LAMA tak terdengar kabarnya, Dialektika Sastra Menara Pandang kembali hadir di 2025 ini. Adalah Dewan Kesenian (DK) Banjarmasin bersama Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin menghidupkan kembali perhelatan yang diproyeksikan menjadi titik temu gagasan, karya, dan semangat kreatif generasi baru ini.

Dialektika Sastra Menara Pandang  dihelat dua hari, 12–13 Desember 2025, bertempat di Banjarmasin Culture Hub (Eks Rumah Anno), yang sejauh ini telah menjadi ruang budaya di Kawasan destinasi siring Sungai Martapura, Banjarmasin.

Dialektika Sastra 2025 ini dirancang sebagai ruang interaksi terbuka antara generasi penyair muda dan para sastrawan senior. Melalui forum diskusi, pembacaan puisi, bedah karya, serta sesi apresiasi sastra, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin.

‎Agenda Dialektika Sastra tahun ini mencakup Forum Penyair Muda Kalimantan Selatan, Lomba Baca Puisi Tingkat SMP se-Kota Banjarmasin, Panggung Puisi dan Orasi Budaya, Pameran Arsip Sastra, serta penganugerahan Puisi Hijaz Yamani. Kemudian, sebanyak 4 pembedah yakni HE Benyamine, Sumasno Hadi, Nailiya Nikmah dan Dewi Alfianti.

‎Sebanyak 14 penyair muda terpilih mengikuti forum ini, yaitu: Muhammad Daffa, Muhammad Irwan Aprialdy, Muhammad Jayadi, M. Rahim Arza, Wildanne, Arif Rahman Heriansyah, Syarif Hidayatullah, Muchlis Abdi, Fitri Sei Getas, Hadani Had, Murni Marfuah, Mahfudz Amin, Rezqie M. A. Atmanegara dan Aluh Srikandi.

Setiap peserta akan memperoleh buku antologi puisi berjudul ‘Pesiar Tanpa Berlayar’ sebuah kumpulan puisi Penyair Muda Kalimantan Selatan. Kemudian, terdaftar 61 siswa SMP se-Kota Banjarmasin turut berpartisipasi dalam Lomba Baca Puisi 2025, yang diselenggarakan dengan dukungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin.

Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, Hajriansyah mengenang bahwa forum-forum penyair memiliki sejarah panjang di Banjarmasin.

“Forum Penyair Muda ini menjadi penting, karena akan menjadi bagian dari rentang Sejarah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan yang digelar pada 18–19 September 1982 di Balai Wartawan Banjarmasin. Itu pula yang menjadi pijakan bagi tumbuhnya ruang apresiasi sastra di daerah ini,” ujarnya.

Sastrawan Micky Hidayat, yang merupakan bagian dari  Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan yang digelar pada 18–19 September 1982 mengajak masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya pegiat sastra dan pencinta puisi, untuk menghadiri dan memeriahkan Dialektika Sastra Menara Pandang 2025.

“Forum Penyair Muda menjadi ruang kreatif yang menampilkan penyair potensial dengan penguasaan teknis perpuisian dan kepekaan Bahasa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa istilah “penyair muda” tidak hanya merujuk pada usia, tetapi pada fase perjalanan kreatif seorang penyair. “Muda” dimaknai sebagai tahap awal yang sedang berkembang dalam menekuni dunia puisi. Meski demikian, peserta forum pada umumnya berusia di bawah 40 tahun atau berasal dari generasi 1980-an hingga 2000-an.

Micky berharap sesi pembahasan karya dapat berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh dialektika, sehingga membuka ruang argumentasi yang sehat antara penyair dan para pembahas. “Harapannya forum ini produktif, serta memperkaya wawasan kepenyairan bagi semua peserta, terutama para penyair muda,” tandasnya.(red)