Jika kamu berharap mendapatkan kronologis atau cerita apa yang hendak disampaikan dari penampilan Teater Luminari yang mementaskan “Muara” pada hari kedua Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) II 2026 di Taman Budaya, sore Jumat (23/10/2026), mungkin akan kesulitan. Tetapi kamu bisa mendapatkan beberapa pesan untuk direnungkan. Jika pun ingin disimpulkan, ini adalah tentang kegamangan menatap masa depan.

PANGGUNG bagi pementasan “Muara” selayaknya hanyalah menjadi ruang bermain. Tidak ada tokoh utama di sana. Tidak ada konflik, pun siapa yang berperan antagonis maupun protagonis. Para pemain yang semuanya adalah anak-anak usia remaja, hilir mudik, menari, menyanyi, dan sesekali melontarkan ucapan-ucapan yang terasa random.

Ampar-ampar ijazah
Gasan mancari nafkah
Liwar kangalihan, banyak persaingan 2X
Manggarunum manggarunum
Sakolah kada manuntung
Utang makin banyak, hidup luntang lantung
Siapa ampun gawi, dasar mamunyaki 2X

Parodi lagu Ampar-Ampar Pisang itu dinyanyikan sekumpulan anak-anak yang sedikit lebih dewasa setelah sebelumnya lagu aslinya dinyanyikan anak-anak yang lebih muda. Permulaan yang mencoba membingkai perhatian penonton bahwa ini adalah tentang dunia anak-anak, remaja, dan masa memasuki angkatan kerja.

Terkadang 12 pemain itu bertukar peran menjadi orangtua dan anak. Terdengar bermacam keluhan betapa kehidupan terasa berat, dan masa depan yang masih gelap.Ada yang kesulitan membiayai anaknya kuliah. Ada anak yang kuliah sambil kerja. Ada orangtua yang hendak menjual perhiasan agar anaknya bisa kuliah. Ada yang tidak kuliah namun juga kesulitan mencari kerja. Ada juga yang diberhentikan dari tempat kerja

Pentas “Muara” yang seluruh pemainnya adalah anak-anak muda belia dari Teater Luminasri. (Foto: FTBB II)

“Hiih, jadi kam handak begawi di mana lagi Ting?”
“Kada tahu lagi Ma ai… banyak kakawanan lun diampihi jua. Efesiensi kalu
ujar?”
“Maka samalam di tv 19 juta lapangan gawian jar. Bubuhan pagawai MBG
makin banyak ditambahi tuh.”

Ya, Tentu saja selalu ada nada protes atau kritik terhadap pemerintahan sesuai konteksnya. Semuanya saling bersipongang antar beberapa pasangan ibu dan anak. Kemudian terdengar lagi koor..

Dolar pang dolar… duit pang mainan
Dolar pang dolar… harga saraba larang
Dolar pang dolar… ngalih bacari gawian
Dolar pang dolar… pajabat samua kanyang

Selain pemain di pentas yang kadang bernyanyi, di samping panggung juga ada musik penggiring– yang sayangnya suara vokalisnya seringkali meleset dari nada.
Seperti semula disebutkan, pementasan ini tidak memiliki kronologi cerita. Lebih tampak seperti kolase-kolase yang tiap bagiannya diselipkan hal-hal yang dianggap mewakili permasalahan yang terjadi saat ini; seperti harga yang mahal, soal lingkungan, listrik yang sering padam, MBG, da lain sebagainya.
Hingga akhirnya, yang tampak dari keseluruhan penampilan itu adalah mengenai keresahan, kegelisahan, serta kegamangan akan masa depan.

“Jadi…buhannya jangan balakas jadi urang dewasa lah.”
“Biar masih kawa bamimpi.”
“Biar masih kawa salah.”
“Biar masih kawa bepandir.”
“Biar masih kawa bepandir… Aku handak jadi apa haja.”

Semestinya, ketika sampai pada dialog di atas yang saling bersahutan antar pemain, pentas ditutup. Dengan harapan akan meninggalkan bekas yang cukup dalam; bahwa betapa masa kecil terasa jauh lebih indah dibanding orang-orang dewasa dengan segala problemnya..
Tetapi tidak. Pertunjukan yang random masih lagi berlanjut beberapa saat. Bila pun akhirya berakhir, itu pun bukanlah ending yang mengesankan. Seperti lampu panggung yang dipadamkan, penonton dipersilakan menangkap sendiri cahaya terakhir apa yang ditangkap dan masih membekas di kepalanya– pun bila ada.@