Dengan pemeranan karakter yang kuat oleh para pemain, pentas “Baju Rigat” yang disuguhkan Sanggar Ar-Rumi asal Kabupaten Banjar pada hari kedua Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) II 2026 di Taman Budaya, Jumat (23/10/2026), berhasil menghadirkan realitas manusia munafik dengan setelanjangnya.

KESUNGGUHAN sudah terlihat dari setting panggung yang menghadirkan suasana warung. Di atas dua meja lesehan di sisi kiri dan kanan panggung tampak kecap manis, mangkuk kecil sambal, juga tempat tisu—yang hanya sayangnya merek rokok tertentu masih terlihat jelas dari bangku penonton.

Pada satu meja duduk sepasang kekasih sedang menikmati soto banjar (makanannya sungguhan). Di tengah agak ke belakang ada meja kasir, yang di sana telah duduk Haji Ihin sang pemilik warung, yang kemudian kedatangan anak gadisnya seorang wartawan. Nah, tokoh gadis bernama Indri yang diperankan dengan apik inilah semua cerita menemukan sumbu apinya.

Dimulai dengan sepasang kekasih di awal. Ketika sepasang kekasih ini bertengkar karena si pria tidak mau membayar makanan mereka, sementara gayanya sok trendy- berjaket kulit hitam ala anak motor, ndri hadir memberikan nasihat kepada si cewek. Sembari juga dia mencela menunjuk hidung si cowok yang hanya “modal tampang doang”.

“Nah lah ding! Dari penampilannya gin kaka tahu. Pacar pian tuh pasti kada bamodal. Munnya jar tiktok lakian mokondo,” ucap Indri di samping si cewek.

“Apa maksud? Ja pina harat muntung manyambati urang!” sahut si pria sengit. “Ini hubungan kami, gasan apa ikam umpat campur?”

“Wajar aku umpat campur! Malihat binian ditindas! Sesama binian aku prihatin!” sambar Indri.

Suasana semakin panas, hingga Haji Ihin datang menengahi, dan sepasang kekasih itu kemudian meninggalkan warung.

Sepasang kekasih yang bertengkar, dan wartawan Indri dengan bapaknya Haji Ihin, pemilik warung makan. (Foto: sandi)

Babak selanjutnya masuklah sosok berpenampilan agamis berkopiah dan bersorban bersama seorang ibu dengan penampilan wah penuh perhiasan di leher dan pergelangan tangan. Tokoh Guru Ya’di dan Hj Nurlin itu mengadakan reuni dan menunggu wali kota ibu Selly.

Gelagat keduanya menunjukkan kegenitan dan kesombongan. Guru Ya’di yang juga dikenal sebagai “penanamba” terlihat menggoda pelayan warung, termasuk menanyakan seorang pelayan wanita muda lainnya yang tidak terlihat. Sementara Hj Nurlin asyik terus mengelus-elus perhiasannya, dan bahkan mengaku memiliki hubungan keluarga dengan Haji Ulin– yang digambarkan merupakan orang kaya raya di banua.

Tak lama, Wali Kota Ibu Selly tiba bersama ajudannya, Ilham– yang protektif sekaligus lebay. Dan kehadirannya memberi warna humor dari keseluruhan cerita yang tegang dan penuh pertengkaran. Kehadiran Ibu Wali Kota dan ajudan disambut dengan hadrah yang telah dipersiapkan oleh Guru Ya’di dan Hj Nurlin.

Satu persatu tokoh-tokoh itu; Guru Ya’di, Hj Nurlin, dan Ibu Selly mulai ditelanjangi. Adalah wartawan muda Indri yang membongkar aib mereka.

Pertama Indri mencari informasi tentang Hj Nurlin yang mengaku berkeluarga dengan Haji Ulin, yang ternyata adalah dusta. Pengakuan itu hanya kedok Hj Nurlin agar memilliki status di masyarakat, pun perhiasan yang dikenakannya semuanya palsu belaka.

Hj Nurlin dan Guru Ya’di saat bersiap menyambut kedatangan Wali Kota Ibu Selly. (Foto: sandi)

Berikutnya Wali Kota Ibu Selly. Ia tidak mampu memberikan argumentasi ketika dua pedagang yang datang memberitahu Haji Ihin, menuntut penjelasan mengenai rencana penggusuran berdasarkan surat edarannya. Ibu Selly hanya terbata-bata ketika didesak. Sementara ajudannya yang komikal, Ilham, sibuk berupaya melindungi tuannya. Akhirnya Ibu Selly dan sang ajudan pergi.

Terakhir, Guru Ya’di. Berdasar pengakuan pelayan warung, Susi, Guru Ya’di telah melecehkan dirinya. Ia adalah korban “kegatalan” sang guru abal-abal ini.

“Pas semalam batatamba lawan sidin. Disuruh sidin ulun batutup mata. Sekalinya..,” aku Susi dengan nada sedih dan malu.

“Aku tuh manambai ikam,” bantah Guru Ya’di terdesak.

“Manambai apanya? Munya tangan mahahar hahar…,” sela Midah, pelayan lainnya yang rupanya sudah mendapatkan cerita dari Susi.

“Pian kena ulun viral akan! Ulun berita akan pokoknya!” sergah wartawan Indri.

Guru Ya’di pun dipiting oleh dua tokoh pedagang yang bertepatan datang hendak membicarakan penggusuran warung mereka dengan Haji Ihin. Namun kemudian Guru Ya’di berhasil melepaskan diri.

“Astaghfirullah. Wahini kita dasar kada kawa lagi melihat urang dari pakaiannya aja. Bisa ja pakaiannya talihat bagus manawan sekalinya hatinya busuk banar. Katuju mambunguli urang katuju maakali urang,” ucap Haji Ihin, pemilik warung yang semula percaya dengan Guru Ya’di.

“Nah, Bah.. mulai wahini hati-hati kita, mamilih siapa yang kita percaya,” timpal sang anak, Indri, yang sekaligus menutup pentas “Baju Rigat”.

Keseluruhan, penampilan semua tokoh sangat matang, dan memang pantas mendapat gemuruh tepuk tangan para penonton. Namun, jika ingin mencari “kebanjaran” di dalam pentas “Baju Buruk” karya Muhammad Helman ini, selain bahasa Banjar yang digunakan, mungkin akan agak kesulitan. Perkara kemunafikan yang diangkat dalam cerita, kita bisa temukan di belahan bumi mana saja; pemuda yang memperalat kekasihnya, tokoh berpenampilan guru alim yang ternyata memelihara berahi liar, ibu berhias emas imitasi yang hidupnya penuh tipu dan kepalsuan, pun pejabat yang tak peduli dengan rakyat.

Tokoh gadis wartawan yang terlalu kepo, yang seketika langsung merangsek sosok-sosok antagonis di hadapannya, terasa terlalu vulgar dan hampir sulit ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Tetapi apa boleh buat, harus diakui, dialah yang menjadi urat nadi keseluruhan cerita, dan karenanya apa yang terasa tak realistis bisa saja diabaikan, atau mungkin bagi sebagian penonton itu tak terlihat begitu. Lagi pula, bukankah ada banyak kenyataan yang rasanya sulit diterima sebagai kenyataan.

Bagaimanapun, kematangan para pemain serta kesungguhan persiapan pementasan “Baju Buruk”– yang sebenarnya cukup kompleks, memberikan suguhan yang memuaskan dalam Festival Teater Bahasa Banjar II 2026, dan karenanya layak diapresiasi tinggi.@