WAJAH itu belepotan cat. Dilingkupi gelap. Hanya warna-warna cat, dan tangan yang menutup sebagian wajahnya yang terlihat terang. Juga sebiji mata kanan yang menyorot ke depan. Tampak begitu ekspresif, sekaligus magis.

Self Portrait. Itulah judul lukisan karya Akhmad Noor (Banjarmasin), salah satu karya lukis yang dipajang dalam  Pameran Seni Rupa Banjarmasin 2019 bertema “Topeng”, berlangsung 15-18 Agustus di Gedung Warga Sari, Taman Budaya Kalsel. Tidak kurang dari 30 lukisan dipamerkan, karya dari 11 perupa Kalimantan Selatan.

Melihat karya-karya yang dipamerkan berdasarkan kurasi pelukis Misbach Thamrin ini, Kalsel sesungguhnya memiliki potensi para pelukis dengan masa depan cukup cerah.

Jika Anda sempat berkunjung kemarin, begitu memasuki pintu gedung dan tatapan lurus ke depan, di sana terpajang sebuah lukisan berukuran cukup besar yang hanya berupa kepala seorang bocah sedang mendelik ke arah kiri pada seekor lalat yang berdiri (atau berselancar?) di atas daun kering. Entah apa makna lukisan Badri ini, seorang pelukis muda asal Banjarmasin yang saat ini masih berstatus mahasiswa S2 di Solo.

Di sudut lain, juga terdapat lukisan Bandri, berupa potret dirinya. Dan bila diperhatikan, wajah bocah yang langsung menyedot perhatian itu, sejatinya kemugkinan adalah wajah Badri sendiri.

Lukisan-lukisan lainnya juga menunjukkan teknik yang mapan serta ide yang kuat. Seperti terlihat pada karya Daniel Sukamto Lie asal Banjarbaru. Salah satunya berjudul “The Game World from Time to Time”, yang menampilkan dua bocah bertopeng, satu bertopeng kertas koran, satunya lagi bertopeng robot plastik. Jelas sekali, lukisan ini coba menggambarkan perubahan waktu (zaman) dengan menampilkan media yang digunakan dua bocah ini dalam bermain, yang dipertegas lagi dengan permainan gasing di sisi bocah bertopeng koran, dan android di sisi bocah bertopeng robot. Juga, kaus yang dikenakan keduanya yang tampak menunjukkan perubahan waktu seperti tercetus dari judul lukisan ini.

Ada beberapa lukisan lagi yang cukup menarik untuk diamati. Tak terkecuali Umar Sidik, pelukis Banjarmasin, yang tetap setia dengan lukisan realisnya mengenai kehidupan tradisi masyarakat Banjar atau Dayak, seperti kehidupan di pasar. Juga ada perupa Hajriansyah yang menampilkan lukisan-lukisan minimalis yang disatukan, dengan talen sebagi media lukisnya. Pelukis lainnya yang karyanya ditampilkan, yakni Didi Agus (Batola), Muslim Anang (Banjarbaru),  Setyo Budiawan (Banjarbaru), M. Zaini (Batola), Sutarji (Tapin), dan Rizka Azizah Hayati (Kab. Banjar). Kesemuanya menunjukkan ciri dan estetikanya masing-masing.

“Seni rupa di Kalsel sebenarnya cukup menggeliat. Ada perubahan-perubahan dari tahun ke tahun. Sistem kuratorial juga lebih selektif. Cara display yang lebih konseptual, dengan pembagian ruang yang tidak monoton,” papar Hajriansyah, pelukis yang juga pengamat seni rupa yang telah banyak melakukan pengamatan perkembangan seni rupa, baik di Kalsel maupun luar.

Bilapun pameran seni rupa terlihat sepi, menurut Hajri, hal itu bukan soal. “Di banyak pameran di kota mana saja, pameran seni rupa memang tidak mengundang banyak pengunjung, kecuali ada pengerahan dari kampus atau sekolah. Tetapi substansinya bukan itu. Yang terpenting adalah perkembangan dan terus eksisnya seni rupa itu sendiri, serta apresiasi yang semakin baik walaupun itu hanya dari segelintir orang saja,” cetusnya.

Hajri berkeyakinan, dengan terus memberikan ruang ekspresi terhadap seni rupa di Banua, maka itu menjadi motivasi, yang ke depan bukan tidak mungkin akan lahir karya-karya luar biasa dari perupa Kalsel. Tak hanya pentas nasional, tapi juga internasional, selama para pelaku seni tetap konsisten berproses dan mengembangkan diri.

Barangkali, seperti lukisan wajah karya Akhmad Noor di awal tulisan ini, pelukis-pelukis Kalsel adalah wajah-wajah masa depan seni rupa yang (hanya) tersembunyi di sudut [email protected]

Facebook Comments