Kata orang, mencari uang sebagai seniman itu sulit. Idealis apalagi. Ada yang bilang, jadi seniman itu panggilan.
KURT Vonnegut, penulis yang dikenal sebagai satiris terbesar Amerika Serikat, bahkan bilang kalau “Seni bukanlah jalan untuk mencari nafkah. Seni adalah cara manusia membuat hidup lebih bisa ditanggung.”
Pernyataan itu diungkapkan secara terang lewat suguhan teater berjudul “Sebelum Pagi”. Betapa tidak. Pemandangan yang tersaji di atas panggung sudah membuat penonton ikut merasakan atmosfer bernama “kemiskinan”.
Latarnya di rumah si seniman teater yang dalam naskahnya disebut Suami. Lampu menyala. Hal pertama yang mata saya soroti adalah dinding rumahnya yang tersusun dari kayu tua tak beraturan. Di salah satu sisinya tergantung sebuah kalender.
Kertas-kertas berserakan di sudut panggung, sebagian di atas meja, sebagian di lantai. Di dekatnya berdiri beberapa piala, jenis yang biasa diberikan saat lomba. Tahulah kita bahwa “seniman kita” beberapa kali menang perlombaan.
Saya masuk ke Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan dengan kepala sudah lelah. Kamis (22/10) hari itu, hari pertama Festival Teater Bahasa Banjar 2026 digelar. Ada lima penampilan teater. Dan Sebelum Pagi mendapat giliran paling akhir, berlangsung malam hari.
Saya tahu betul risikonya. Capek, mengantuk, dan biasanya kekuatan otot-otot jari untuk mengetik dan bertepuk tangan sudah susah berkompromi. Namun, setelah dihadapkan pemandangan demikian, betapa gigantik tata panggung meski, tentu saja, mengesankan kekumuhan, itu terasa sedikit membikin melek mata.
Dilema domestik sudah tersaji sejak awal kisah. Setelah mata penonton dibawa berkeliling ke seisi panggung, kita melihat seorang perempuan setengah berbaring di atas kasur apak. Ia dibangunkan oleh “seniman kita” yang baru saja pulang ke rumah, setelah entah dari mana. Suami, yakni seniman itu, menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Ia heran mengapa pakaiannya ditaruh di kardus-kardus yang bertebaran di tengah ruangan.
Sesadarnya istri, pembahasan mulai masuk ke masalah lazimnya rumah tangga. Finansial. Si istri menuntut ini-itu. Bahwa pekerjaan suaminya sebagai seniman, atau spesifiknya penulis naskah teater, tidaklah menguntungkan. Ia meyakinkan suaminya mencari pekerjaan lain.
Suami mencintai pekerjaannya dan tidak berniat meninggalkannya. Masalahnya, cinta itu susah bikin dapur tetap ngebul. Ia tak bisa memilih saat dihadapkan dua pilihan: memilih istrinya atau pekerjaannya yang sudah mendarah daging, seperti pengabdian jiwa.
Dari semua dialog, satu kalimat paling nempel di kepala saya. Sang istri mengeluh suaminya hanya memberinya Rp25 ribu untuk satu minggu. Penonton di sekitar saya diam. Posisi sang istri sulit dibantah. Ia digambarkan sebagai tokoh yang realistis. Untuk bertahan hidup sekarang ini perlu uang.

Hampir semua adegan adalah perselisihan. Kadang serius, kadang kocak. Hingga akhirnya klimaks. Si istri minta talak. Ia tak sanggup lagi memikul beban ekonomi yang terus berulang. Saya sulit menyalahkannya.
Pertunjukan karya Ibrahim Achiem AJ ini memaksa saya memikirkan dua jenis seniman yang sering dipertentangkan. Seniman idealis percaya bahwa karya tidak boleh ditawar. Ia menolak membuat sesuatu hanya karena laku, dan baginya bertahan pada keyakinan adalah harga diri.
Pandangan ini punya martabat. Tanpa orang-orang seperti ini, kesenian mudah berubah jadi pesanan. Sang suami di panggung adalah wujudnya. Dan, saya mengerti kenapa ia tak mau melepas pekerjaan itu, meski ya untungnya bisa dibilang sejumpilit.
Seniman realistis melihat dari sisi lain. Baginya, seni yang tidak bisa menghidupi pembuatnya tidak akan bertahan lama. Ia mau menerima kerja sampingan dan menyesuaikan karya dengan pasar. Orang sering menyebutnya kompromistis.
Dalam bukunya The Death of the Artist, William Deresiewicz membahas bagaimana seniman harus menghadapi ketidakpastian pendapatan, tuntutan promosi diri, dan permintaan bekerja gratis demi eksposur. Idealisme saja tak otomatis bikin hidup seorang seniman tercukupi.
Adapun George Simenon bilang, seseorang terdorong jadi seniman karena perlu menemukan dirinya sendiri. Seorang penulis, misalnya, berusaha mengenali dirinya melalui tokoh-tokoh dan tulisan yang diciptakannya.
Artinya, bagi Simenon, berkesenian bukan hanya perkara cari nafkah atau menghasilkan karya bagus. Ada kegelisahan pribadi yang mendorong seseorang terus berkarya, seolah-olah ia sedang mencari jawaban tentang dirinya sendiri.
Saya tak tahu “seniman kita” berada dalam motif yang mana. Tetapi, ia berkali-kali berkata, untuk meyakinkan istrinya, kalau menjadi seniman adalah pengabdian jiwa.
Sebenarnya, suami mau mengusahakan. Ia ngaku kerja ojek. Namun, sepanjang kisah, pendapatan “seniman kita” tak pernah cukup. Setidaknya, bagi istrinya.
Sampai sini, mungkin Anda paham maksud saya. Ya, pentas ini terasa realistis. Pesannya sangat dekat bagi mereka yang bertungkuslumus di gelanggang kesenian. Dan bagi mereka yang tidak ikut serta bagian, tetap akan merasakan. Ditambah aktor-aktornya yang, saya pikir, cukup menjiwai.
Pentas ini hanya memakai tiga tokoh. Suami, istri, dan Mukhtar, sahabat sang suami. Si Mukhtar datang di saat-saat terakhir, ketika istri mengucapkan talak dan cekcok berujung kepada klimaks saat suami ingin menampar istrinya. Mukhtar datang sebagai juru selamat. Suami meminta bantuan kepada temannya itu. Ia meminjam uang untuk melunasi tunggakan sewa rumah selama tiga bulan.
Mukhtar awalnya ogah. Namanya teman, ia akhirnya mau. Sudah terlambat. Sang istri telah memutuskan angkat kaki dan kembali ke rumah orangtuanya.
Lalu ending-nya, dan ini yang membuat saya menegakkan punggung di kursi. Mukhtar ternyata akan melamar sang istri “seniman kita”. Ia ingin memberinya kebahagiaan.
Rinesundhari duduk persis di sebelah saya, di barisan kursi paling depan. Begitu lampu panggung padam, ia bertepuk tangan dan berkata, “Ini yang paling bagus hari ini.” Begitu pula saya. Saya sudah lupa kalau otot-otot tangan sudah kurang bersahabat. Tepuk tangan yang keras untuk penutup hari pertama.
Teteh Rine, begitu dipanggil, istri dramawan kawakan Edi Sutardi itu mengasih rating. Pertunjukan itu mendapat nilai delapan koma lima dari sepuluh.
Saya sepakat pertunjukan itu layak dikasih dua jempol, terutama aktingnya. Dari lima penampilan hari itu, Sebelum Pagi oleh Teater Langit Jingga SMAN 5 Banjarmasin yang paling matang.
Berbeda dengan Muhammad Irwan Aprialdy. Si penyair yang gemar merangkap apa saja itu bilang, jika pertunjukan itu masih mentah. Ia menekankan suara tokoh Suami yang diperankan M. Afif Rahman. Menurutnya, terlalu dipaksakan dan berbahaya bagi pita suara. Mengingat aktor-aktornya juga anak sekolahan.
Sementara Rine bilang suara serak Afif menunjang atmosfer dan membuatnya lebih tajam. Akting mereka, katanya lagi, terkesan alami.
Lalu datang catatannya. Pemeran istri yang diperankan Mutiara Nurrizki Amalia, menurut Rine, belum cukup bisa mengimbangi. Saya mencatat itu tanpa membantah.
M. Ferdy Nur Husien, pemeran Mukhtar, mengemban peran yang justru baru menunjukkan bobotnya di ujung cerita. Itu tugas yang tidak mudah.
Teater Langit Jingga sendiri berdiri sejak 2006. Dua puluh tahun sudah ia jadi wadah siswa SMAN 5 Banjarmasin mengembangkan bakat seni teater.
Di antara penonton hari itu, ada Embie C Noer, penata musik yang namanya lama dikenal di dunia teater. Saya menodongnya dengan satu pertanyaan: bagaimana penampilan terakhir tadi?
Jawabannya satu kata: “Sehat.”
Sehat apa, saya serahkan saja kepada pembaca yang mungkin menonton pertunjukan ini tempo hari.@



























