Sudah santer dengar ungkapan kalau Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) kian ke sini hanyalah acara untuk melepas rindu, silaturahmi, antar penulis plus penggembira. Selebihnya pergelaran sastra. Tanpa wacana dan gagasan yang berarti mengenai kesusastraan terkini.
ASKS di Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU) yang berlangsung 30 Oktober – 1 November 2026, memasuki tahun ke-23 sejak pertamakali digelar di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS) tahun 2004.
Secara umum, acara tahunan ASKS berisi lomba-lomba; penulisan cerpen, kisah handap (cerita pendek berbahasa Banjar), puisi, terkadang ada juga lomba penulisan novel, naskah drama, dan pergelaran sastra. Jenis lomba-lomba yang dipilih itu sangat tergantung dengan panitia pelaksana setempat, yakni kabupaten/kota tempat ASKS digelar untuk memilih dan menentukan.
Ada satu yang wajib, yakni penerbitan antologi puisi karya penulis atau penyair asal Kalimantan Selatan. Lomba dan pengumpulan puisi antologi itu sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelum kegiatan digelar.
Para pemenang lomba-lomba itu akan diumumkan pada saat kegiatan dilaksanakan. Selain itu acara juga diisi dengan pertunjukan, sarasehan, seminar atau diskusi. Sepanjang belasan tahun ASKS, sudah ada banyak pembicara atau narasumber luar yang dihadirkan, di antaranya ada Sutardji Calzoum Bachrie, Korrie Layun Rampan, Raudal Tanjung Banua, Isbedy Stiawan, dan masih banyak lainnya lagi. Pun juga narasumber dari penulis Kalsel sendiri.
Namun belakangan, sesi seminar atau diskusi ini sepertinya kurang mendapat perhatian. Padahal, sesi ini sangat penting untuk membaca perkembangan kesusastraan, tidak saja secara lokal, namun juga nasional, bahkan global.
Untuk ASKS XXIII 2026 di Amuntai, hanya ada satu sesi seminar yang cukup kontekstual yakni Digitalisasi Sastra dengan menghadirkan Pratiwi Juliani dan Prof. Dr. Rusma Noortyani. Lokasi kegiatan terpisah dari panggung atau tempat utama kegiatan. Jadi, kemungkinan pesertanya adalah para undangan; para guru, dan sejumlah peserta ASKS yang memang tertarik.
Secara umum, sarasehan ini ujung-ujungnya membicarakan tentang keberadaan AI yang banyak “campur tangan” dalam urusan penulisan (kesusastraan). Sarasehan ini nyaris saja jatuh pada kekosongan wacana andai tak terselamatkan oleh Pratiwi yang menjawab berbagai diskursus tentang digitalisasi sastra dan AI.

Pratiwi yang hidup di lingkungan kepenulisan di Jakarta, tentu paham betul berbagai persoalan terkait tema yang dibicarakan. Ia membicarakan sekaligus menjawab bermacam pertanyaan, yang beberapa hal cukup penting dicatat di sini adalah:
“Setiap penulis tentu memiliki jejak, misalnya siapa penulis yang mempengaruhinya, ini salah salah satu yang bisa ditelusuri untuk memastikan apakah penulis itu menggunakan AI atau tidak,” ujar perempuan kelahiran Amuntai ini.
Pratiwi yang juga Ketua Yayasan Ricard Oh Kusastra Indonesia lebih lanjut mengatakan bahwa AI tidak memiliki jiwa. “Jadi, tulisan AI tidak bisa menangkap jiwa dari penulisnya. Dia (AI) tidak tahu bagaimana perasaan si penulis, hanya penulis itu sendiri yang mampu menuangkannya,” ungkapnya.
Tentu saja, selain hal itu, kita bisa juga mengenali pola-pola penulisan AI. Mereka yang sudah terbiasa atau melakukan riset kecil-kecilan mengenai AI, sudah pasti dapat mengenali pola-pola penulisan AI. Dan pengguna AI yang tak ingin pola-pola itu dikenali secara telanjang, pun mulai melakukan pengeditan untuk menghilangkan jejaknya, meski terkadang tetap saja bayang-bayangnya masih sering terlihat walau samar.
Mawarung, Mau Bagaimana?
Satu konsep kegiatan ASKS yang sebenarnya cukup menarik adalah: Mawarung, yang baru dimulai pada ASKS di Barito Kuala tahun 2025 lalu, dan kembali digelar di Amuntai.
Mawarung semacam “panderan di warung”, siapa saja boleh mengajukan diri untuk berbicara. Dan Ali Syamsudin Arsi (Asa) berlaku sebagai tukang warung, yang mengatur jalannya panderan di warung.
Tidak ada tema, tidak ada aturan. Siapa saja bisa bicara apa, termasuk juga membaca puisi. Jadilah bermacam hal disampaikan.
Misalnya Hajriansyah, ia mengiingatkan pentingnya dalam setiap aruh ada wacana atau gagasan yang menjadi perhatian bersama. “Aruh perlu mengetengahkan wacana atau gagasan apa yang saat ini krusial dan penting untuk dibicarakan atau didiskusikan bersama,” katanya.
Iberamsyah Amandit mengusulkan agar di aruh juga ada muatan ceramah. “Agar tidak hanya membicarakan sastra, tetapi ada juga muatan keagaamaannya,” ucap penyair bergelar Janggut Naga ini.
Sementara Gusti Indra Setiawan memberikan motivasi kepada para penulis pemula agar terus menguji karyanya ke gelanggang lomba-lomba atau penerbitan. “Jangan takut gagal. Kirim saja. Bila belum lolos, kirim lagi. Gagal lagi, kirim lagi,” katanya bersemangat.
Selebihnya, beberapa peserta aruh mengajukan diri untuk membaca puisi.
Tanpa ada aturan dan ketentuan bagaimana “Mawarung” ini, semua “panderan” yang disampaikan hanya semacam cetusan-cetusan belaka tiada tahu bermuara ke mana. Karenanya, perlu kiranya dibuat konsep yang lebih jelas lagi: mau bagaimana “Mawarung” ini.
Buku-Buku Terbit, Lalu Apa?
Ada banyak buku yang terbit– kebanyakan diterbitkan secara mandiri oleh masing-masing penulisnya, yang ditampilkan di layar kegiatan ASKS XXIII Amuntai 2026. Sayangnya, tidak ada satu pun buku itu dibicarakan.
Memang ada kecenderungan, tahun-tahun belakangan ini semakin banyak buku yang diterbitkan oleh peserta aruh. Buku-buku itu sebagian beredar secara gratis.
Ada baiknya, para penulis dengan bukunya diberikan tempat untuk peluncuran dan dibicarakan. Entah dengan narasumber yang membedah atau mengulas, ataupun cukup dengan penulisnya saja yang menyampaikan tentang buku yang diterbitkannya.
Setidaknya, kehadiran buku-buku itu mempunyai tempat untuk ditampilkan, syukur-syukur juga dibicarakan. Dan di ruang itu sedikit banyak akan terjadi pertukaran pengalaman maupun cerita dari buku-buku tersebut.

Panggung untuk Penulis Muda
Satu hal yang juga cukup penting dalam perhelatan aruh adalah perlunya memanggungkan penulis-penulis muda yang berkarya.
Kita tahu ada sejumlah penulis muda Kalsel yang berhasil meraih sejumlah pencapaian dalam berkarya. Misalnya lolos dalam seleksi festival sastra di Indonesia, atau karyanya tayang di media-media yang bergengsi, baik cetak maupun digital.
Ketekunan dan kegigihan mereka dalam upaya mempublikasikan dan menguji karyanya ke tingkat nasional, adalah satu hal yang patut diapresiasi sekaligus bisa menjadi cermin bagi penulis-penulis (muda) lainnya.
Tak dipungkiri, ada beberapa penulis muda yang telah bertungkus lumus dalam berkarya, menerima penolakan demi penolakan, kekalahan demi kekalahan, hingga akhirnya berhasil mendapat pengakuan dengan terpilihnya karya mereka dalam lomba nasional, festival sastra, maupun media.
Penulis-penulis muda ini pula yang intens mengikuti perkembangan kesusastraan. Pada mereka, ada banyak hal yang perlu didengar.bahkan dipelajari. Selain perlu juga mendengarkan apa-apa yang mereka harapkan dari ASKS ini. Bagaimanapun, mereka merupakan generasi penerus yang sudah selayaknya diberikan tempat.
TANPA ada upaya untuk mengetengahkan wacana atau gagasan tentang sastra terkini dalam sejumlah dialog atau diskusi, maka ASKS hanya akan menjadi tak lebih sekadar melepas kerinduan, silaturahmi, dan ajang pergelaran. Atau, jika boleh saya kembalikan kepada para peserta, apa yang sebenarnya kamu cari di ASKS?@

JUARA-JUARA LOMBA ASKS XXIII 2026 AMUNTAI, HSU
KRITIK SASTRA:
- Kuasa Mistisme dan Pewarisan Keahlian (Laili Halfi Syahrina)
- Membaca Kenangan, Identitas, dan Kesederhanaan (Aqila Gendhis Mazaya)
- Ketika Sungai Menjadi Gudang Tua (Muhammad Najib Setia Ardavan)
- Guru Helmi Hakim dan Puisi Bungul Bangsat (Muhammad Irfan Zulfani)
- Dua dekade Laku Puitika (Adnan Arinal Haq)
- Pengantin Imut (Raihan)
KISDAP:
- Bahual Tanah Bahaul (Mahfuzh Amin)
- Gatah Basarakan (Martini, S.Sos)
- Imbah Katam (Zulfan Fauzi)
- Kulikar Tambaga (Muhammad Rahmad)
- Badarau (Syahrul Chelsky)
- Bakul Purun (Apsari Pinani)
- Sarampang (Ali Arsi)
- Dadaunan Ragai Baguguran (M. Zaini)
- Pacah Aksara (Muhammad Saman)
- Janji di Taman Putri Junjung Buih (Aulia Noor Naima)
NASKAH DRAMA:
- Selama Masih Ada Tangan (Masruz Indigo)
- Kariau (Feryan Lamut)
- Pasar Subuh (Hadani Had)
- Buntat (Ahmad Faisyal)
- Jagau Palimbangan (Noza Kurniawan)
- Negara Dipa Tanah Air Mata (Hardiansyah Asmail)
- Kalang Terakhir (Naim Alkatiri)
- Museum Mamanda (Akbar Rizky Sholeh)
- Pulang Setelah Berpulang (Rizki)y Dermawan)
- Hadangan (Muhammad Ridho)
MANUSKRIP CERPEN:
- Air Jenazah (Muhammad Yusuf)
- Yang Tak DIwarisi Algoritme (Feryan Lamut)
- Hantu Kafir Merabun Kisah (Ra Oranje / Azhar Riyadi)
- Cincin Rawa DI Tahta Kaca (Rimbun Cahaya)
- Melabuh Huhuwas Jukung (Mahfuzh Amin)
- Titipan Dari Kampung (Amang Ipul) ((Rifki Alibata)
- Tanah Banua Di Antara 2 Arus (Masruz Indigo)
- Kisah Di Bawah Tanah (Risma Liyanti)
- Sisa Rasa Di Ujung Senja (Abdul Kadir)
- Ayo Kita Pulang Bunga (Ali Arsi)





























