KEBANYAKAN sastra kita hanya sepintas-lalu, ujar Budi Darma dalam pembuka salah satu esainya. Dalam esai itu dia mencermati persoalan sastra, termasuk soal kerja-kerja sastra yang dilakukan secara timpang dalam waktu yang teramat buru-buru. Sehingga karya yang dihasilkan terasa hanya akan berakhir cepat sebagaimana mulanya ia diproduksi dengan cara yang sama.
Di tahun Budi Darma menulis esai itu, jelas ia tak membayangkan bahwa di masa depan sastra bisa saja diproduksi secepat kilat melalui kecerdasan buatan. Masukkan prompt: bikin cerpen tema Kalimantan Selatan dengan sudut pandang orang tua karatan di sebuah desa. Selesai lah sudah. Ia bahkan tak hanya sepintas-lalu, tetapi lebih kilat dari laju industri kesusastraan itu sendiri.
Fenomena ini tentu jadi persoalan bagi orang yang benar-benar melakoni kesusastraan sebagai satu jalan hidup. Mereka yang bertungkus-lumus pada dunia ini tentu jengkel bukan main: kerja-kerja riset, ke lapangan, membaca banyak buku, semua hal itu bisa dilewati dengan begitu mudahnya. Sastra hari ini bisa diproduksi oleh anak-anak belum baligh dan hasilnya mungkin saja akan jauh lebih terstruktur dari sastrawan yang bertahun-tahun berupaya melegitimasi dirinya bahwa dia adalah penulis.
Selama satu tahun ini saya mengelola rubrik fiksi di Arkalitera, dan mendapati banyak upaya menjadi sastrawan dengan jalan yang kilat itu. Pernah pula, dalam satu lomba anak-anak sekolah, saya menemukan cerpen yang begitu gila rapinya. Saat itu saya adalah juri tunggal. Kalau tak salah ingat, waktu itu, ada sekitar dua puluh cerpen yang masuk. Sebagian besar adalah pemakai AI tidak profesional yang terlalu kentara untuk tidak diperhatikan. Selain dua hal itu, bagi masyarakat sastra Kalimantan Selatan, apabila kemudian membaca pertanggungjawaban juri pada sayembara cerpen tahun 2025 silam, di Aruh Sastra Barito Kuala, maka fenomena ini juga sedikit banyaknya disinggung, bahwa juri sempat memperdebatkan keautentikan karya salah satu juara.
Bagi saya, manusia hari ini jelas kalah dalam segala hal terkait produksi melawan mesin buatan: kuantitas, kerapihan teks, dan kecepatan. Maka dari itu, saya kira, apa yang tak mampu dilakukan mesin ini hanyalah memberi rasa pada tulisan.
Dalam hal ini, sastrawan saya kira sudah hatam benar bagaimana caranya pemberian rasa pada tulisan berarti juga ialah bersungguh-sungguh pada persoalan kreatifnya, termasuk soal waktu.
Dalam konteks cerita pendek, saya sejujurnya tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menulis cerita secara berkesinambungan dari waktu ke waktu, dengan cerita yang beda, selama kurun waktu, misalnya, sebulan.
Ketakmampuan saya jelas bisa dibantah dengan argumen yang lebih kuat oleh penulis sungguhan. Misalnya, salah satu mentor saya, Dadang Ari Murtono, pada suatu waktu bilang bahwa dia menulis novel paling lama dua minggu. Tapi, katanya, materi cerita harus sudah utuh, dan jangan terdistraksi dengan pekerjaan lain. Artinya dalam kurun waktu yang singkat itu, penulis haruslah menyelam-lamas dalam kubangan proses kreatif karya yang dia bikin.
Masalahnya, tidak semua kita bisa melakukannya.
Dalam skena kebudayaan kita, penulis yang bekerja penuh pada sastra sangatlah sedikit–kalau tak ingin dibilang bahkan serupa naga dalam tradisi kebudayaan lisan kita–terutama di Kalimantan Selatan. Menulis bagi pelaku sastra kita adalah kerja-kerja tambahan di samping usaha lain untuk bertahan hidup: guru, jurnalis, petani, montir, dan lain sebagainya. Sehingga jelas produktivitas menulis adalah persoalan yang amat memusingkan. Barangkali ada satu-dua orang yang mampu menulis secepat langkah kaki Nabi Adam, tapi kemudian kita lihat lagi: sebagus apa sih tulisannya? Lalu kemudian, setelah pertanyaan itu terjawab, muncul pula pertanyaan ini: selama apa karya yang ditulisnya bisa bertahan?
Saya sempat mengira bahwa perkara ini dipahami pelaku sastra kita melebihi apa pun, namun agaknya saya keliru.
Begini:
Beberapa minggu lalu muncul flyer pengumuman terkait sayembara Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang tahun ini bakal diadakan di Hulu Sungai Utara. Pengumuman ini begitu mengejutkan bagi saya: pertama, karena pengumuman ini begitu larut dari tanggal yang saya harapkan. Kedua, tentu saja tentang bagaimana panitia berupaya memperlakukan para penulis cerpen sebagai mesin produksi baru dalam hal kekaryaan.
Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan kali ini mengumumkan lomba sayembara menulis manuskrip cerita pendek dengan persyaratan seperti ini: maksimal dua (manuskrip) karya cerpen yang belum pernah dipublikasikan, diikutsertakan dalam lomba lain, maupun dipresentasikan dalam versi utuh. Karya yang dilombakan harus mengangkat tema “Sosial Budaya Masyarakat Kalimantan Selatan”. Naskah cerpen wajib merupakan karya asli peserta, bukan hasil terjemahan, saduran, jiplakan, maupun karya yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan. Manuskrip yang dikirimkan harus terdiri atas minimal 10 cerpen dan maksimal 12 cerpen. Setiap cerpen memiliki ketentuan panjang antara 1.500 hingga 2.500 kata. Periode penerimaan karya berlangsung mulai 15 Juni sampai 31 Juli 2026.
Empat puluh enam hari. Manuskrip. Sepuluh cerita. Belum pernah publikasi. Luar biasa. Seorang kawan sempat menanyakan apakah boleh cerita yang telah lama ditulis, salah satu panitia mengonfirmasi bahwa cerita harus baru. Dengan tema. Betapa takjubnya saya terhadap gagasan-kebudayaan ini.
Dengan rata-rata begitu, artinya penulis harus menyelesaikan satu cerita pendek selama empat hari dengan segala risetnya, dan harus terus disambung berhari-hari kemudian hingga sepuluh cerita pendek itu dapat diselesaikan.
Sayembara cerpen ini masalahnya berbanding terbalik dengan cabang lomba lain yang Panitia Aruh Sastra tawarkan. Dalam sayembara yang lain, seperti kisdap dan naskah drama, penulis dituntut hanya menulis satu karya, lantas kenapa di cabang manuskrip cerpen penulis diperlakukan begitu kejamnya? Apakah ada orang-orang yang mengira manuskrip cerpen adalah sama gampangnya dengan menulis satu cerita pendek berbahasa Banjar?
Catatan ini mungkin akan memperlihatkan secara gamblang betapa tak mampunya saya menulis cerita pendek dengan cepat. Baik. Tidak masalah. Pun saya mampu, sampai saat ini–beberapa hari menjelang batas akhir–saya masih tak ada niat mengirimkan manuskrip ke sana, meskipun saya memilikinya. Bagi saya jelas praktik panitia ini keliru. Mereka gagal memahami dunia cerpen sebagai satu unsur karya sastra yang menuntut ruang berpikir serius dan detail. Apalagi dengan tema yang sangat khusus itu. Saya yakin akan sangat banyak penulis yang menggarap tema secara dangkal, memasukkan satu unsur lalu menjahitnya ke dalam cerita lain yang sudah ada di kepala. Akibatnya hanya akan ada beberapa kemungkinan: pertama, tulisannya jelek. Kedua, gunakan AI sedikit-sedikit. Ketiga, penulis berbakat nan gigih pun terpaksa membuang sisi kreatifnya demi menyelesaikan manuskrip berhadiah ini.
Lomba-lomba seperti ini tidak akan menjadikan sastra, dalam hal ini prosa, ke arah yang lebih baik secara karya. Ia tak ubahnya semangat semu, yang seolah turut membantu menghidupkan gejolak kesusastraan, tetapi nyatanya menjerumuskan para pelaku sastranya pada kehancuran kualitas karya.
Jika pada Aruh Sastra sebelumnya saja, yang notabene punya jangka waktu lomba menulis lebih panjang, dan hanya satu cerpen, juri merasakan keraguan pada juara yang dia pilih. Maka apa jadinya dalam lomba manuskrip di Aruh Sastra kali ini?
Maka demikianlah saya akan sangat terkejut jika gagasan-kebudayaan ini diusulkan oleh seorang sastrawan, apalagi mereka yang selama ini menulis cerita pendek secara serius. Sebab saya kira, dalam hal ini, ia seutuhnya gagal memahami unsur-unsur sastra di luar aspek hiburannya, termasuk juga persoalan ekosistem sastra (terutama prosa) kita yang terseok-seok dengan beragam kemalangan yang ada. Ibaratnya: hidup segan, matinya kapan.
Sebagai salah satu orang yang juga menulis cerpen, saya merasa mereka memperlakukan saya seperti buruh pabrik yang dari pagi ke sore duduk manis mengetik cerpen di depan laptop. Betapa janggalnya fenomena ini.
Budi Darma, dalam esai yang sama dengan pembuka catatan ini, menulis bahwa: masyarakat tidak tahu bahwa menulis tidak sama dengan membatik, yang biasa dikerjakan oleh para janda pensiunan. Mereka menyangka, bahwa menulis dapat dipotong dengan mudah oleh kegiatan ini dan itu. Dalam masyarakat yang tidak intelektual, kerja intelektual dianggap sama dengan kerja pertukangan.
Panitia Aruh Sastra, dalam hal ini, saya yakin termasuk orang yang demikian itu. Terima kasih.@
Juli–2026






















