Katutut burung katutut

Katutut basaung buntut

Amun juduh sudah manuntut

Orang tuha bisa mamatut

PERIHAL handak babini (keinginan beristri), sudah mafhum di kalangan masyarakat Banjar menjadi bahan lelucon mengundang gelak tawa. Lakon inilah yang dibawakan Sanggar Seni Tanaharum dari Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU), di Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) II 2026 Taman Budaya Provinsi Kalsel, Banjarmasin, pada hari kedua, Jumat (23/10/2026) dengan judul Basaung Buntut.

Bersandar pada seni tradisional bapantul atawa topeng banjar, tokoh-tokoh (hanya empat tokoh) tampil komikal. Pentas dimulai dengan masuknya seluruh tokoh sebagai perkenalan ke tengah arena yang minim properti—hanya ada dua pintu di kiri dan kanan sebagai tempat keluar masuk tokoh, serta sekumpulan pemain gamelan di bagian belakang.

Diiringi gamelan, para pemain berpolah gerakan khas baigal di arena sembari memegang topeng menutupi wajah mereka yang sebenarnya juga telah dirias menyerupai karakter-karakter seperti topeng yang mereka bawa. Kemudian topeng itu digantungkan di dua pintu. Lalu semua pemain keluar. 

Tak lama, masuk kembali dua pemain: Julak Galam (diperankan J Muhammad) dan anaknya, Cingkaruk (Cuwin). 

Kisah dimulai. Cingkaruk menyampaikan keinginannya handak babini. Bahkan ia sudah mempunyai calon yang hendak dijadikan istri.

“Ulun neh nah sudah ada baisi sintaran, sudah jua ada tapandir,” ucap Cingkaruk, yang riasan wajahnya mengingatkan pada karakter Petruk.

Julak Galam, sebagai seorang bapak, hendak jua tahu seperti apa calon minantunya. “Imbah pang Anak, orang mana, kayapa kaadaan, siapa ampun ngaran, bajalan kaya orang ai kalo,” tanya Julak Galam, duda yang karakter wajahnya mirip Semar.

Dua beranak ini saling bertukar tangkap pembicaraan. Dan tentu saja, di sela-selanya ada ungkapan-ungkapan lelucon yang sering kita dengar di keseharian masyarakat Banjar. Semisal “karis batagar”.

Namun, lakon tidak melupakan juga untuk memuat adat budaya Banjar dalam perkawinan. Lewat tokoh Utuh Bintit, Cingkaruk mendapat wejangan bagaimana batamat, batimung, hingga bausung. Tentu saja semua itu juga disampaikan secara komedi.

Utuh Bintit (Faisal Refki) digambarkan sebagai tokoh yang meski berangasan—tanpa baju dan berkalung dua jimat, namun tidak lupa dengan budaya Banjar. Juga setia kawan dengan membantu Cingkaruk hendak kawin.

Sampailah kemudian Cingkaruk diminta bapaknya, Julak Galam, untuk membawa dan memperkenalkan calon istrinya.

Dibantu Utuh Bintit, Aluh Cutbal (karucut ba’al) calon bini Cingkaruk datang menghadap Julak Galam. Di sini kemudian terungkap kalau Aluh Cutbal (diperankan Nabila Mutiara) adalah janda beranak satu. 

“Umu anak ulun saumur lawan pohon binjai nang di higa rumah. Ngarannya Aluh Cutring,” kata Aluh Cutbal, dengan tahi lalat besar di dagu.

Demi mendengar nama Aluh Cutring disebutkan, tiba-tiba saja Julak Galam galagapan. “Aluh Cutring.. Aluh Karucut Karing.. Daur daur daur, cilaka duablas,” ucap Julak Galam sambil berjalan ke sana ke mari.

Cingkaruk bingung. “Batanang Bapa, bawa batanang dahulu, nangapa nang daur.”

“Cutring ngintuy bakal calon bini nang kukawini,” sahut Julak Galam.

 

Penampilan Teater Tanaharum dengan lakon “Basaung Buntut”. (Foto: sandi)

 

Lampu panggung padam. Hanya ada satu sorot lampu ke sosok Utuh Bintit yang berucap, “Nang anak handak lawan kuitan, nang kuitan handak lawan nang anak. Sah haja dalam hukum agama, tapi kada pas di hukum adat.”

Pertunjukan berakhir dengan masing-masing tokoh mengambil topeng yang di awal digantung di dua pintu, sembari baigal meninggalkan panggung.

Pementasan “Basaung Buntut” karya Erwin Noveyadi, S.Pd dengan sutradara H.M. Junaidi ini cukup menghibur. Seperti disebutkan di awal, perihal handak babini memang kerap mengundang lelucon-lelucon. Dan Cuwin cukup jenaka membawakan karakter Cingkaruk dengan sangat Banjar. Sementara pada Julak Galam dan Utuh Bintit, masih agak kesulitan meraba logat Banjar yang dibawakan, selain juga terkadang terselip beberapa kosakata bahasa Indonesia yang mestinya masih bisa d-Banjar-kan. Seperti misalnya menyebut “rindu” yang dalam kosakata Banjar “karindangan”. 

Aluh Cutbal, yang entah kenapa ketiga baigal lebih sering menampakkan pantatnya ke penonton, terasa kurang cukup diberi porsi. Padahal ia berpotensi menambah keseruan dan warna Banjar yang lebih di sela percakapan yang cukup panjang antara Julak Galam dan Cingkaruk.

Pun demikian, sebagai sebuah pertunjukan, “Basaung Buntut” berhasil menghadirkan “kebanjaran”, terutama dalam perbincangan perihal handak babini, dalam gelaran festival yang diinisiasi Teater Matahari dengan dukungan MTN Seni Budaya ini.@