Naskah karya Hamdani ini diadaptasi Teater Mahakam untuk Festival Teater Berbahasa Banjar II
2026 di Taman Budaya Prov Kalsel, Banjarmasin. Seorang pemimpin tua bermimpi dipaksa lengser, lalu mimpi itu menjelma menjadi kenyataan, dan akhirnya menjadi tontonan.
PANGGUNG sepi. Seorang lelaki tua tertidur nyenyak. Bayang-bayang mengelilinginya, makin dekat dan keras: “Bangun, Sukibar! Turun!”
Mereka menyebut Sukibar sudah tuha, uzur, ketinggalan zaman, “kaya hadangan” (seperti kerbau rawa), lamban, bodoh. Anggota kelompoknya hidup pas-pasan, sementara grup lain sudah memandang hina.
Sukibar menolak. Menurutnya, ia satu-satunya seniman yang bisa menyatukan seni tradisional dan modern.
Itulah pembuka TUHA, naskah yang dalam bahasa Banjar berjudul sama dengan kata untuk “tua”. Enam pemain memainkannya. Sukibar, Markonah, Sukat, Kacil, Anang, dan seorang Prajurit.
Sepanjang pementasan, satu pertanyaan terus membayangi. Siapa yang berhak memimpin sebuah kelompok seni ketika yang tua enggan pergi dan yang muda sedang lapar?
Sukat membangunkan Sukibar, dan di sinilah naskah ini jenaka cum getir. Alih-alih meminta maaf, Sukibar menuduh Sukat sebagai salah satu pengunjuk rasa dalam mimpinya. Sukat panik, berteriak minta tolong, dan menganggap pemimpinnya kasurupan.
Sukibar diikat, disirami air, dan dijampi Markonah, istrinya. Dalam keadaan terikat, ia justru memainkan peran sebagai “Raja Jin penunggu gedung” yang menuntut sesaji meliputi apam, lakatan putih, bubur habang, bubur putih.
Candaan itu menyimpan lapis makna. Dalam dunia sanggar, senior sering menempati posisi yang nyaris sakral. Penunggu gedung, pemilik ruang, pewaris. Ancaman tulah dan pamali adalah bahasa Banjar untuk disiplin sosial, cara halus agar yang muda tidak melawan.
“Ketulahan buhan kam ni,” bentak Sukibar saat diikat, artinya kalian kualat.
Begitu Sukibar keluar, para anggota yang tersisa memperlihatkan apa yang selama ini dipendam.
Anang melontarkan kritik. Honor tak naik-naik, rekan-rekan menjadi tukang ojek dan berjualan untuk mengisi perut, sementara Sukibar dan keluarganya berganti mobil dan memamerkannya.
“Adil kah kaitu?”
Ia lalu menembak ke pusat persoalan. “Kita ni dah telalu lawas meanggap rasa terima kasih sebagai alasan gasan tarus diam.”

Kalimat itu mungkin akrab bagi mereka yang pernah berkarya di komunitas. Sukat yang awalnya membela jasa sang pemimpin, goyah ketika Anang bertanya: kita dipandang sebagai seniman, atau sebagai suruhan, alias babu?
Di titik ini naskah tampak sengaja mengejek kata-kata besar anak muda. Kacil, yang paling fasih berpidato tentang akibat pemberontakan (perang, janda, anak yatim), menyebut kasus ini harus “diinvestigasi” dengan “transparansi”, bahkan perlu “tim pencari fakta”.
Sukat menimpali, itu mirip dialog dalam naskah, “kada signifikan, kada proporsional”. Jargon moral publik dipakai untuk urusan sanggar, dan lucunya terasa karena kita mengenalinya.
Bagian kedua melompat ke dalam lakon kerajaan. Sukibar menjadi raja, Markonah permaisuri. Raja yang sudah tua itu hendak turun tahta, tetapi bingung memilih antara dua putra: Pangeran Mahirang yang pintar memerintah, dan Pangeran Waluh yang bijak dan disukai rakyat.
Mereka memanggil Pamanda Wazir untuk mencari jalan keluar.
Struktur ini mengingatkan pada Mamanda, teater tradisional Banjar yang lazim memuat raja, mangkubumi, wazir, permaisuri, dan pengawal, serta dikenal lewat humor dan sindiran terhadap penguasa.
Mamanda biasanya diselesaikan dengan harmoni. Di TUHA, bentuk tradisi itu justru menjadi arena kudeta. Seorang Prajurit memecah ilusi dengan kalimat yang meruntuhkan segalanya: “Julak. Kekanakan kedada di balakang.” Para pemain lain tak ada di belakang panggung.
Mereka sedang menunggu kesempatan untuk muncul sebagai diri sendiri. Sukat dan Kacil naik ke panggung. Menariknya, bahasa mereka bergeser. Kacil, yang tadinya memanggil “pian”, kini berseru “Mundur ikam Sukibar!” Dalam tata sapa Banjar, perpindahan itu tanda hilangnya hormat.
Kacil lalu mengumumkan dakwaan yang jarang diucapkan terang-terangan di sanggar mana pun. Pemimpin gagal membikin karya bermutu, gagal menyejahterakan anggota, serya gagal menghibur penonton.
Sukibar jatuh. Anang tiba-tiba menyatakan bahwa Sukat dan Kacil hanyalah alat. Ia mengungkap rencananya, mengingatkan siapa yang pertama menyebut Julak “tuha wan bungul” di belakang panggung, dan mengatakan, “Aku cuma pandai malihat kasampatan.”
Pola seperti ini sudah lama dikaji ilmu sosial, meski tentu tak dibuat untuk teater Banjar. Robert Michels, sosiolog Jerman-Italia, merumuskan “hukum besi oligarki” pada awal abad ke-20. Organisasi,menurutnya, termasuk yang lahir dengan semangat egaliter, cenderung melahirkan segelintir pemimpin yang sulit digantikan.
Max Weber menulis tentang wewenang karismatik dan “rutinisasi karisma”. Saat pendiri karismatik menua, kelompok menghadapi masalah suksesi, dan pergantiannya jarang mulus.
Naskah ini menempatkan dua gagasan itu berdampingan. Anang menyebut Sukibar “aktor utama, panulis naskah, sutradara palagi pimpinan”, yaitu semua peran terpusat pada satu orang. Dan dalam lakon, raja tak sanggup memilih penerus.
Dalam seni kolektif, ketegangan ini punya ciri khas. Kelompok seperti Théâtre du Soleil di Prancis dikenal menjalankan kerja kolektif dengan pembagian yang setara, termasuk imbalan. Kolektif seni rupa ruangrupa dari Jakarta, yang menjadi direktur artistik documenta fifteen di Kassel pada 2022, mengajukan konsep lumbung, yaitu berbagi sumber daya secara bersama.
TUHA tak memberi jawaban. Tak ada tokoh yang bersih. Sukibar memang penuh jasa, tetapi merendahkan anggotanya dengan kata “bungul” dan mengabaikan nasib mereka.
Para penentangnya jujur soal kesejahteraan, tapi sebagian dari mereka sebelumnya ikut mencela. Anang, yang berbicara paling lantang soal perubahan, adalah yang paling oportunis.
Ketika Sukat dan Kacil menerjang Anang sambil menjerit, semua gerak membeku. Sukibar, yang tadi tampak mati, bangkit pelan. Ia bilang, lakon malam itu sudah sampai klimaks.
Lalu Markonah berteriak, “Pambunuh!” Tuduhan itu bergerak dari para pemain, ke penonton.
Sukibar kembali melihat ke arah penonton dan menutup dengan bangga: “Inilah pamentasan kami… TEATER MAHAKAM.”
Pementasan ini hadir dengan tata panggung minimalis. Hanya ada tiga panggung kecil dan sebuah kursi.
Jika bicara gagasan, pementasan ini begitu kuat. Melontarkan kritik terhadap tubuh sanggar itu sendiri. Namun, ada yang lebih penting dari itu semua. Caranya menyampaikan gagasan itu sehingga ditangkap penonton. Jika tidak digarap dengan baik, pementasan hanya orgasme bagi penampil.
Dalam Tuha, apakah gagasan itu sampai dan bisa dinikmati sebagai tontonan, mungkin saya serahkan lagi kepada penonton. Adios!@





























