Balairung Sari telah padam, melipat Arkais Festival dalam ingatan. Sekarang, mereka berjalan dengan mimpi yang lebih besar: selatan jadi mercusuar sastra Kalimantan.
PULUHAN pelajar mahasiswa; seniman dan sastrawan berkumpul di balairung menikmati detik-detik terakhir penutupan Arkais Festival lewat pembacaan puisi Mas Husaini Maratus oleh JH Tanujaya.
Kata-kata mengudara. Suara dan rona Tanujaya mengalun perlahan—memintal suasana ke dalam kenangan.
Di barisan paling depan, keturunan Husaini Maratus, HM Yatrin berkaca-kaca matanya. Baris puisi ayahnya yang samar dalam ingatan masa kecilnya di Amuntai kini bergema di pusat kebudayaan Kalimantan Selatan.
“Beliau suka sekali menulis pakai pelikan dengan tinta warna hijau,” kenangnya.
Dalam puncak penampilannya, Tanujaya kemudian menjelmakan syair. Anak panah dan mandau di tangannya berkilat-kilat di bawah lampu balairung. Samar di belakang panggung terbaca sebuah kalimat yang terinspirasi dari perjuangan Husaini: merawat ingatan, menulis sejarah.
Jika hari pertama Arkais Festival dibuka dengan ingatan tentang perjuangan pahlawan sekaligus sastrawan Husaini, maka di hari penutupan para peserta seakan diminta untuk tidak pernah melupakan sejarah.
..

Founder penerbit indie Arkalitera, Rafii Syihab yang terlihat susah-payah saat memberikan sambutan karena harus gejolak emosinya sebab terbawa suasana, mengucapkan terima kasih kepada Yatrin yang telah meluangkan waktu membersamai para peserta Arkais Festival.
“Seluruh narasumber, para peserta dan seluruh panitia, terima kasih,” ucapnya terbata-bata.
Dia mengaku, tidak pernah menyangka perjalanan Arkalitera bisa sampai di sini. Setelah awalnya hanya menjadi mimpi beberapa anak muda yang mencintai sastra.
“Kami tidak akan bisa sampai di sini, tanpa dukungan para senior. Dukungan teman-teman semua,” ujar Rafii Syihab.
Dia pun berharap penerbitan Arkalitera ke depan dapat ikut berkontribusi untuk membangun eksosistem sastra, khususnya di Kalimantan Selatan.
“Festival telah usai, namun kami berharap semangat ini dapat terus terjaga.”
Sekadar diketahui, tahun ini ada enam belas komunitas sastra yang mendapat bantuan penguatan dari Kementerian Kebudayaan.
“Awalnya ada dua puluh komunitas, tapi empat mengundurkan diri karena tidak sanggup. Arkalitera adalah salah satu dari enam belas komunitas sastra di Indonesia yang tahun ini menggelar festival,” kata Tim Kerja Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian Kebudayaan RI, Willy Fahmy Agiska.
Di hari pertama festival, Willy langsung angkat jempol. Karena menurutnya keputusan Arkalitera mengangkat tema perjuangan sastrawan Mas Husaini Maratus lewat tema “Mahardika 1945-1950” akan memberikan dampak yang besar terhadap ekosistem sastra di daerah.
“Ke depan kita ingin ekosistem daerah dapat tumbuh dengan optimal. Salah satunya dengan mengangkat kembali karya-karya para tokoh dikenal agar dapat dikenal luas,” ujarnya.
Selama tiga hari mengikuti festival, selain dikenakan dengan sejarah dan karya Mas Husaini Maratus, para peserta juga mendapatkan pelatihan intens menulis puisi, esai dan cerpen dari para sastrawan dan akademisi di Kalimantan.
Di akhir acara, mereka juga mendapatkan satu buah buku gratis dari panitia. “Bahagia, dapat materi dari para penulis hebat. Juga dapat novel keren gratis,” kata Azizah salah satu peserta.
Peserta lainnya, Ahmad berharap kegiatan serupa dapat rutin digelar.
Sekadar diketahui, pemerintah pusat lewat Kementerian Kebudayaan sejak beberapa tahun terakhir memang getol memberikan penguatan literasi.
“Komunitas sastra yang ada di berbagai penjuru Indonesia adalah penggerak utama ekosistem sastra, penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, serta wadah berkembangnya ragam wacana sastra,” kata Menteri Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon dalam keterangan resminya.
Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa.@
























