Mengkomparasi event sekelas Ubud Writers And Readers Festival (UWRF) dengan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) itu gak matching! Gak Apple to Apple gitu. Seperti kamu pakai android tapi berusaha yakinin ke orang-orang kamu adalah fanboy! Kan, konyol!

Sebelum saya habiskan semua draft wawancara person to person, mari kita berbagi kata dan ide tentang event yang umurnya sama-sama beranjak dewasa tapi LDR-an. Ini cuma gara-gara saya baru selesai menghadiri keduanya dengan selisih waktu satu pekan saja setelah kedatangan di Banua.

Saya kira masyarakat Kalsel pada umumnya patut bersyukur dan berbangga, terkhusus masyarakat sastra dan senimannya. Ada event tahunan yang berhasil merangsek masuk ke APBD melalui dinas terkait guna pembiayaan kegiatan dan tidak berbadan Yayasan. Para pemikir mati-matian mengkalkulasi dan merumuskan program sampai menjadi rekomendasi dan disetujui. Alhasil, setiap tahun ada daerah yang kocar-kacir menyiapkan para seniman untuk mendapatkan haknya hingga pelaksanaan bertitel Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) berkeliling ke tigabelas kabupaten dan kota. Dan kemarin, adalah perayaannya ke-15, udah makin gede aja anunya!

Program Yang Kurang “Gemuk”

Saya pribadi baru tertarik dalam event ini pada 2010. Namun rasanya, tahun demi tahun eventnya semakin menyusut. Atau kurang gemuk. Atau gara-gara masih ada efek festival Ubud dalam kepala yang terlalu padat. Saya kurang tahu, ya. Waktu demi waktu seperti kurang isi –-Kecuali perayaan kali kedua di Kandangan sebagai kota kelahirannya–

Pada perayaan di Kotabaru kemarin, saya berlima bersama rekan dari Banjarbaru mendapati hal kecil seperti tidak penting, agak norak, tapi perlu menjadi perhatian. Semisal moment ketika peserta lebih dulu datang ke gedung seminar daripada panitianya (Pesertanya Talalu Rajin). Ketidak responsif-an LO atau panitia yang mendampingi. Miss komunikasi kamsud antara peserta dan panitia. Ketidakefektifan jarak tempuh satu tempat kegiatan dengan tempat kegiatan lainnya. Sound system yang jelek sekali dalam ruangan —ketika Bang Yulian Manan menegur agar echo tidak terlalu tinggi, si operator malah nganga-nganga saja. Tidak ada upaya untuk memperbaiki sama sekali—. Ketidaktahuan LO apa arti LO? Kurangnya pemberitaan dan publikasi pra acara, tidak memaksimalkan sosial media sebagai promosi yang efektif. Sampai pada publikasi dari media pasca kegiatan yang isinya itu-itu saja. Saya kok malah membayangkan ya, kalau yang beginian sampai terjadi di Banjarbaru akan memalukan sekali. Tapi betul kata Bang Ben, norak itu kadang perlu untuk jadi perhatian. Whatever lah!

Kotabaru kaya sekali dalam konstelasi Sumber Daya Alam (SDA) untuk barang jualan. Para pendatang bisa memanjakan mata melalui perbukitan dan pantai. Tapi seperti kurang memaksimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang saya kira, cukup banyak kok yang bisa diandalkan. Bungas-bungas ha’ pulang!

Meski demikian, ASKS-15 di Kotabaru berakhir penuh kenangan. Kita para pembaca pasti memunyai harapan sama tentang event-event kesenian di Banua. Agar tidak menjadi ajang selfie dan foto bersama semata. Melainkan diiringi dengan kualitas para sastrawannya, produktivitas karya, impact wisata atau nilai kunjungan terhadap badan statistiknya, sampai kepada tercapaikah misi dunia kesusastraan dan pariwisata di Kalimantan Selatan? Semoga saja.

Sebagai program kesenian di bawah dinas, keterlibatan para sastrawan/seniman setempat berperan aktif dalam pelaksanaan hingga penyuksesan acara. Baik sumbangan dalam bentuk pemikiran atau pun tenaga. Atau sumbangan dalam bentuk lobi-lobi ke pihak dan instansi birokrasi. Walaupun, andai seniman tuan rumah setempat tidak memunyai skill sama sekali dalam melaksanakan kegiatan (misalnya), mereka tetap harus turun tangan agar ASKS bisa terlaksana. Bagaimana pun jadinya. Agar tidak terkesan seadaanya. “Asal laporan tuntung, kan, gak fair sama daerah lain yang berdarah-darah memperjuangkannya!”

ASKS menjadi penting dan sangat special ketika daerah lain di Indonesia, tidak memunyai penyelenggaraan yang sama. Eventnya sastra, jualannya seni dan budaya, berkeliling ke Kab/Kota, dibiayai instansi di bawah dinas, didasarkan dari rekomendasi para petinggi-petinggi seniman, disetujui oleh kepala daerahnya. Kan, Langka, tauk!

UWRF Yayasan Operational System (OS)

Sedangkan Ubud Writers And Readers Festival (UWRF) memunyai sistem pelaksanaan di bawah naungan Yayasan. Satu kepemilikan dengan lebih dari dua pemegang kuasa. Terdapat General Manager dan konsultan yang konsisten. Konseptor yang sama, penggemukan program dari tahun ke tahunnya. Yayasan yang sama juga punya Ubud Food Festival (UFF) yang dilaksanakan pada pertengahan tahun sebagai pembuka event. Seperti pra UWRF. Wajar jika semakin tahun kegiatannya seperti semakin nambah, semakin gemuk, semakin padat, semakin raksasa. Selain SDM yang tidak sedikit, Ubud punya jualan budaya yang terlalu erat, kuat, dan banyak. Segala hukum adat yang masih terjaga dari regulasi hukum-hukum kenegaraan. Wajar jika yayasan seperti Yayasan Mudra Saraswati mampu mengemasnya menjadi jualan pariwisata yang berputar di angka miliaran dalam sekali event.

Ada ratusan volunteer yang berlomba untuk terlibat (UWRF18 tercatat 250 Volunteer dari berbagai daerah). Ada puluhan media publikasi yang diundang dari dalam dan luar negri. Terlalu banyak pembicara, terlalu banyak event, dan terlalu banyak tempat sehingga kegiatan terasa gemuk sekali. Peserta seperti tak punya waktu santai untuk berleha-leha. Fotografer dan desain grafisnya punya skill. Akun share foto terpadu pada akun flickr, (memudahkan jurnalis ambil gambar untuk publikasi). Semua akun sosial media official dimaksimalkan tak hanya sebagai sarana promosi tetapi juga pengarsipan, informasi, portofolio, dan tentu saja eksistensi di era digital ini.

Program evetnnya dijual sampai berjuta rupiah harganya. Jadi keputusan memilih ada pada yang berkunjung. Mau menghadiri semua kegiatan monggo sing penting kuat. Mau beberapa satu atau dua aja silaken, gak ada yang ngelarang! Dan Ubud cuma kecamatan. Otomatis, komparasi dua event ini langsung jatuh. Habis perkara.

Bisakah event sastra dan kesenian di Banua besar seperti UWRF?

Jawabannya bisa iya bisa tidak. UWRF juga bukan indikator event sastra atau kesenian yang sukses. Hanya saja, selama 15 tahun ini, mereka para pelaksana berhasil membranding eventnya menjadi satu dari sekian banyak event sastra di Indonesia yang bergengsi bagi sebagian kalangan seniman. Karena kita tak bisa pungkiri, seniman ego-nya tinggi sekali. Salah bisa benar, benar bisa salah, sampai pada tahapan tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah di dunia ini. Gitu, gaes!

Saya mendengar selentingan kawan sesastra yang menginginkan agar ASKS ber-OS yayasan saja supaya pengelolaan manusia, dana, dan kegiatannya lebih independen. Tidak ketergantungan dengan APBD, tidak menyusu, tidak terlalu banyak menggantungkan pembiayaan dengan pemerintah.

Secara pribadi, saya kok kurang sreg ya! Lahirnya ASKS ini berdarah-darah lho, ya! Saya berbagi banyak soal sejarah ini ke beberapa orang seniman dari yang gondorong sampai yang tidak ada rambut sama sekali. Dari yang paling tua sampai anak kemarin sore. Gak semudah itu bisa diganggu-gugat! Apalagi ini putaran kedua. Ada seniman yang menganggap dirinya tak lagi wajib menghadiri perhelatan sastra terbesar di banua ini karena dianggap sudah selesai. Adalagi seniman lain yang menganggap sunah hukumnya, berhadir dapat pahala, tak berhadir tidak apa-apa, atau sebaliknya. Ada lagi seniman muda yang wajib sekali berhadir agar bisa eksis di sosial media meski sebenarnya dia tidak punya karya, yang penting bisa foto bersama. Macam-macamlah!

Pun seandainya ada orang yang menginginkan agar event sastra/seni/budaya sudah sepatutnya berbadan yayasan, memiliki funding yang jelas, kaya akan sponsor perusahaan besar, menggandeng penerbit mayor di Indonesia, mending bikin event lain yang agak mirip atau beda sama sekali. Biar kesannya tidak kasak-kasuk, atau jadi penumpang gelap, catatannya jadi gak asyik, nih!

Finally, ketika tulisan ini ditayangkan, teman-teman seumuran saya sedang getol-getolnya menaikkan pamor South Borneo Art Festival (SBAF) di Kiram Park, Kabupaten Banjar. Ini adalah pelaksanaan perdana. Yang sabar ya gaes! Gue bisa bayangin betapa lelahnya ngebranding acara begituan. Tetap semangat! hasilnya pasti memuaskan, kok. Jangan sampai, kelak ketika Paman Birin gak jadi Gubernur lagi, SBAF tak lagi jadi event tahunan. Salam perpisahan, lalu diarsipkan sebagai sejarah di rak tertinggi perpustakaan. Kan, konyol!

Di awal Desember mendatang, ada event sastra kepunyaan Banjarbaru di bawah perpustakaan berlabel Banjarbaru Rainy Day’s Literary Festival (BRDLF) yang akan dilaksanakan untuk kali kedua. Semoga sukses, gaes!

Egoisme di atas rata-rata!

Event seni dan budaya di Bali lahir karena keterpurukan, pasca Bom Bali. Sejumlah para pemikir, konseptor, pemerintahan, konsultan, seniman, pengusaha, pejabat, birokrat, dan segala tetek-bengek pariwisata memunyai visi-misi yang sama. Mengembalikan atau membangkitkan Bali dari keterpurukan. Melalui visa-visa pendatang dan uang-uang para pelancong berwisata. Salah seorang interpreter UWRF18 dari Cinta Bahasa Daniel Prasatyo kepada saya mengatakan, ini adalah moment daerah lain untuk “mencuri” para pelancong asing di Bali agar tidak mengendap. Masing-masing daerah di Indonesia memunyai keotentikan budaya yang orang asing menilai tidak bisa didapatkan di negaranya.

“Memanfaatkan visa mereka di Indonesia dengan rangkaian event budaya yang bergiliran. Setelah di Bali, mereka punya jeda waktu beberapa hari sebagai jarak tempuh untuk keluar Bali. Bisa ke Jawa, Sumatera, atau ke Kalimantan. Agar wisatawan asing tidak mengendap di sini-sini saja. Agar rejeki dari wisata bisa dibagi bersama-sama se-Indonesia. Agar wisata dan budaya kita di Indonesia tidak Bali melulu. Bali sudah terlalu penuh dan padat oleh orang asing,” katanya.

Event seni dan budaya kita di Banua lahir atas dasar keaku-akuan. Gak ada yang salah memang. Sama-sama bisa bersaing dan menaikkan pamor kedaerahannya, atau orangnya? Free memory! Sembari menyumbangkan PAD dan menggetolkan misi-misi pariwisata kedaerahan, kita bisa saling berbenah mau dibawa kemana sikap kita dalam berkesenian dan berkegiatan.

Catatan ini lahir atas dasar pemikiran pribadi tanpa pengaruh dari luar kepala. Ketika saya minta judul menarik apa kepada CEO asyikasyik.com, beliau jawab: MUN AKU KADA PEDULI [email protected]

Facebook Comments