Tinggal Sungai Ekok, mengalir penuh
penderitaan; musim kemarau surut
membenam nasib ikan-ikan hingga larut
di lumpur hitam.

Musim penghujan meluap
Merendam padi ladang, sisa kebun karet
dan sayuran busuk di batang

Siapakah yang akan menjadi penyelamat?
Tempat-tempat keramat
Telah lebur bersama hantu kebun
Milik raksasa-raksasa tambun
yang serentak menghambur
memangsa sungai dan hutan.

Danau Tiga, Hutan Payakumbuh, Rimba Batu menangis
Kehilangan mata air dan air mata,
dalam takdir waktu yang mengerkapnya

Seutas jalan aspal dan jembatan
memang membentang
Dari sisi ke sisi, tapi hanya mengantar lengang
ke dalam diri, ke dalam irama bosan
yang berulang pagi dan petang

Lebih banyak lagi jalan tanah menjalar
selicin sisik ular
Di dusun-dusun merana
Di mana kami, para pewaris ulayat ini, tersingkir
ke rumah-rumah kayu tua. Doyong dan kesepian.

O, suku tuha bumi Indragiri, teruslah bernyanyi
dan bersuara. Patahkan irama bosan
Nyanyian hantu kebun yang mengerikan
Bukan dengan gendang dan tifa. Bukan dengan tangis duka
dan keluh-kesah. Cukup dengan menyan
mantra-mantra perlawanan
dan tangan terkepal dalam kerja
pantang menyerah

Maka kelak akan bangkitlah gericik mata air yang tertimbun
parit kebun. Tegaklah tempat keramat di mana dukun
dan balian, batin dan kumantan kembali duduk dengan ritual,
bersiteguh mengusir roh pengganggu
di kegelapan jenis pohonan tunggal.

Hingga terjaga dan bangkit lagi Sungai Ekok
dengan ikan-ikan jinak di tangan.
Terbit lagi mata air Danau Tiga, jernih segala nampak
yang berenangan. Menangis haru Rimba Batu
Terlepas dari seribu tahun kutuk waktu
Hantu kebun hantu blau.

/2024

 

 

Kepada Taji Talang Parit
—Kelompok pemuda perawat benih

Hidup bertaji
Mati berarti

Tanamlah benih selagi hidup
Nafas dan humus akan menyatu
jadi siklus waktu
Di mana kau dan aku
Menjelma menjadi kita
Seperti pohonan tumbuh
berurat berakar di satu semesta.

Kau yang menjaga benih
Merawat semesta
Hakikatnya adalah jago bagi kita semua
Sebab kaki-tanganmu tiang bakti
bagi keselamatan bumi
yang sama kita jaga dan cintai.

Seperti taji seekor jago
Tak peduli muncul tersembunyi
di kaki. Bukan di kepala
serupa tanduk kijang atau rusa
dikagumi karena segera tampak dikenali
Hanya perlu waktu membuat segalanya berarti
dalam pandangan orang-orang hibuk
di gelanggang hidup ini.

Tapi arena hidup tak hanya gelanggang ramai, kawan
Ada tempat sunyi di mana seekor jago
akan berkokok sendirian
di luar arena di atas pagar. Lantang dan nyaring
Itu lebih merdeka daripada arena tanding
Lebih mulia ketimbang kepala kijang-rusa luka terpenggal
Jadi hiasan dinding rumah-rumah asing
tak dikenal!

Kawan, kita hanya perlu memilih
Sebab tak satu jalan
Wujudkan ikrar

Segalanya sungguh berarti:
Hidup bertaji, mati meninggalkan benih
Wujudkan akar,

Dan bunga-bunga liar,
Mekarlah, mekar! Buah-buah marginal
Masaklah, masak, bukan dengan karbitan!

2024

 

 

Di Belakang Rumah Dita,
Talang Sungai Parit

Di belakang rumah Dita
Ada sebuah lumbung
Di antara pokok manggis
Dan enau kolang-kaling
Tempat keluarga Dita yang manis
Menyimpan panen padi ladang. Berkarung-karung
Beralas tikar pandan dan rumbai.

Kadang ketela, sukun, cempedak hutan
atau limpahan hasil kebun yang lain
Semua mereka tarok di loteng lumbung
Menambah kekuatan pangan
Jaminan aman lambung dan tenang pikiran.

Sebuah blumbang sementara itu
Menampung air sumur dan tadahan hujan
Tempat ikan-ikan, seekor-dua ekor
dilepaskan Paman Briting
tiap kali ia pulang memancing
Seolah dengan begitu ia menabung
segobang-segobang.

Lumbung dan blumbang
Cukup jadi alasan untuk mengatakan
Keluarga Talang Mamak
Sadar pangan dan lauk makan
Sebagai simpanan abadi hadapi musim
Tak hanya dimasa paceklik
tapi sepanjang waktu begitulah keharusan
sebelum hantu lapar datang mencekik.

Masa sulit atau lapang, kesadaran menabung
dengan menyimpan hasil panen
tak akan dihentikan. Begitu ketentuan sejak moyang
Begitu para leluhur mengajarkan
Sedia payung sebelum hujan
Sedia pangan sebelum lapar

Tapi ketika kuintip isi lumbung
Ternyata kosong, kecuali beberapa lembar
lapik buruk, karung-karung goni berdebu
tanpa isian, dan keranjang lapuk di satu sudut
Ada pun di blumbang hanya sesekali ikan mengecipuk
Selebihnya diam, seolah blumbang itu
lubuk yang dalam
menyimpan cerita kekalahan.

Kupejamkan mata, teringat masa kecilku dulu
di pantai barat Sumatera
Tiap panen tiba, ayah menyimpan padi sawah
di dapur papan beralas tikar
Semacam lumbung juga
tak terpisah dari rumah
malah dekat ke tungku dapur
dari mana beras ditanak dan lauk-pauk dimasak
Tapi itu pun kini sudah tiada.

Persis lumbung padi keluarga Dita,
Padi di dapur rumahku sudah lama
tak lagi menggoda tikus-tikus lapar
dan ayam-ayam jinak di penjemuran
Sebab padi di sawah dan padi di ladang
sama-sama dicegat paceklik panjang
akibat kiamat lahan
Pupuk dan benih semakin mahal
sulit dari jangkauan
Dan pada saat panen yang payah,
para tengkulak ikut memalak pula.

Kini kamilah ayam-ayam lapar itu
Kehilangan pakan di lumbung sendiri!

2024

 

 

Facebook Comments