Katanya, karakternya menyebalkan, mabuknya mabuk sinetron. Kata saya tidak, karakternya memilukan, mabuknya mabuk teatrikal.

PERDEBATAN di atas terjadi antara saya dan rekan Musa Bastara usai menonton pementasan Sanggar Seni Rufaidah dalam lakon Sasangga Hidup.

Berkisah janda tua sakit-sakitan tinggal berdua dengan anak putrinya yang masih SMA. Anak selalu mengeluh, memprotes ibunya, mengapa hidup mereka sulit. Sementara temannya bergelimang kemewahan: putih, mulus salon, hape mahal.

Lalu suatu malam, si anak pulang dalam kondisi mabuk sembari memamerkan puluhan lembar duit merah dan biru kepada ibunya. Di dalam rumah, di hadapan ibunya, anak menari-nari, bergoyang-goyang, menghambur-hamburan uang.

“Ikam minum-minuman karas, kah?”

“Sedikit haja minum tadi. Rami banar sakalinya gawian nang ada, nih. Kada sadikit Ulun dapat duit. Amun kaini tarus, hidup kita ni kawa jua sugih kaya urang.”

Ibu dan anak cekcok besar, sampai si anak tertidur di lantai ruang tamu. Dalam tidurnya, wajah anak yang tadi garang melembut, layaknya wajah remaja polos. Melihat itu, si ibu kemudian meraih kepala anaknya, memeluknya dalam pangkuan.

Pagi harinya, pengaruh alkohol rupanya sudah reda; anak bangun dengan sisa pengar (terlihat dari bahasa tubuhnya); ia mencari ibunya. Panggil-memanggil, tidak ada sahutan. Si anak mencari ke dalam kamar.

Di dalam kamar, dia menemukan jasad ibunya yang terbaring di atas sajadah lengkap dengan mukena.

Walau saya dan Musa Bastara berada di barisan yang sama, barisan kursi penonton paling depan, ternyata kesan yang kami dapatkan usai menyaksikan Sasangga Hidup cukup berbeda. Musa bilang, selain akting mabuk yang menurutnya seperti sinetron, hal yang paling mengusiknya adalah tema cerita itu klise.

Oke, Mus, sepakat! Naskah memang tidak spesial. Cerita mudah ditebak. Dan kalau Anda paksa, tidak masalah kusebut juga akting mabuknya sinetron, walau saya menilai istilah tepat adalah “mabuk teatrikal”—dramatisasi panggung; atau pinjam istilah cerpenis berwajah puisi Sandi Firly: mabuk orang kampung.

Hanya saja, pengalaman menonton teater adalah sebuah cerita lain. Dan apakah cerita itu menggurui (Musa awalnya menyebut cerita menggurui, belakangan dia mengatakan istilah yang ia pakai itu kurang tepat)?

“Film mengunci; penonton dapat diframing dengan presisi oleh sutradara. Sementara teater terbuka, penonton bebas memilih fokus, entah itu pemain, entah itu musik, apa pun,” kata seniman teater Embi C Noer didampingi penggagas Festival Bahasa Banjar II, Edi Sutardi, usai kami menonton beberapa lakon di hari pertama festival, 

Dan mungkin itu sebabnya, jika Musa melihat Sasangga Hidup sebagai kisah basi (khususnya jika ditengok sebagai naskah drama), saya justru melihat lakon di panggung adalah cermin yang memantulkan gelisah Banjarmasin; memproyeksikan fenomena remaja kota. Bahkan dialog mereka pun jujur, bersumber dari realitas percakapan sehari-hari.

“Umalah, jam saini hanyar bulik, ka mana ikam, nak?”

“Uma lah, Ma! Pian kada usah mamikirakan ulun. Ulun ni sudah ganal, Ma, ae. Jadi ulun ini bisa haja dah bajaga diri ulun!”

Saya ingat, sekitar 2007-an ke bawah, tabu bagi pelajar wanita muda Banjar kepergok kongkow di tempat hiburan malam. Bagaimana sekarang?

Pengalaman merasakan adanya pergeseran nilai remaja Banjarmasin ini mungkin yang membuat saya bisa menikmati Sasangga Hidup tanpa harus terganggu dengan apa yang menganggu Musa.

Sasangga Hidup juga berkelindan dengan pemahaman subjektif saya, bahwa hedonisme remaja disumbangkan salah satunya melalui efek domino industri ekstraktif yang mengalir dari daerah ke Banjarmasin lewat pintu hiburan malam.

Sehingga bagi saya, Sasangga Hidup menjadi tidak sesederhana kisah anak durhaka ketika dikaitkan dengan pergeseran nilai remaja di Banjarmasin. Sasangga Hidup adalah bentuk perlawanan anak-anak seni dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) terhadap penurunan kualitas hidup yang sistemik. Sasangga Hidup meresonansikan semua  itu; anak yang melawan kemiskinan lewat jalan pintas, orang tua tak berdaya di hadapan modernitas, adalah harga yang terlalu mahal yang harus dibayar tanah Banjar di masa depan. Adegan anak memeluk ibunya, seperti membingkai wajah Banjarmasin yang sedang menangis.

“Inya ada manawari ulun gawian jar sakira lakas sugih. Padahal inya bawarungan biasa haja Ma ae, cuman bukanya malam,” dialog Sasangga Hidup ini juga mengingatkan saya dengan seorang remaja yang bekerja di warung remang perbatasan Banjarmasin – Barito Kuala menjadi pemandu ruang karaoke—tidak jauh dari kampus UMB.

“Apa yang disampaikan Pak Embi, saya alami sendiri. Saat menonton teater, pengalaman dan fokus kita memberikan interpretasi terhadap lakon yang ada di panggung,” kata penikmat seni panggung di Banjarmasin, Fauzian Anshari.

Fauzian bilang, kontras kesan saya dan Musa normal terjadi dalam teater.

 

Bidadari Kabuliangan

Tenang Mus, kesan Anda usai menonton Sasangga Hidup mungkin mirip dengan kesan saya setelah menyaksikan teater Artpedia dengan lakon Bidadari Kabuliangan. Artpedia adalah grup teater dari Fakultas Teknik ULM Banjarmasin.

Jujur, kelelahan setelah menonton penampilan mereka. Lelah dalam arti tidak mendapatkan katarsis. Saya tidak tertawa, saya tidak bersedih. Saya hanya sedikit terhibur dengan visual dan musik yang kental Banjar-nya.

Penampilan Teater Artpedia dengan lakon “Bidadari Kabuliangan”. (Foto: zal)

Adegan dibuka dengan tarian Radap Rahayu. Tiga orang wanita muda dengan busana Banjar menari di atas panggung, lembut-gemulai. Tiba-tiba salah satu wanita terjatuh, kakinya terkilir. Kedua rekannya khawatir, kemudian pergi mencarikan obat.

Dari percakapan ketiga wanita tersebut, penonton mendapatkan informasi kalau mereka sebenarnya sedang latihan untuk tampil besok. Wanita yang terjatuh adalah penari senior, yang paling keras menuntut kesempurnaan penampilan; berhari-hari mereka sudah latihan dengan intensitas tinggi.

Setelah kepergian dua penari muda, dari keremangan muncul seorang pria dengan laung Banjar dan kain sasirangan. Ia berjalan mendekat ke arah penari terkilir.

“Unda mancungul di sini, nih, siapa nang bahiau? Nyawa kalo. Saban kalian puput pasti nyawa ke sini. Jadi maulah unda kada tahu napa kahandak nyawa?” kata pria berlaung Banjar.

Keduanya lalu berbicang-bincang. Cengkeraman mereka tersaji nyaris sepanjang lakon, tanpa adanya adegan dramatik yang mengubah jalan cerita. Dengan kata lain, kekuatan cerita teater ini nampaknya ingin disampaikan lewat percakapan.

Sayangnya, babak dialog panjang itu terkesan stagnan. Entah karena teks, atau cara pemain menyampaikan dialog.

“Salawas umur ulun, matan halus sampai wahini, kada suah ulun mandangar urang bapandir waktu manari.”

“Talinga nyawa kada mandangar lagi, dah, tatutup musik ritual, sampai bunyi nang lain kada kadangaran lagi.”

“Pian ini madahakan ulun bidadari tuli, kah?”

“Nah, bisa dah baulah dua kata loco. Bidadari tuli. Iya, kaya itu. Balajar bagaya supaya dikawani urang, kada jadi bidadari tarus.”

Lebih jauh, dialog-dialog mereka di telinga saya justru terkesan seperti corong, entah itu corong gagasan, entah itu corong moral.

“Tradisi nang nyawa waris itu kahandak langit, itu nang sampai hari ini maulah nyawa takutan jadi manusia. Takutan mun kadada lagi mahkota di kepala nyawa, kadada nang handak maitihi nyawa lagi!”

“Bisa jua bujur apa nang ujar pian, tuh. Hari ini ulun hanyar marasa talalu mamandang suci warisan dalam diri ulun. Bisa jadi bunyi musik talalu nyaring di talinya ulun, maulah ulun kada mandangar, bisa jadi lampu talalu arang ampah ka ulun sampai ulun bujuran marasa jadi bidadari”.

Praktisi seni panggung asal Banjarmasin, Riza Rahim bilang, sudah membaca utuh naskah Bidadari Kabuliangan. Menurutnya, apa yang terjadi di panggung adalah soal penggarapan. “Kalau kita baca naskahnya, modal awalnya (gagasannya) kuat, berkisah tentang tradisi. Sepertinya (yang terjadi) lebih ke soal penggarapan,” ujarnya.

Sebagai gambaran, di panggung ada sebuah set bertuliskan Tempat Pemakanan Umum. Sepanjang kisah, set ini mendapat pencahayaan yang redup, barulah di ending ketika semua pemain telah berada di luar frame, lampu menyorot set tersebut dengan penuh.

Entah, apakah harusnya tulisan TPU tersebut mestinya tidak terlihat sejak awal, sehingga di akhir cerita penonton mendapatkan subteks dari perubahan visual. Bahwa sedari tadi, ternyata pria yang bercakap dengan penari wanita adalah makhluk gaib (misalnya), atau sekadar proyeksi pergulatan batin wanita penari ketika ditinggal sendiri di tempat yang sunyi. Hanya saja dalam imajinasi saya, walaupun subteks berhasil dibuat, saya masih tidak melihat apa poinnya.

Maka, seperti kejadian saya dan Musa pada lakon Sasangga Hidup, apa yang saya alami saat menonton Bidadari Kabuliangan mungkin saja kontras dengan penonton lain. Mengingat, dialog-dialog para pemain juga membawa hasanah kekayaan tradisi tari Kalimantan Selatan beserta kondisi psikologis penarinya yang mungkin jarang kita dengar.@