PADA Senin, 22 Desember 2025, dunia kesenian Banjar kehilangan salah satu penopang utamanya. Dalang Dimansyah akrab disapa Dalang Diman berpulang di usia 76 tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya sebuah laku panjang pengabdian terhadap wayang kulit purwa Banjar, sebuah seni yang tidak sekadar hidup di atas panggung, tetapi bertahan melalui ingatan, ketekunan, dan kesetiaan para penjaganya. Dalang Diman adalah satu dari sedikit dalang sepuh yang konsisten mendalang hingga akhir hayatnya, menjaga api tradisi tetap menyala di tengah arus perubahan zaman.
Lahir di Hulu Sungai Tengah, Dalang Diman merupakan putra juriat Barikin sebuah wilayah budaya yang memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan kesenian Banjar. Ia tumbuh dari lingkungan yang memandang wayang dan gamalan bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai laku hidup, sebagai sarana pendidikan nilai, dan sebagai pusat pengetahuan tradisional. Dari ruang-ruang kampung hingga panggung pertunjukan rakyat, Dalang Diman menjalani jalan kesenian yang ditempa oleh proses panjang, disiplin, dan kesetiaan.
Perjumpaan pertama saya secara langsung dengan Dalang Diman terjadi ketika saya tergabung dalam Sanggar Data Raska, sebuah sanggar wayang kulit purwa Banjar yang dibentuk oleh kumpulan dalang Kalimantan Selatan. Di ruang itulah saya pertama kali menyaksikan secara dekat sosok Dalang Diman: sederhana, tenang, dan nyaris selalu berbicara seperlunya. Namun di balik sikapnya yang bersahaja, tersimpan keluasan pengetahuan dan kedalaman pengalaman yang tidak mudah ditemukan hari ini.
Dalam jagat pertunjukan wayang kulit purwa Banjar, Dalang Diman dikenal sebagai dalang yang fasih membawakan cerita-cerita pakem, igalan wayang yang tegas dan jelas juga tutur suaranya yang begitu khas. Kepiawaiannya tidak hanya terletak pada penguasaan alur lakon, tetapi pada kemampuannya menjaga ruh cerita, struktur dramatik, serta etika penceritaan yang diwariskan lintas generasi. Ia mendalang dengan ketelitian seorang penjaga arsip lisan memahami bahwa setiap lakon bukan sekadar kisah, melainkan refleksi nilai dan pandangan hidup orang Banjar.
Dalang Diman juga dikenal sebagai dalang wayang sampir di wilayah budaya Barikin. Posisi ini menegaskan perannya sebagai figur sentral dalam spektrum pewayangan Banjar, yang mampu bergerak di antara bentuk-bentuk pertunjukan tanpa kehilangan akar estetiknya. Ia tidak tergoda untuk sekadar mengikuti selera zaman, melainkan memilih jalur yang lebih sunyi: menjaga kesinambungan.
Hubungan saya dengan Dalang Diman tidak berhenti pada perjumpaan artistik. Ia kemudian menjadi narasumber utama dalam skripsi saya tentang wayang kulit Banjar, dan berlanjut dalam penelitian tesis saya tentang gamalan Banjar. Dalam setiap proses wawancara, saya justru lebih banyak menerima nasihat daripada jawaban teknis. Ia berbicara panjang tentang pentingnya wayang Banjar dan gamalan Banjar sebagai pusat pengetahuan tradisional, sebagai ruang tempat nilai, sejarah, etika, kosmologi, dan identitas Banjar dirawat dan ditransmisikan.
Yang paling saya ingat, Dalang Diman tidak pernah membicarakan dirinya sebagai maestro. Ia selalu menempatkan wayang dan gamalan sebagai subjek utama, sementara dirinya hanyalah “urang yang menjaga”.
Nasihat-nasihatnya sederhana, namun mendalam: bahwa jika wayang dan gamalan kehilangan fungsinya sebagai sumber pengetahuan, maka ia akan tinggal sebagai tontonan kosong.
Pandangan ini memperlihatkan kejernihan berpikir seorang seniman tradisi yang memahami posisinya dalam sejarah panjang kebudayaan.
Selain kepiawaiannya mendalang, Dalang Diman juga merupakan penabuh gamalan Banjar yang sangat fasih. Dalam dirinya, seni tutur dan seni bunyi berpadu secara utuh. Ia memahami betul bahwa wayang tidak dapat berdiri tanpa dialog musikal yang hidup tanpa tabuhan yang mampu membangun suasana, emosi, dan makna. Kemampuan ini menjadikannya figur yang lengkap: dalang sekaligus musisi tradisi.
Lebih dari itu, pengetahuan dan laku keseniannya ia wariskan kepada anak dan cucunya. Di tengah krisis regenerasi seni tradisi, laku pewarisan ini menjadi bentuk perlawanan yang sunyi namun nyata. Ia tidak hanya menurunkan keterampilan, tetapi juga etos: kesabaran, kedisiplinan, dan rasa hormat terhadap tradisi.
Pengakuan atas dedikasi panjangnya hadir pada tahun 2024, ketika Dalang Diman mendapatkan pengakuan sebagai maestro dalam gelaran Panggung Maestro dengan mementaskan wayang kulit purwa Banjar. Penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan atas posisinya sebagai salah satu pilar hidup kesenian Banjar. Beliau diakui bukan karena popularitas, melainkan karena konsistensi dan kesetiaan.
Kini Dalang Diman telah berpulang Namun lakon-lakon yang pernah ia tuturkan, tabuhan gamalan yang pernah ia hidupkan, serta nasihat-nasihat yang ia tinggalkan, akan terus beresonansi. Bagi saya, dan mungkin bagi banyak generasi setelahnya, Dalang Diman bukan hanya seorang dalang, tetapi penjaga pengetahuan. Lakonnya boleh usai, tetapi warisannya akan terus hidup dalam tubuh wayang Banjar dan bunyi gamalan Banjar selama masih ada yang setia mendengarkan dan menjaga.
Selamat jalan wa, selamat mendalang di surgaloka.
Al-fatihah
























