:Ulasan Kumpulan Puisi Puisi Penyair Muda Kalimantan Selatan “Pesiar Tanpa Berlayar”
SAYA ingin menyampaikan hal yang sederhana. Siapa saja boleh menulis puisi. Sesiapa yang beranggapan bahwa menulis puisi adalah cara untuk mengungkapkan perasaan secara puitis, boleh menulis puisi terlepas dari apakah puisinya memang puitis atau tidak. Sesiapa juga boleh setuju dan berpegang pada teori yang mengatakan ‘apapun bisa jadi puisi sepanjang ia dimaksudkan untuk menjadi puisi.’ Boleh saja sedemikian. Tapi, lain halnya dengan penyair, atau sesiapa yang melabeli diri mereka sebagai penyair. Orang-orang ini harus bekerja lebih keras untuk menciptakan puisi, bukan pengungkapan perasaan an sich. Ada karakteristik puisi yang mau tidak mau, pandai tidak pandai, harus dipenuhi oleh larik-larik yang mereka tulis agar bisa disebut puisi yang sebenar.
Anggap saja bentuk merupakan karakteristik puisi yang penting. Tapi jelas bukan utama. Pendefinisian bentuk puisi secara tradisional dengan menyebut ‘rangkaian kata yang membentuk larik dan larik membentuk bait’ tentu masih boleh digunakan. Tapi ia bukan legitimasi utama satu tulisan bisa disebut puisi. Coba saja satu paragraf tulisan Stephen Hawkings dari The Theory of Everything diubah dari mode paragraf biasa ke mode larik-larik yang membentuk bait. Apa ia lantas boleh disebut sebagai puisi? Puisi bernuansa prosa berbeda dengan prosa yang ditulis mengikuti struktur puisi. Yang pertama adalah puisi, yang kedua adalah prosa.
Lalu bagaimana seharusnya puisi yang perlu dikerjakerasi mereka yang menasbihkan atau ditasbihkan sebagai penyair? Kembalilah kita pada buku Theory of Literature Rene Wellek yang klasik itu di mana puisi didefinisikan dari karakteristiknya. Karakterisitik itu juga bukan klaim Rene seorang, ia konsesus yang diamini secara umum dalam jagat perpuisian. Puisi adalah puisi jika ia estetis dengan gaya bahasa dan ungkapan tertentu dengan ciri khas bahasa yang dipadatkan, multiinterpretasi alias memiliki lapis-lapis makna atawa bermakna kias atawa makna tak langsung, dan merupakan konstruksi yang unsur-unsurnya saling berhubungan untuk membentuk makna tertentu. Dengan demikian puisi bagi penyair bukan sekadar luapan ide, pikiran, dan perasaan yang kemudian dituliskan dalam bentuk laiknya puisi tanpa benar-benar berjibaku untuk berusaha memadatkan bahasa hingga tiap kata puitis yang dihasilkan membentuk makna mendalam yang perlu diselami alih-alih muntahan sekumpulan kata yang diklaim (secara sepihak oleh si penulis)sebagai indah dan puitis.
Dalam menulis puisi, penyair mau tak mau perlu berpegangan pada prinsip pemenuhan karakteristik mendasar puisi di atas dalam rangka mentasbihkan puisinya sendiri sebagai puisi sejati. Tak terkecuali para penyair muda yang menulis di Kumpulan Puisi Penyair Muda Kalimantan Selatan dalam forum Dialektika Menara Pandang 2025 bertajuk “Pesiar Tanpa Berlayar”. Dari 7 penyair yang saya diminta untuk mencermati puisi-puisinya, dapatlah saya membagi mereka dalam dua kategori utama, yang benar-benar berkhidmat dalam menghasilkan puisi dan yang masih abai dalam pemenuhan karakteristik puisi itu sendiri.
Mereka yang masih abai tampak dari rangkaian larik yang mengesankan penuh rongga alih-alih padat, menggunakan bahasa dengan ungkapan dan idiom yang sudah demikian lazim ditemui dalam percakapan sehari-hari sehingga kita perlu menanyakan apakah ini puisi atau percakapan sehari-hari dan tak tampak berusaha menemukan ungkapan estetis yang terasa segar, terasa baru, serta tak berkomitmen pada pentingnya lapis-lapis makna. Seakan puisi memang sedemikian itu, dibaca sekali, paham sudah pembaca layaknya membaca catatan harian lalu sudahlah. Tak banyak makna yang bisa diendapkan karena semua terang benderang. Meski di sisi lain, dalam upaya menghindari terang benderangnya makna puisi, ada juga puisi-puisi yang lapis maknanya dibuat serumit labirin permainan kata sehingga terkesan enggan untuk ditafsir, yang justru menunjukkan konstruksi yang tidak utuh
Tergolong dalam mereka yang abai menurut saya adalah puisi-puisi Mahfuzh Amin dan Hadani Had, serta boleh lah juga disertakan juga puisi-puisi Rahim Arza. Apakah menurut pembaca ungkapan-ungkapan seperti ini terasa tak asing alias sudah sering diulang-ulang dalam berbagai konteks?
Jika kamu hanya bisa mencuci tangan sebelum makan
Tak usah naik panggung menjadi sok jagoan
Alih-alih menjadi pengguk yang merindukan bulan
(Pelajaran Cuci Tangan – Mahfuzh Amin)
Atau larik-larik ini,
Sejurus pandang ke tengah laut
Awan-awan berarak menggumpal
Menghitam sehitam batubara
Yang kau renggut dari hutan perawan
(Laut yang Menjelma badai – Hadani Had)
Juga ini,
Banyak orang-orang
lupa diri, ia adalah manusia
tanpa kita, tanpa makna
tiada lagi berguna selain
bersama, menyongsong asa
yang kini jauh dari mata
; hati kita
(Puisi Keberagaman – Muhammad Rahim Arza)
Rasanya memang telah cukup umum ungkapan dari larik-larik di atas, setidaknya sepembacaan saya.
Lapis makna macam apa yang bisa dikupas pelan mendalam ketika tiap larik sudah terlampau transparan menunjukkan maksudnya. Saya tidak bicara tentang tema satu puisi utuh yang dengan pembacaan sekilas mungkin kita bisa tebak arah pengungkapannya tentang apa, tapi lebih pada jejalin kata per kata yang membentuk larik-larik, dan larik-larik yang membentuk bait. Pembacaan puisi menuntut pemaknaan bahkan di tiap katanya. Dan sebagian besar puisi Mahfuz, Hadani, dan Rahim seabai itu dalam menuliskan tiap kata dalam puisinya: abai terhadap kepadatan bahasa, satu larik ditulis dengan 5-6 kata padahal bisa diwakili oleh 1-2 kata; abai dalam menjadikan puisi hadir dengan lapis-lapis maknanya; dan abai dalam pemilihan diksi dengan ungkapan puitis yang tidak klise.
Mukhlis Abdi ‘bernasib’ lebih baik. Saya melihat puisi liriknya cukup berkomitmen sebagai puisi. Pilihan kata dengan ungkapan, idiom, dan gaya bahasa yang meski sebagian besar tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar orisinil dan segar, namun dipilih dengan mempertimbangkan keutuhan dan kepaduan unsur-unsurnya. Ia juga cukup berkomitmen terhadap kepadatan bahasa -yang itu tidak ditemukan dalam puisi-puisinya yang bukan puisi lirik.
Mereguk gemuruh desir arus berliku
Meresap diantara celah retak batang tubuh
Menggenang dalam cekungan surut berlumut
(Membatu – Muchlis Abdi)
Larik-larik di atas menawarkan semacam kebaruan dalam mengungkapkan peresapan perasaan terhadap sesuatu. Terlebih jika puisi ini adalah puisi sufistik (yang mungkin tidak dimaksudkan penyair seperti itu) maka ungkapan yang digunakan, mengambil idiom alam untuk mengungkapkan kedekatan dengan tuhan memang hal yang tepat dilakukan mengingat alam selalu dikaitkan dengan tuhan sebagai salah satu bentuk ciptaan-Nya yang paling jelas eksistensinya.

Selanjutnya, berbicara mengenai puisi-puisi penulis muda lainnya, Rezqie M.A. Atmanegara dan Irwan Aprialdy, artinya kita bicara tentang kutub yang berseberangan. Alih-alih abai, puisi-puisi keduanya justru demikian serius, utamanya dalam memikirkan estetika puisi dalam tiap diksinya. Puisi-puisi Rezqie misalnya, sebagai satu konsistensi yang dijalaninya bertahun-tahun ini, agaknya mengusahakan tiak larik ditulis sepuitis mungkin. Pada satu sisi estetika puisi tak diragukan lagi, namun di sisi lain, jalinan kata yang terlalu berkhidmat pada sisi estetika menyulitkan pembaca untuk benar-benar masuk menyelami kedalaman puisinya. Terlebih, konsentrasi pembaca juga mudah terpecah dalam proses pemaknaan ini ketika Rezqie mencampuradukkan dua bahasa dalam satu puisi dengan proporsi yang hampir sama besar. Bahasa adalah bahan bakar utama puisi. Satu Bahasa akan membangun satu sistem pembacaan tertentu bagi pembaca untuk mereka mencoba mengkonsumsi puisi itu secara utuh, namun lebih dari satu bahasa justru akan menyulitkan proses itu. Hal itu seperti pembaca memasuki ruangan, berniat melihat dengan seksama ruangan itu lalu bertemu ruangan lain yang harus juga dimasukinya. Pembaca akan terombang-ambing di antaranya.
malam terakhir pelepasan aruh
sekar-sekar ringgitan merapuh
senandung serunai merengkuh
dendang gendang tuntun langkah
sadamak bujuk rayuan memanah
di bibirmu membubuh gincu merah
mengalungkan selendang ke leher
galang hiyang manggarancai
mamacah balah tanah malai
babangsai diyang ai babangsai
basasah langkah dipupuh sarunai
turun dayang hanyar balatik
sanjutainya jua diputik warik
lantik mata diyang ai malirik
alahai dimapa hati kada tagirik
(Babangsai – Rezqie M.A. Atmanegara)
Banyaknya catatan kaki juga mempengaruhi kontemplasi pembaca dalam menemukan makna puisi. Semakin banyak catatan, semakin terdistraksi. Dan Rezqie agaknya gemar menulis catatan-catatan kaki ini.
Rezqie adalah penyair Kalimantan Selatan yang memiliki komitmen kuat untuk mengangkat segala hal mengenai budaya Banjar dan Dayak di daerah Banjar Hulu. Komitmen itu pula yang membuat puisi-puisinya istimewa dan mengantarkan muatan puisinya dipenuhi ungkapan budaya khususnya unsur adat dan tradisi. Namun, penting baginya untuk bisa membawa lokalitas dalam puisi-puisinya pada keterbacaan yang bersifat global hingga bisa dinikmati sesiapa pun.
Kemampuan membawa konteks lokal dalam khazanah global sesungguhnya berhasil dilakukan Irwan. Nuansa ‘berkiblat pada barat’ tampak jelas dalam puisi-puisi Irwan, bahkan saat ia bicara tentang lokalitas. “Surat-Surat dari Jalan Wilhelmina” adalah contoh jelasnya.
allahummaghfirlii wa liwaalidayya warham huma kamaa rabbayaanii shaghiiraa….*
ma, aku pulang hanya untuk singgah: Belitung kita
yang purba. kusebut ia Jalan Wilhelmina
sebab aku belum merdeka. Banjarmasin 2025:
cerita apa yang kubawa di depan pusara?
(Surat-Surat dari Jalan Wilhelmina – Muhammad Irwan Aprialdy)
Saya bisa katakan di sinilah keunggulan dan ciri khas sekaligus kelemahan Irwan sebagai penyair. Model puisi semacam ini jarang sekali ditemukan di antara penyair Kalimantan Selatan. Namun di sisi lain, penggunaan idiom dan ungkapan yang sophisticated semacam ini juga cenderung menyesatkan pembaca yang ingin menemukan makna. Irwan membentuk labirin kata-kata sekaligus belantara ungkapan dalam puisinya yang justru membuat puisinya terasa tidak utuh, jomplang. Riuhnya diksi sarat estetika namun menyulitkan proses menyelami kedalaman makna.
Terakhir, karena preferensi adalah hal yang inheren dalam menikmati sebuah karya, puisi-puisi siapakah yang menjadi kesukaan saya di kumpulan ini. Pilihan saya jatuh pada puisi-puisinya Wildanne. Saya tak tahu ia bekerja sekeras apa untuk puisinya, namun saya melihat usahanya dalam memenuhi karakteristik sebuah puisi sudah memadai. Ia memilih dengan cukup cermat kata-kata. Cukup padat dalam pandangan saya. Beberapa idiom dan ungkapan yang digunakannya terasa segar. Saya seperti belum pernah mendengar ungkapan puitis ini sebelumnya,
Bisakah kita bicara tentang gurat-gurat sungai
kian mirip seperti bulu tubuhmu yang berdiri
seperti keriput jari, terlalu lama kita mandi
(Penumpang Maha Mahakam –Wildanne)
Atau sudah? Tapi ini sungguh tak umum ditemui.
Akhirnya, saya menaruh harapan besar bagi para penyair di kumpulan ini, terlepas dari apakah mereka telah sungguh-sungguh bekerja keras untuk puisinya atau belum. Saya ingin meyakini pembacaan saya atas puisi-puisi mereka di tahun 2025 ini menjadi awal untuk kemudian saya bisa menikmati karya agung mereka yang bisa saya temukan beberapa tahun, belasan atau puluhan tahun berikutnya. Semoga.@

























