Selasa, 13 November 2018
dunia kaos

UBUD-KOTABARU; TENTANG EGOISME DAN SASTRA MELULU

Mengkomparasi event sekelas Ubud Writers And Readers Festival (UWRF) dengan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) itu gak matching! Gak Apple to Apple gitu. Seperti kamu pakai android tapi berusaha yakinin ke orang-orang kamu adalah fanboy! Kan, konyol! Sebelum saya habiskan semua draft wawancara person to person, mari kita berbagi kata dan ide tentang event yang umurnya sama-sama beranjak dewasa tapi LDR-an. Ini cuma gara-gara saya baru selesai menghadiri keduanya dengan selisih waktu satu pekan saja setelah kedatangan di Banua. Saya kira masyarakat Kalsel pada umumnya patut bersyukur dan berbangga, terkhusus masyarakat sastra dan senimannya. Ada event tahunan yang berhasil merangsek masuk...

KETIKA NASRUDDIN MENCARI SESEORANG YANG KERAS KEPALA DI ARUS SUNGAI

Nasruddin memiliki seorang teman yang keras kepala. Sebut saja namanya Amat--karena ia sering memanggil Nasruddin sebagai Udin. Amat ini tipe pemberontak, atau katakanlah dalam bahasa halusnya "pejuang". Ia punya pendirian yang tak mudah ditundukkan. Meski kadang, atau malah sering, sebenarnya ia juga salah dalam menalar sesuatu. Tapi ia tetap tak mau kalah. Nasruddin sendiri menyukai Amat karena sikapnya, karena ia merasa sebagian dari dirinya mirip dengan Amat. Suatu hari misalnya, Amat didapati tetangganya--Nasruddin--tengah mencak-mencak soal tetangga mereka, Rustam, yang membiarkan ayamnya berkeliaran dan ikut memakan pakan ayam Amat. "Sudah kau tegur dia?" tanya Nasruddin. "Belum." "Kenapa?" "Aku kasihan sama ayam itu. Nanti ia akan dikurung Irus...

ARUH SASTRA; TUNGKU BARA, KARYA DADAKAN, DAN YANG MENGGELISAHKAN

ARUH Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XV 2018 di Kotabaru sudah di depan mata. Perhelatan terakbar sastra tahunan di tanah Banjar ini digelar 6 – 10 November 2018. Sejumlah agenda jauh hari telah dimulai, seperti lomba penulisan cerpen, penulisan puisi, dan film puisi. Tinggal nanti pada hari pelaksanaan, para pemenang diumumkan, dan menerima hadiah. Rangkaian kegiatan lainnya; pementasan, seminar, serta kemah sastra, akan berlangsung selama dua hari. Jadwal ASKS XV secara umum memang dimulai pada tanggal 8 November, sekaligus pembukaan. Dua hari sebelumnya merupakan kegiatan internal tuan rumah, Kotabaru, yang menggelar sejumlah lomba untuk para pelajar setempat. Jadi, para peserta dari...

RICHARD OH; SASTRA DAN FILM YANG SALING BERTUBRUKAN

Tidur terlalu larut malam dan bangun terlalu pagi itu membuat kepala berat sekali saat siang hari. Beruntungnya, cuaca siang di Ubud masih dalam konstelasi hangat. Gak sampe bikin leher mesti dilap pake selendang. Saya membuka mata di ruang Taman Baca dengan tumpukan bantal-bantal besar dan rak-rak buku di sekelilingnya. Tidak ada yang saya kenal dan tidak ada yang kenal saya juga, karena di sekitar adalah wajah-wajah western dan asia. Mungkin Singapura, philiphine maybe, atau tiongkok? Whatever! Beberapa orang lokal yang berlalu-lalang adalah mereka yang berkalung ID card volunteer. Saya bangun, duduk sesaat mengumpulkan nyawa. Pergi ke toilet untuk mencuci muka. Di...

PUISI-PUISI HENDRI KRISDIYANTO

Kepada Ibu Rindu Menggebu Kepada ibu rindu menggebu Memangkas jarak Dari kampung Sampai ke kota jauh Pada samudra yang membentang Wajahnya terbayang Menembus setiap hal Yang tak mampu dipandang. Mei, 2018 Tentang Rambut Ia tumbuh dari pohon mimpi Terurai saat angin menerpa, Kekasihku kerap mengelus Saat aku rebahan di pahanya yang lembut. Mei, 2018 Kepadamu, Fa (1) Sakitmu, Fa Adalah getir yang berdebar Dalam dada Waktu memang selalu mampu Menjelma segala hal yang pilu Tetapi, kenapa mesti kepiluanmu? Andai segala doa terkabul Kesembuhanmulah kuusul. Kafe Basabasi, 2018 Kepadamu, Fa (2) Berdosakah aku, Fa Bila cintamu kutanggung Dalam hati yang agung. Kafe Basabasi, 2018 Kepadamu, Fa (3) Engkau yang berada Di kota jauh Dengan rindu Jarakmu kutempuh. Kafe Basabasi, 2018 Suatu Malam di Desa Aku duduk di teras rumah Menatap setiap sesuatu yang mampu Kutangkap dalam pandang Di kaca jendela gerimis...

DJENAR MAESA AYU; TENTANG SENI MENCINTAI DIRI SENDIRI

Betelnut, Ubud. Sebuat tempat bersantai berlantai dua dengan panggung dan layar putih untuk hiburan. Sore itu menjelang petang, setelah saya melakukan obrolan hangat dengan Carma Citrawati, orang-orang ramai berbaris mengantre untuk Dee. Pintu belum dibuka. Saya tahu Dee baru usai check sound dan preparing melalui instastory Kadek Purnami dan @ubudwritersfest. Saya berada pada antrean, melihat-lihat jadwal screening film dan main program lainnya di waktu bersamaan melalui layar hape. Persis di samping pintu masuk Betelnut adalah pintu masuk sebuah resto. Di sana, keluar sosok seorang perempuan dengan tato mawar di tangan kanan yang memegang sebotol bir. Memantik sebatang rokok, menghembuskan napas...

CARMA CITRAWATI; ADAT BALI DALAM KUTANG SAYANG GEMEL MADUI

Ubud. Sabtu pagi. Dengan udara wangi yang menyelimuti. Bunga-bunga bertebaran di setiap persimpangan jalan. Sajen yang dibakar terselip pada patung-patung dewa-dewi. Kendaraan berhias kembang berlalu-lalang. Sepagi itu juga, saya bersiap mendatangi beberapa panel diskusi di Indus Restaurant, dan melakukan wawancara di siang harinya. Sepagi ini, bunga-bunga yang terangkai mesra semakin saya dapati bahkan di setiap kendaraan. Why? “Hari ini adalah hari raya, Mas! Hari raya Tumpek Landep. Makanya saya sekarang memakai pakaian adat. Begitu pun beberapa daerah di Bali. Saya juga harus pulang kampung mengupacarai beberapa senjata, sepeda motor, mobil, semuanya ada bunga-bunga, dan sekarang melakukan apa pun di kantor...

GURMEHAR KAUR, BOLLYWOOD, DAN SUARA-SUARA YANG TERBUNGKAM

Siang itu, Suasana Neka Museum sedang ramai oleh para peserta panel diskusi beberapa aktivis dari beberapa belahan dunia. Saya diingatkan kembali oleh Tiara Mahardika bahwa akan ada jadwal Interview dengan Gurmehar Kaur (GK), mahasiswi berusia 21 Tahun yang namanya melambung pasca bentrokan sengit di sebuah perguruan tinggi Universitas Delhi. Ayah Gurmehaur Kaur, Martir Kargil, warga India yang mati dalam konflik India-Pakistan. Ia menulis buku dan mempublikasikan buku berjudul “Small Act For Freedom” semacam kumpulan esai yang menyuarakan tentang hak dan kebebasan berpendapat. Majalah TIME menyebutnya sebagai “The Next Generation Leader”. Ia menjadi titik fokus debat nasionalisme dan menghadapi persidangan media...

NADJMI ADHANI, MIMPI 24 TAHUN, DAN IBUKOTA KEBUDAYAAN

SUARANYA tersekat. Hampir menangis, namun masih bisa ditahan. Mata sang walikota berkaca-kaca. Di bawah bangunan segitiga di tengah hutan pinus itu, dia tidak sekadar memberikan sambutan untuk acara Soundscape of Gurindam, sore Sabtu (27/10), namun juga sebuah kesaksian untuk mimpinya. “Sungguh, saya terharu, ingin menangis…” Sebentar dia terhenti. Mengatur napas agar keterharuannya tak berubah menjadi tangisan sesungguhnya. Setelah agak tenang, kembali dia melanjutkan kata-katanya dengan terbata-bata. “Ini adalah mimpi…, mimpi… ” katanya berulang-ulang. “Dulu, duapuluh empat tahun lalu, saat saya masih sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Banjarbaru, saya sudah punya cita-cita untuk melaksanakan kegiatan kesenian di hutan  pinus ini. Menjadikan hutan pinus...

SERIGALA YANG MENGENAKAN JUBAH DAN SERBAN NASRUDDIN

Di waktu mudanya Nasruddin suka mencari ilmu. Banyak tempat, dan banyak guru, ia datangi. Kadang di satu tempat atau satu guru ia bisa menghabiskan berbulan-bulan, bahkan betahun-tahun, untuk belajar. Setelah  masa yang cukup panjang itu ia merasa sudah saatnya berbagi pengetahuan. Ia pun pergi ke suatu daerah dan mulai menawarkan dirinya untuk mengajar. Namun tak satu orang ataupun sekolah mau menerimanya. Mereka beralasan sudah memiliki guru tetap. Berhari-hari ia berkeliling di daerah itu sampai bekalnya akan habis, padahal ia sudah berpuasa berselang hari untuk berhemat. Sampai saat, ketika terdengar kabar, bahwa serigala yang menjadi momok dan sering memakan hewan-hewan ternak penduduk...