TIBA di Tanjung, Sabtu (28/2/2026) sore—setelah menempuh perjalanan dari Banjarbaru dalam cuaca yang panas di dalam mobil travel yang kotor dan pendingin yang rusak, saya yang hanya satu-satunya penumpang menarik napas lega karena segera terlepas dari siksaan panjang selama empat jam lebih perjalanan di bulan Ramadan.
Melewati pintu gerbang Salam Ramadan 2 Tabalong, saya turun dari mobil, dan melihat ada puluhan tenda kemah telah tersusun secara melingkar, dengan ruang lapang di tengah yang pada malam nantinya akan dinyalakan api unggun. Di seberang tenda-tenda kemah, berdiri sebuah panggung besar ukuran 6×8 meter, dengan dua televisi besar di kiri kanannya, serta kursi-kursi yang telah tersusun menghadap panggung.
Saya berjalan menuju bagian lain, tepatnya area utama Sanggar Langit biasa berkegiatan. Dan saya melihat Pimpinan Sanggar Langit Ibu Lilis Marta Diana sedang duduk dengan anggotanya, Bintang Rafli—begitu nama populernya, sedang berbincang yang pastinya tentang kegiatan yang akan dilaksanakan mulai berbuka puasa hingga malam hari. Melihat kehadiranku, Ibu Lilis langsung menyambut ramah dan mengajak ke rumah tempat aku dan beberapa teman lain beristirahat—di sini ada HE Benyamine, Gusti Ardiansyah, Rafii Syihab dan Jaya.
Waktu berbuka puasa tiba, semua tamu undangan dari berbagai wilayah Kalsel, berkumpul di area utama. Usai berbuka, salat magrib, makan, kemudian dilanjutkan salat tarawih.

Panggung Besar dan Tak Sekadar Penampilan
Sekali lagi, panggung acara bertema “Ramadan Dipeluk Langit yang Bersujud” itu benar-benar besar. Di sanalah secara bergantian para perwakilan dari berbagai kabupaten-kota menampilkan pentas seni mereka; mulai dari baca puisi, tari, teater, musikalisasi puisi, bapandung, hingga lamut. Dan semua penampilan itu tampak dipersiapkan dengan serius, tak sekadar tampil saja. Ada Sanggar Pancarwarna, MAN 1 Tabalong, Rumah Kreatif Banjarbaru, Sanggar Cipta Sari HSU, dan Sanggar Matahari—sekadar menyebut sebagian dari para penampil.
Pada malam itu diluncurkan pula antologi puisi Salam Ramadan 2 dengan judul “Langit yang Bersujud” berisi karya para penyair Kalsel. Sebelumnya, pada siang harinya telah digelar Lomba Baca Puisi Tingkat SMP – SMA se-Tabalong.
Menyaksikan panggung dan penampilan itu, percayalah, bahwa itu bisa disetarakan dengan acara Tadarus Puisi di Banjarbaru, mungkin lebih, ataupun Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang dianggap event sastra tahunan terbesar di banua. Yang membedakan, kegiatan di daerah paling hulu Kalsel ini tidak cukup banyak dihadiri oleh para sastrawan ataupun seniman. Ada dua kemungkinan penyebab, pertama karena jarak yang cukup jauh, sementara sebagian terbesar seniman dan sastrawan bermukim di Banjarmasin dan Banjarbaru. Kedua, Salam Ramadan Tabalong ini baru memasuki tahun ke-2, sehingga belum sepopuler Tadarus Puisi Banjarbaru maupun Aruh Sastra Kalimantan Selatan.
Beberapa perwakilan dewan kesenian daerah dan seniman yang hadir di antaranya Ketua Harian Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Yani Makkie dan Kepala Disporabudpar Noor Purbani, Hasbi Salim dan Fahrurrazi Asmuni dari Amuntai, Masrus dari Barabai, Edi Sutardi dari Banjarmasin, dan sejumlah pegiatan seni lainnya. Terbanyak yang hadir adalah para pelajar Tabalong, dan penampil dari berbagai daerah.
Lepas tengah malam, acara diakhiri dengan menyalakan api unggun di sebuah tanah lapang dengan dikitari anak-anak muda. “Api unggun ini adalah nyala kata-kata,” teriak seseorang entah dari mana di antara mereka.
Lalu puisi-puisi dibacakan. Sampai kemudian tibalah saatnya untuk sahur bersama.

Dukungan Pemerintah dan Kerja Seniman Sastrawan
Keberhasilan pelaksanaan sebuah acara, tak terkecuali Salam Ramadan 2 Tabalong, sudah pasti tidak terlepas dari sokongan dana, yang dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tabalong. Tetapi, sebuah acara tidak hanya perkara dana semata. Yang terutama adalah kerja mereka yang merancang, mempersiapkan, hingga bagaimana pelaksanaan bisa berjalan dengan baik. Dan Sanggar Langit di bawah pimpinan Ibu Lilis beruntung memiliki pegiat seni sastra seperti Gusti Indra Setyawan dan Mahfuzh Amin—dua di antara yang lainnya, yang bekerja siang malam untuk menyukseskan kegiatan.
“Dua hari kita kada baguringan,” ucap Amin, memberikan kesan bahwa mereka bersungguh-sungguh dalam menyiapkan acara.
Seniman dan sastrawan di Tabalong bisa dikata cukup beruntung, karena pemerintah daerah mereka ternyata sangat peduli dengan kegiatan para senimannya. Ini terbukti, dalam acara Aruh Sastra Kalsel dan Tadarus Puisi Banjarbaru, mereka selalu hadir berombongan.
“Karena dana untuk dua even tahunan itu memang telah dianggarkan setiap tahunnya,” ucap Gusti Indra.
Maka, tak heran bila rombongan dari Tabalong selalu hadir di Aruh Sastra Kalsel dan Tadarus Puisi Banjarbaru secara “prima” lengkap dengan atribut kaos acara. Dan hal itu terasa jomplang dibanding perwakilan seniman dan sastrawan dari beberapa daerah lainnya, yang seringkali hadir hanya karena inisiatif sendiri, dan tentu saja biaya sendiri.
Dari kenyataan itu, meski obor di simpang Tabalong tak lagi menyala, kita bisa melihat cahaya yang terang dalam perkembangan seni dan sastra di Tabalong, hulu banua. Tentu saja, hal itu mesti ditunjang dengan peningkatan kapasitas generasi muda mereka dalam hal seni dan sastra, semisal melalui program-program workshop dan pelatihan lainnya.
Demi telah menyaksikan rangkain Salam Ramadan 2 Tabalong, siksaan di dalam mobil travel yang kotor di bawah panggangan matahari saat berangkat terasa telah terbayarkan. Dan syukurnya, ketika pulang ke Banjarbaru aku dan HE Benyamine mendapat tumpangan mobil Gusti Ardiansyah yang kebetulan hanya berangkat sendirian. Diguyur dingin ac, aku lebih banyak meringkuk tidur pada perjalanan yang tak kalah panasnya pada hari sebelumnya itu.@


























