar-Raudah.

Lantas Guru Sya’duddin membawa dua TNI tadi berziarah. Saya merasa kurang beradab ketika sudah masuk lingkungan ini tapi tidak ziarah, merasa tak enak tapi penampilan saya saat sekarang bukan bagian dari keutamaan dalam bab berpakaian. Ini bukan pakaian terbaik walau pun saya jamin terbebas dari segala hadas pembatal syarat sah wudhu/salat.

Sudah. Saya membawa hati yang kosong, maksudnya seperti merasa, kehadiran saya di sini tidak memberikan pengaruh atau bekas apa pun. Melainkan sebaliknya, sekumpul dan segala keberkahanlah yang memberikan banyak manfaat ke manusia-manusia di sekelilingnya, di sekiling abah guru sekumpul. Ya, karena saya bukan siapa-siapa juga. Saya masuk saja, tidak terlalu banyak pikir seperti beberapa menit lalu.

Membaca doa sunah ziarah ke makam wali dengan berdiri. Mulai membaca Yasin, Al Waqiah, dan Tabarak (Al Mulk) beserta do’a. Ya Tuhan, saya merasa sekali seperti ditempeleng realita. Ini adalah amalam yang dulu rutin dilaksanakan sewaktu mondok. Tapi ketika dewasa, dan bekerja, amalam itu satu persatu kian luruh, semakin berkurang, bahkan wiridan di setelah salat jamaah tidak lagi dibaca duduk, tapi sambil berjalan karena buru-buru dikejar waktu lantaran pekerjaan. Ah, dasar tidak istiqomah.

Melihat orang-orang di sekeliling dengan pakaian terbaiknya, saya merasa kecil sekali. Pun demikian, meski ada beberapa yang memakai kaos dan celana saja. Mungkin, saya pernah berprasangka kepada orang seperti itu, lantas mendjudge orang yang berziarah seperti kurang adab, tidak memakai pakaian terbaiknya. Posisi itu terbalik sekarang. Saya terdiam.

Saya keluar dari makam, “Baundur Burit” tanpa membelakangi makam sebagaimana guru dulu pernah ajarkan. Lalu berjalan lagi, mencari sandal andalan. Keluar dari Gg Taufik, melewati jalur tanjung rema. Lalu lintas ramai, hari sudah mulai cerah, mendung mulai move-on!

Tiba di Masjid Al Karomah

Hati saya terasa lapang sekali selesai ziarah. Awalnya berpikir, sudahi saja perjalanan ini, toh, tidak memberikan saya keuntungan apa-apa. Dapat uang pun tidak. Saya ingin langsung berbalik arah pulang ke rumah. Tapi, itu artinya niat saya sia-sia, buat apa saya muluk-muluk pasang target ke Masjid Al-Karomah toh, belum sampai ke tujuan saya sudah berbalik arah seperti kembali ke zona nyaman.

Was-was demikian pulang-pergi datang ke pikiran. Dan saya terus melawan, menyusuri Tanjung Rema dengan jalan menunduk saja. Entah mengapa saya merasa langkah ini cepat sekali, meski saya juga merasa kaki ini capek sekali. Andai saja ini buatan cina, mungkin sudah terlepas dan perlu ganti oli. Memanas dan nyeri sekali.

Bundaran persimpangan 4 Sultan Adam, sebelah kanan ada rumah besar. I Know rumah Bang Meidi Akhmad di sana dengan plang fotonya karena dia sedang mencaleg. Dan gak mungkin juga saya bertamu ke rumah dia dengan kondisi lusuh seperti ini. Saya jalan lagi, terus melewati alun-alun, CBS, hiruk-pikuk pasar Taibah (pasar ikan yang berada di belakang Pasar Batuah), lantas melepas sandal di halaman Masjid. Dan selamat datang di Masjid Agung Al Karomah.

***

Masih banyak waktu sebelum waktu ashar masuk. Saya ke bagian wudhu, biasa… minum lagi, berwudhu, masuk masjid dan salat tahiyat. Saya berbaring mencari titik paling pas dengan moncong kipas angin. Ya, Tuhan… nikmat sekali. Alunan ayat Al-Quran mengalun di pengeras suara.

***

Salat berakhir, saya berada di shaf kedua dan masih ingat dengan Guru Kamuli yang bertindak menjadi imam ashar berjamaah barusan. Pikir saya, apa lagi yang saya inginkan selain pulang ke rumah. Saya sudah menjejakkan kaki di titik finish. Sayangnya, tidak ada akses selain kembali jalan kaki menuju rumah. Jalan kaki lagi menuju pulang. Seandainya ada orang tiba-tiba menawarkan tumpangan, langsung saya iyakan saja. Tapi itu tak terjadi. Sesaat, langkah saya gontai, sesaat kemudian, perut ini berdisko ria, tidak ada asupan gizi yang masuk selain air, air, dan air. Saya cuma kenyang minum.

Saya berpikir, ke mana harus meminta tolong. Senja belum tiba, jarak ke rumah sama dengan jarak ketika berangkat menuju ke titik sekarang ini. Mungkin malam ini saya akan mati kelaparan. Atau tetap hidup dengan kekenyangan minum saja, tanpa ada makanan.

Kepala saya memusing, pandangan berkunang-kunang. Perut saya keram. Entah apakah ini batas kemampuan saya untuk bertahan. Saya terus melangkah dengan rasa sakit di perut. Melewati pasar, melewati CBS yang air mancurnya belum menyala. Melewati Alun-alun Ratu Zaleha dengan muda-mudi berpasangan mungkin sudah suami istri, kayaknya. Dan saya berhenti, untuk melihat diri sendiri… dan bertanya ke dalam hati. Jalan kaki sebagai terapi. Ide gila untuk menjaga kewarasan tapi malah bisa bikin tak waras. Apa yang sebenarnya saya cari?…

 

Bersambung…@

 

Facebook Comments