BAGAIMANA kita mulai dengan sebuah teori konspirasi? Namun, sebelum itu, kita harus bersepakat kalau alien itu nyata. Jika kau sudah sependapat dan mau membuang gambaran dangkal bahwa alien adalah makhluk humanoid berkepala batu bacan dan mata mirip magnet peluru, maka tulisan ini boleh kita lanjutkan.
Teknologi sekarang ini berkembang pesat dan kian menggelisahkan. Mungkin kita nggak pernah berpikir bahwa teknologi bisa mendompleng kerumitan otak manusia. Saat ini, beberapa orang lebih percaya menceritakan unek-uneknya kepada mesin kecerdasan buatan, yang secara otomatis, menciptakan wahana alienasi baru setelah media sosial. Kita emang nggak bisa menampik bahwa teknologi telah banyak memberikan maslahat dalam kehidupan modern.
Segala sesuatu mudah dijelaskan, segalanya dapat terjawab, segalanya secara cepat dikerjakan, segalanya gampang ditranskripkan dalam hitungan detik. Seturut dengan itu, manusia jadi nggak harus kerja keras menggunakan otaknya. Tentu, hal ini memunculkan harapan utopis bahwa tingkat tekanan mental di kalangan pekerja modern merosot. Logikanya sih begitu.
Karena itu, nggak heran bagi segelintir orang, alat yang kita sebut sebagai artificial intelligence atau AI itu adalah pembantu manusia dan bukan ancaman. Namun, bagaimana jika pernyataan itu dibalik: mungkinkah kita yang sebenarnya sedang diperbudak teknologi? Dan akan semakin mencengangkan jika ternyata pemegang stik konsol dari skenario hari ini adalah alien?
Untuk apa? Domestikasi, mungkin. Sebab, manusia adalah spesies yang berpikir dan egois dan keras kepala. Di sisi lain, manusia juga spesies yang rentan, terutama untuk hal-hal yang melenakan. Untuk mempertebal teori ini, bolehlah kita berspekulasi kalo Sam Altman, Dario Amodei, Elon Musk, dan Liang Wenfeng sebenarnya mitra alien dan bersekutu buat menjinakkan kita, umat manusia, untuk membangun peradaban baru atau entah untuk urusan apa.
Atau, kita cuma cawan petri. Eksperimen untuk menjadi bahan makalah di galaksi lain. Barangkali pertanyaan yang mereka ajukan adalah; apa yang terjadi pada spesies cerdas jika dikasih kenyamanan tanpa batas dan kehilangan gesekan? Itu pun kalau kita bersepakat manusia adalah makhluk cerdas. Atau kita merasa cerdas saja. Bahwa kecerdasan kita sebetulnya nggak ada apa-apanya bagi makhluk lain di luar dunia kita.
Soal teori ini, saya cuma mengarangnya. Namun kisah ini, atau sesuatu seperti kisah ini, menjelaskan satu hal, bahwa kecerdasan buatan mampu mendangkalkan pikiran manusia yang terbiasa aktif bekerja, atau dalam bahasa ringkasnya, menciptakan kemalasan berpikir. Ini sebuah konsekuensi. Bahkan Imanuel Kant pernah bilang, jauh sebelum AI terlahir, “ketidakdewasaan” manusia datang sebagai akibat kemalasan dan ketakutan untuk berpikir sendiri. Ia menyarankan satu obat: sapere aude. Beranilah memakai akalmu.
Namun, kita (atau hanya saya) nggak bisa enggak merasa cemas. Karena artinya, manusia akan semakin terseleksi. Persaingan kian sempit. Bakat yang diasah bertahun-tahun bisa kalah dengan mereka yang berlatih menggunakan AI dalam beberapa hari. Kecemasan ini bertambah binal saat melihat persoalan ini menjalar seperti belukar ke pelbagai bidang, termasuk kebudayaan.
Kasus yang paling sering dibahas soal penggunaan AI dalam sastra datang dari Jepang. Rie Kudan mengaku secara terbuka kalau 5 persen dari teks novelnya, Tokyo-to Dojo-to (2024), memakai AI seperti ChatGPT. Novel bertema fiksi ilmiah itu memenangkan Penghargaan Akutagawa, penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang. Lain kasus, pada September 2026, penyelenggara Goncourt di Prancis mencoret novel Thelyson Orelien dari daftar panjang setelah ada tuduhan ia menggunakan AI. Orelien membantah, tapi mengakui “kesalahan” plagiarisme pada karya sebelumnya. Penerbitnya, Boréal, menyetop promosi buku itu untuk sementara.
Sebagai pekerja media dan orang yang hobi membaca apa saja, saya sering menemukan banyak teks yang saya curigai dibuat dengan AI. Hingga saat ini, temuan saya cuma bisa sebatas kecurigaan. Saya nggak bisa berdusta jika saya beberapa kali melibatkan AI untuk berdiskusi atau mengedit berita, meski nggak sepenuhnya. Namun, dalam proses kreatif seperti menulis cerita pendek atau puisi atau esai atau novel, saya ogah menyertakan AI. Kenapa? Jawabannya sederhana. Lantaran AI, saya pikir, nggak punya detail indrawi sekuat manusia. Untuk menghasilkan sesuatu yang bisa menghantam nurani, membangkitkan gejolak emosi, nggak hambar, perlu perangkat yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
Meski begitu, dari aktivitas pembacaan sejauh ini, saya bisa mengendus pola yang dapat dilabeli sebagai “buatan AI”. Saya juga kerap berdiskusi dengan teman-teman yang memahami betul struktur penggunaan AI dalam suatu teks. Saya cukup miris, karena dalam beberapa perlombaan, juri masih kesulitan atau nggak bisa membedakan mana tulisan hasil AI (atau kerja sama dengan AI) atau bukan.
Jika terus dibiarkan, maka kita hanya akan berternak juara-juara palsu, yang cuma akan mengembangbiakkan kemalasan.
Yang saya ingin bilang kepada juri, khususnya lomba menulis, jika anda mendapati penulis yang nggak terdengar gaungnya sama sekali atau baru menelurkan satu-dua karya dan tiba-tiba dari satu karyanya kalian berdecak kagum, jangan segera memutuskan. Di era kiwari ini, semua orang wajib berskeptis. Apalagi ini urusan lomba. Periksa lagi. Jangan-jangan mereka yang anda pilih sebagai juara itu cuma cakap menggunakan AI. Kan sialan banget! Jika begitu, maka patutlah “Lomba Menulis Cerpen” kita ganti saja sebagai “Lomba Menulis Cerpen Pake AI” agar fair dan jelas. Sehingga kita nggak mesti berdebat apakah si ini lebihi layak sebagai pemenang dibanding si itu. Makanya, penting untuk juri peka dengan tanda-tanda dan cara kerja AI.
Tapi, saya nggak akan membahas itu panjang lebar. Belum. Untuk itu, jika anda mengharapkan saya membongkar pola yang saya curigai sebagai bikinan AI, maka tulisan ini akan mengecewakan.
Mari kita renungkan sejenak persoalannya. Saya kira, ada satu hal yang sukar diduplikasi AI dari manusia. Pengalaman hidup. Dalam pola yang sudah saya sebut, AI cenderung mereproduksi pola kepuitisan, tapi kreativitasnya bersifat komputasional. Berbeda dari kreativitas manusia, akarnya pada pengalaman hidup. AI enggak punya masa kecil, rumah, ingatan, bukan ingatan belaka, tapi yang dihayati. Pengalaman manusia datang dari proses mengalami dan merasa.
Tanpa pengalaman, kita mungkin nggak akan menemukan bacaan-bacaan hebat saat ini. Kita mungkin nggak akan membaca Bumi Manusia tanpa pengalaman Pramoedya Anantar Toer dipenjara di Pulau Buru pada tahun 1969 hingga 1979, di mana sebagian besar ceritanya dituturkan lisan kepada sesama tahanan karena ia dilarang menulis. Kita mungkin nggak akan membaca puisi-puisi pamflet Widji Thukul jika ia nggak aktif dalam gerakan demokrasi dan hidup di kalangan buruh. Kita mungkin nggak akan membaca Satu Hari dalam Hidup Ivan Denisovich jika Solzhenitsyn tidak mendekam delapan tahun di kamp Gulag. Kita mungkin nggak akan membaca Catatan dari Bawah Tanah karya Dostoevsky tanpa ia menjalani kerja paksa di Siberia sekitar empat tahun. Mungkinkah kita menemukan tulisan-tulisan seperti itu jika sebagian besar penulis saat ini sedang “mabuk AI”?
Namun, saya tak bisa membayangkan apa yang bisa dikerjakan AI generasi berikutnya.
Akhirnya, bagi mereka yang berani berkarya tanpa campur tangan AI, maka berteriaklah sekencang-kencangnya. Sapere aude! Dan bagi mereka yang sebaliknya, mereka yang bungah memenangkan lomba karena bantuan AI, apa sebutan yang lebih pantas daripada pengecut?t
Karena, sobat, betapa menyenangkannya berpikir dan berimajinasi itu.
Adios!@





























