Di saat kita sedang bingung, inilah salah satu tempat untuk pulang.

SEJAK siang, dia duduk di kursi barisan tengah, di sebelah kanan panggung utama. Sampai sore menikmati tiga penampilan teater berbahasa Banjar yang digelar di Taman Budaya, Kalimantan Selatan, Kamis (22/10).

Walau tidak terlalu mengerti bahasa yang digunakan para pemeran, Embi C Noer yang jauh-jauh datang dari Jakarta, mengaku bisa menikmati energi yang berhasil ditularkan dari oleh para pemain dari panggung ke penonton.

Poin yang membuatnya angkat jempol adalah, atmosfer teater berbahasa Banjar yang baru saja ia saksikan tersebut, ia umpamakan sebagai salah satu tempat pulang bagi seni panggung.

“Saya akan membawa kisah ini ke teman-teman di Jakarta,” ujarnya kepada wartawan.

Mengapa seniman teater ini begitu gembira?

Menurutnya, sekarang ini seni panggung, khususnya teater, berada dalam kondisi yang dia sebut “bingung”. Dan apa yang ia saksikan di Taman Budaya merupakan bentuk teater yang selama ini dirindukan banyak orang.

“Kamu orang teater? Bagaimana sekarang, bingung, kan? Nah, teater lokal seperti ini adalah salah satu cara kita untuk pulang,” ujarnya.

Fenomena bingung ini, menurut hemat saya, sebenarnya mengacu pada praktik-praktik teater yang berfokus pada aliran dan gaya (entah idealisme atau eksplorasi artistik), sayangnya melupakan esensi seni panggung itu sendiri, yaitu menghibur penonton.

Memang, dari tiga penampilan teater berbahasa Banjar yang sempat disaksikan Embi, mayoritas mempu mendapatkan apresiasi penonton.

“Saya menangis tadi habis nonton penampilan Sanggar Seni Rufaidah,” kata Cece, salah satu penonton.

Sekadar diketahui, ini sudah kali kedua Festival Teater Bahasa Banjar digelar di Taman Budaya. Penggagas festival sekaligus pendiri Teater Matahari, Edi Sutardi, mengatakan animo peserta meningkat sejak kegiatan ini pertama kali digelar pada 2025 silam.

Sebagai gambaran, dit tahun pertama, jumlah peserta yang ikut ada sebelas grup teater. Sekarang, jumlahnya meningkat menjadi sembilan belas grup teater.

“Yang juga agak berbeda itu, di awal tema mereka lebih kuat isu lokalitas. Sekarang, nampaknya lebih beragam,” kata Edi.

Kang Edi Sutardi (kiri) bersama Embi C Noer (kanan) saat berbincang dengan wartawan. (Foto: Zal)

Menurut Edi, tujuan festival ini digelar tidak muluk-muluk: sebagai tempat berkumpul, saling berbagi, dan syukur-syukur dapat memberikan hiburan kepada masyarakat.

Festival berlangsung hingga Minggu (25/10). Setiap hari ada empat sampai lima grup teater yang tampil, dari siang sampai malam.

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana pulang seperti yang dirasakan Embi, caranya cukup mudah. Tinggal datang ke Taman Budaya. Dengan Rp15 ribu, Anda sudah bisa menonton satu pertunjukan.

Apa, sih, asyiknya menonton teater?

Menurut Embi, seni panggung adalah seni terbuka, ada interaksi dua arah antara panggung dan kursi penonton. Berbeda dengan film, saat menonton teater, pengalaman setiap orang bisa sangat beragam; ruang interpretasi terbuka luas.

Itu terlihat ketika saya dan rekan saya, Musa Bastara, usai menonton Sasangga Hidup, pementasan Sanggar Seni Rufaidah. Menurut Musa, akting mabuk Azwa tidak logis, alias dibuat-buat seperti sinetron. Sebaliknya, menurut saya, akting Azwa justru realistis untuk jenis pementasan seperti itu—teatrikal.

Bagi musa karakter ibu dan anak di Sasangga Hidup keduanya menyebalkan. Sedangkan menurut yang saya rasakan, kedua karakter tesebut memilukan.

Apa pun itu, mayoritas penonton mengaku terhibur. Khususnya oleh penampil pertama, Naf’s dari IB Production. Akting ciamik para pemain dengan tema sederhana berhasil mengaduk-aduk emosi penonton.

Lewat kisah orang-orang sederhana di pendulangan intan, satu jam pementasan Naf’s mampu membuai penonton dalam tawa dan tangis. Dalam dunia teater, ini adalah bentuk hiburan mahal yang dicari apresiator.@