Semuanya sederhana; alunan lagu Banjar dari radio tua, kain compang-camping berlumur lumpur. Di atas panggung, sebuah keluarga pendulang intan terpekur meratapi nasib. Berhari-hari, mereka belum jua bersua intan. Mereka mulai putus asa, bahkan beberapa di antaranya menyesal telah meninggalkan ladang dan kebun.

TIBA-TIBA seseorang datang berlari sambil berteriak, “Ka, ulun kulihan! Ulun kulihan!”

“Kulihan si galuh?”

“Sabar, jangan takajut. Tenang, hirup napas dalam-dalam, sedalam luang galian.”

“Lakasi! Jangan sampai unda mati kada kawa behinak!”

“Ulun kulihan. Kulihan duit Rp20 ribu!”

Penonton tertawa.

Di atas panggung, keluarga itu pun kembali larut dalam perdebatan: apakah tetap bertahan di pendulangan atau menyerah dan kembali ke desa. Seseorang menyarankan agar mereka meminta saran kepada orang pintar di kampung yang pandai meramal tempat si galuh (intan) berada.

“Allahumma ala sayyidina Muhammad.”

Gempita salawat terdengar di kejauhan. Sebuah kabar sampai ke telinga mereka: keluarga pendulang lain baru saja mendapatkan intan sebesar telur puyuh. Lokasinya tidak jauh, dekat saja. Mendengar itu, harapan baru pun terbit. Mereka percaya, juga akan mendapatkan intan, semua hanya soal waktu.

Entah siapa yang memulai, keluarga pendulang ini kemudian asyik berkhayal apa yang mereka akan lakukan kalau nanti intan sebesar telur puyuh juga menjadi takdir mereka. Satu-satu memparodikan cita-cita mereka. Ada yang ingin naik haji, beli mobil, makan enak di restaurant mahal.

Namun, harapan mereka tidak bertahan lama. Seseorang tiba-tiba saja terlihat lemas, bersin-bersin, dan batuk. Si sakit pun ditanya apakah sebelumnya ia juga bersin di dalam lubang pendulangan. Mengetahui salah satu anggota keluarga telah melanggar banyak pantangan, keluarga pendulang kembali saling menyalahkan.

“Beadab, kada boleh menyambat intan, tapi sambatannya galuh! Hati-hati nyawa bepandir, liwar!”

Cukong yang bergelar hajjah juga ikut menyalahkan mereka. Sebelum pergi, ia kembali memperingatkan keluarga pendulang, tentang pinjaman yang belum dibayar. Sepeninggal cukong, pertikaian keluarga pendulang semakin hebat.

“Itu takhayul, ja! Lihati pandulangan di luar negeri, adalah buhannya baucap galuh. Ya, sama-sama intan jua. Jangan tapi diasi aturan di sini!”

Singkat cerita, beberapa anggota keluarga yang percaya kalau mereka tidak akan dapat intan karena pantangan telah dilanggar akhirnya menyerah dan memilih pulang. Sedangkan Si Bersin tadi bersikeras bahwa semua pantangan itu tidak ada hubungannya dengan kesialan mereka.

Lakon “Naf’s” yang dibaawakan IB Production dalam FTBB II di Taman Budaya Prov Kalsel, Banjarmasin, Kamis (22/10/2026). (Foto: ftbb II)

Si Bersin kemudian nekat mendulang saat senja, hanya ditemani anaknya yang masih kecil.

Tak lama kemudian, terdengar suara salawat. Si Bersin datang membawa intan sebesar telur puyuh. Anggota keluarga yang tersisa segera merubungnya, mereka bergetar-getar dalam bahagia. Intan berpindah tangan, dari satu orang ke orang lain. Sinar mata para pemain di atas panggung nampak berpendar-pendar.

Lalu, dari belakang, masuklah anak Si Bersin dengan langkah lunglai. Anehnya, Si Kecil tidak larut dalam kebahagiaan. Ia malah langsung merebahkan tubuhnya di atas balai-balai. Wajahnya pucat, kelopak matanya layu, kemudian terpejam dan tidak terbuka lagi.

Tidak dijelaskan mengapa si kecil meninggal, apakah karena keracunan saat mendulang. Hanya terdengar suara dari latar: “Ada nang datang, ada nang bulik. Harapan sudah datang, hilang nang sabakas.”

Lampu padam. Saya bersusah payah menahan gejolak emosi. Masih terngiang jerit pilu Si Bersin dan keluarganya ketika Si Kecil meninggal. Masih terasa perubahan dramatis mereka yang menari-nari karena mendapa intan, tiba-tiba harus tersungkur di hadapan jasad orang yang paling mereka sayangi.

“Hilman, sambat ja handak nukar napa? Makanan nang nyaman? Kita sudah sugih, Nak. Hilman, anakku!” Sengatan emosi para pemain di atas panggung masih terasa. Seakan-akan tragedi keluarga pendulang itu benar-benar baru saja terjadi di depan mata.

Saya terdiam usai menonton Naf’s. Terasa ada kepedihan yang enggan pergi. Mengapa rasanya begitu dekat. Apakah karena akting mereka yang ciamik, apakah saya terlalu sentientil? Lama saya merenungkan perasaan ini.

Entahlah, namun saya pikir IB Production dengan lakon Naf’s, menjadi terasa begitu dekat karena mereka hadir bukan sekadar sebentuk teater modern berbahasa Banjar. Tetapi, mereka juga hadir memperlihatkan semacam identitas Banjar itu sendiri. Tidak hanya membingkai kultur, lakon Naf’s juga, mencerminkan ironi masyarakat Banjar yang tinggal di daerah kaya. Intan menjadi simbol: kekayaan Banua tidak serta-merta menjadi sumber kebahagiaan masyarakatnya.

Dan menariknya, entah disengaja sutradara atau tidak, kesederhanaan karakter humoris masyarakat Banjar yang membuat penonton bisa tertawa di awal-awal adegan, justru berujung dengan tragedi. Pada bagian akhir ini emosi para pemain justru mengalir demikian kuat ke bangku penonton. Saya masih ingat, kesan lelucon di awal laokn tiba-tiba saja hilang tak berbekas lagi. Naf’s benar-benar hanya menyisakan: kepedihan.

Naf’s seakan mendesain lakonnya untuk membuat penonton merenungkan paradoks kehidupan: keberhasilan meraih kekayaan bisa berlawanan dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Bukankah ini yang sedang terjadi di Banua? Batubara, intan dan emas—sejak zaman Benteng Pengaron—bahagia macam apa yang sudah rakyat dapatkan.

Seniman teater Ariel Lawang mengatakan, bahwa teater Banjar memang seharusnya tidak sekadar seni panggung yang identifikasinya lewat naskah berbahasa Banjar. Lebih jauh dari itu, teater Banjar harus mampu menghadirkan identitas Banjar itu sendiri di atas panggung dengan semua reaitasnya.

“Secara umum karakter Banjar seperti itu. Walaupun misalnya intan ada di tangan, cita-cita ya naik haji, dan hal-hal sederhana lainnya. Banjar juga dikenal masih begitu lekat dengan kepercayaan tradisional. Bahkan, aku sampai sekarang kalau melihat saja kuning, tidak akan berani ke luar rumah,” kata Ariel mengomentari karakter pendulang Banjar dalam lakon Naf’s.

Dengan kata lain, IB Production nampaknya telah berhasil menampilkan sebuah karya yang jujur. Berangkat dari realitas kehidupan para pendulang di tanah Banjar. Mungkin ini sebabnya, penampilan mereka seakan menjadi cermin, salah satunya kegelisahan kita.

Menonton dari barisan kursi paling depan membuat saya begitu mudah larut dalam energi para pemain. Tawa mereka, jerit mereka, air mata mereka, semua emosi yang terpancar dari panggung membuat saya kembali menyadari betapa berharganya pengalaman menonton teater secara langsung. Jika ini kita sebut hiburan, pengalaman ini terasa mahal.

Seniman teater nasional Embi C Noer, yang juga sempat menonton pertunjukan tersebut, mengatakan Festival Teater Bahasa Banjar II 2026 merupakan salah satu jalan kita pulang. Pulang dalam arti kembali pada kerinduan tentang keindahan seni panggung yang tidak sekadar menjadi ajang penampilan artistik yang melupakan teater sebagai sarana komunal untuk merawat budaya.