Rabu, 20 Maret 2019





MUJICA

JIKA di kepala anda kata ‘miskin’ berarti kurangnya materi, maka itu tidak berlaku bagi Jose Mujica. Miskin dalam pengertian mantan presiden Uruguay ini bukanlah perkara materi—sesuatu yang superfisial. Ia nyaris tidak punya harta. Pada tahun 2010 kekayaan pribadinya tak lebih dari 1800 dollar AS atau sekitar Rp 18 Juta. Dan ketika menjadi presiden, gajinya yang berjumlah 12.500 dollar AS, ia sumbangkan setiap bulan sebanyak 90% untuk program sosial. Ia tidak pindah ke Istana Kepresidenan, namun memilih tetap tinggal di rumah milik istrinya di pinggiran kota Montevideo yang jalannya belum beraspal. Di rumah itu, pengawalnya hanya dua orang polisi dan seekor...

POLITIK TIANG LISTRIK DAN KEGALAUAN GENERASI Z

MASA remaja adalah masa yang tanggung sekaligus labil, saya bilang begitu karena saya sedang mengalaminya. Maka dari itu, tulisan ini sedikit-banyak lebih mendekati realitas dibandingkan tulisan-tulisan mengenai remaja yang ditulis oleh bapak-bapak generasi milenial ke atas. Saya adalah saksi anak-anak perempuan yang bergerombol, memakai lipstik tebal sekaligus bedak yang tak kira-kira untuk ukuran wajah manusia. Ada pula anak-anak lelaki yang konon kegantengannya bisa meningkat jika knalpot sepeda motornya dirombak. Saya juga saksi mereka yang mulai mengenal dunia politik dan mendiskusikannya di bawah atap sekolah. Memang saya belum cukup umur untuk ikut nyoblos tahun ini, hanya lewat beberapa hari setelah pemilihan baru...

PERJALANAN DEBU; “RIWAYAT PERJALANAN” FAHMI WAHID

KALAU bukan riwayat “perjalanan” lahir-batin penyair, apakah puisi? “Perjalanan” itu bukan hanya “perjalanan fisik”, bisa juga “perjalanan rohani”, “perjalanan spiritual”. Di buku kumpulan puisi tunggalnya (yang kedua) ini Fahmi Wahid (FW) menulis “riwayat perjalanan”-nya. Saya sudah lama mengenal FW, sejak akhir abad lalu (tahun 1990-an), saat ia kuliah di IAIN (kini Universitas Islam Negeri, UIN) Antasari, Banjarmasin. Sebagai mahasiswa yang bukan saja kuliah, tapi juga aktif berkesenian (terutama di bidang teater dan baca puisi), FW bergabung dengan (dan pernah menjadi ketua) Teater Pena Banjarmasin (TPBjm); komunitas seni mahasiswa yang (dipimpin dramawan dan penyair, almarhum Drs. H. Bachtar Suryani) merupakan binaan Kanwil...

TUTORIAL GANTI BAN SEREP BIAR GAK DIKIRA TUKANG BENGKEL

Menikmati minuman bersoda setelah kelelahan yang luar biasa itu ternyata benar-benar no bokis. Membakar lintingan tembakau yang baru dibuka dari bungkusnya juga jadi kenikmatan tersendiri. Memang tidak ada nilai-nilai kesehatan di antara keduanya. Tapi, nape jadi bisa belanja, nih? Dapat uang dari mana? Sa’e ni orang. Mari kita tarik garis waktu. *** Dari Al Karomah sampai ke Batas Kota itu memakan waktu kurang lebih dari sejam kayaknya. Hal yang paling beruntung pada pertengahannya adalah, saya tawakal, untung-untungnya mampir di kampus yang dulunya saya pernah kuliah di sana. Harap-harap cemas semoga kantin buka. Dan, keberuntungan itu saya dapati. Saya sempat ngemil walaupun ngebon....

TUTORIAL BERZIARAH AGAR GAK SALAH KAPRAH

Hari sedang mendung. Tapi tidak hujan. Gara-gara terbesit hati ingin makan di rumah Acil, jarak tempuh jadi bertambah lama. Saya tidak bilang waktu terbuang, tapi dari sana saya jadi merasa agar tidak mengharapkan bantuan manusia. Semoga tawakalnya makin kuat. Tapi belum mengukur sampai di mana batas kemampuan saya. Tau gak sih, gara-gara jalan kaki menyusuri jalan seperti ini, barus saya ngeh, oh ini nyaleg tho.  Di sini, si anu itu kah, oh dapil ini. Baru momentum jalan kaki sedemikian yang tanpa sengaja betul-betul terbaca rincian caleg-caleg kita ini, dari spanduk yang tersebar di penjuru-penjuru belokan. Sebagaimana yang telah kalian baca...

PUISI-PUISI NAILIYA NIKMAH JKF

SECANGKIR KOPI DI NATEH masih terlalu pagi di Nateh ketika aku dan keletihanku tiba hujan tadi malam menyisakan dingin menyimpan gigil pada baris pepohonan menitip riwayat pada bukit, gunung batu, dan hamparan kembang kuning perahu biru mengapungkan sesajen rindu sambil menafsir pesan rahasia sang meratus pada permukaan secangkir kopi aku lukis wajahmu dan seluruh kisah kita. Adakah yang lebih pahit selain jawaban yang disangkal kebenarannya bukan oleh sesiapa melainkan dari hatimu sendiri Nateh, 2019 MAAF, AKU PELUPA YANG BURUK Menganggap mereka tidak ada seperti yang kaupinta bukan sesuatu yang buruk Akan tetapi ada yang tidak bisa kita hindari sekuat apapun kita berupaya dengan atau tanpa komentar mereka takdir sudah benderang tanpa kita undang Kutitip catatan tentang sebuah kehilangan pada sepanjang jalan raya berdebu dari pagi hingga...

NASRUDDIN, RAJA, DAN KESAKSIAN SEEKOR KELEDAI

NASRUDDIN tak selalunya patuh kepada penguasa, apalagi yang dianggap zalim oleh rakyat jelata. Ia juga membenci mereka para penjilat di sekitaran penguasa yang zalim itu, yang menurutnya adalah orang-orang munafik serakah pemuja dunia. Suatu ketika Nasruddin dianggap berkomplot dengan lawan-lawan politik penguasa di negerinya. Orang-orang kritis ini memang selalu menyerang penguasa dan kroni-kroninya, terutama menyangkut kebijakan-kebijakan yang menyudutkan orang-orang kelas bawah yang tak berdaya. Satu dua kali salah satu dari orang-orang kritis ini yang dianggap sebagai tokoh makar dihukum dengan keras, untuk menyiutkan hati para pengkritik lainnya. Dan terbukti sesudahnya, banyak yang tak berani bicara secara terang-terangan. Meskipun, keberadaan mereka...

THE STORY OF ZEID SYIHAB DAN SEKELUMIT BERDIRINYA SYIHAB PHONE

Bermula dari ngejagain ponsel anak buah abangnya. Zeid, merasa mampu membuka ponselnya sendiri. Meski masih merasa belum terlalu lihai, tapi bisa. Dengan modal uang hasil menjual motornya 8 juta, ditambah jual hape pribadinya 1,5 juta, dan dikasih ibu uang 2 juta, dikumpulkan lagi beberapa sampai bertotal sekitar 12 juta. *** Awal Beponselan Saya mendengar kalimat "beponselan" itu jadi teringat masa ketika teman-teman dulu pasca lulusnya dari pendidikan lalu mau buka usaha. Motivasinya sesimple hitungan matematika. Kawannya Abang, ungkap Zeid, mampu mendapatkan 3 juta sebulan. Itu artinya, 100 ribu perhari. Jika seandainya ia jadi perawat semisal, (seperti niatnya di awal setelah lulus SMA)...

RIWAYAT SINGKAT LE FESTIVAL INTERNATIONAL DU FILM DE CANNES

TAHUN 1938, diplomat sekaligus penulis biografi Philippe Erlanger, kritikus film René Jeanne, dan Menteri Pendidikan dan Seni Nasional Jean Zay, datang ke Festival Film Venice memenuhi undangan pemerintah Italia. Akan tetapi harapan mereka tentang film bermutu yang bebas dari intervensi politik kekuasaan, ternyata jauh panggang dari api. Festival Film Venice tak lebih dari festival film yang bertekuklutut di bawah kaki fasisme Mussolini dengan memilih film Luciano Serra Pilota yang disutradarai Goffredo Alessandrini dan dibintangi oleh Amedeo Nazzari, Germana Paolieri, dan Roberto Villa, sebagai pemenang. Sepulang dari Italia, bersama kritikus Émile Vuillermoz dan René Jeanne, Philippe Erlanger meminta persetujuan Jean Zay...

TUTORIAL PINJAM SANDAL MASJID BIAR GAK TERLIHAT GOBLOK

Dear netijen yang maha correctly, Catatan ini adalah bagian kedua. Dulu sekali, sewaktu belum boleh ber-KTP, mama sempat marah-marah ketika saya tiba di losmen Baciro, Yogyakarta. Ditanya pulang dari mana, dengan siapa, pakai apa? “Jalan kaki, sendiri saja,”. Seperti biasa, mama menaburkan wejangan-wejangan khas kekhawatiran orangtua. Wajar, ya, umur saya masih belasan ketika itu. Sampai sekarang sebetulnya saya masih ingat jalan pintas/tikus dari pusat kota Yogyakarta ke Malioboro. Gang-gang sempit rumah dan kios tua. Entah, sekarang mungkin tergerus pembebasan lahan dan sudah diganti hotel-hotel dan losmen murah. Beda kasus tentu di Kota yang kita tinggali sendiri. Sedari awal saya sengaja tidak...