SAYA hidup untuk cerita, kata teman saya, tetapi baik dan taik hanya dipisah tujuh belas huruf dan karenanya, meski agak jauh, seringkali duduk bersebelahan dalam satu ruang kemungkinan. Saya percaya. Sekarang pukul empat dini hari, saya terbangun dari ketidaknyenyakan tidur setelah beberapa jam lalu memacu kantuk dari tempat lahir masa dewasa menuju tempat lahir saya yang sebenarnya–Banjarbaru dan Rantau Bakula. Saya berhenti di pertigaan Madurejo, berjarak satu jam sebelum tiba di kampung, tepat sebelum ruas jalan yang saya lewati berubah dari A. Yani ke apaan ni, di sebuah Indomaret terakhir yang bisa saya dapati. Di sana saya membeli kopi hitam dan menyulut sebatang kretek. Di sebelah saya duduk dua anak usia sekolah sedang main game atau apalah–saya mencuri dengar tetapi tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya membuka ponsel dan memberi pesan pada pacar saya, ia tidak membalas, jelas sudah lelap pulas. Suntuk, saya membuka tas dan mengambil Surat-Surat Perjalanan, sebuah buku epistolari-traveling-ekologis dari Yasir yang baru saya beli ketika buku tersebut didiskusikan malam sebelumnya di Sekretariat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan, di Banjarbaru. Saya larut ke dalam beberapa potongan surat yang dia tulis dan ingin membalasnya seperti ini:
Yasir, aku tahu bahwa kau menulis surat-surat perjalanan ini untuk mamakmu, tetapi aku terlalu bocah untuk memahami apa itu privasi, sehingga aku mendongak terlalu jauh ke dalam kalimatmu–merasa bahwa surat ini diperuntukkan untukku juga, seorang bocah yang langkah kakinya tak pernah berjalan melewati batas-batas Kalimantan. Di sini, Yasir, di tempatku kini, pukul empat dini hari: Raung mesin batubara underground menggetarkan rumah-rumah, nanti pagi orang-orang bakal pergi ke kebun karet demi menyadap pohon yang getahnya semakin berkurang, sekolah masih libur sekarang, dan syukur saja begitu, karena di sini sumur-sumur mulai mengering sementara Riam Kiwa milik kami tidak lagi mengalir sebagaimana tahun-tahun yang silam–mandi dan mencuci adalah perkara yang rumit, pukul dua belas siang nanti, atau lebih kurang dari itu, blasting dari tambang yang lain akan menggetarkan kami. Konflik antara warga dan tambang melebar dari tanah ke ranah politis, dari isu ingin untung sendiri sampai rasial. Hantu-hantu telah punah, kau tahu, mereka lenyap seiring tergerusnya hutan. Babi dan landak dan owa dan penghuni lain hutan lebih lagi. Di hulu kampung ini masih ada sedikit kelompok bekantan, beberapa tahun ke depan mereka mungkin lenyap juga. Beruang hutan, beberapa tahun silam, sempat terlihat di sisi terluar hutan yang berbatasan langsung dengan tambang, lalu kemudian mati dan sampai sekarang yang tersisa dari mereka hanya cerita bahwa mereka pernah ada. Surat-suratmu, Yasir, betapapun itu ditujukan kepada orang lain selain diriku, membuka ruang baru padaku bahwa (seperti yang kau tulis di Surat XXXI: Antara Perdagangan, Pembunuhan, dan Penyelamatan) yang tertindas oleh sistem bukan hanya aku, bukan hanya kami di Rantau Bakula, atau kau, tapi kita semua, bahkan satwa yang lebih dulu hidup pun mengalami persoalan hidup serupa.
Baiklah. Saya bisa menulis surat balasan yang begitu panjang tetapi tulisan ini bukan tentang saya, bukan tentang kami, ini tentang buku yang saya baca–dan beginilah hasil pembacaan saya yang biasa-biasa saja itu:
Surat-surat Perjalanan Yasir bagi saya adalah kumpulan pengalaman ekologis-spiritual yang ditulis dengan cara begitu menyentuh.
Keputusan untuk memperlihatkan kerusakan Kalimantan dengan cara yang demikian adalah langkah tepat sebab ia berangkat dari relung kecemasan seorang anak yang ingin berbagi cerita kepada orang terdekatnya, dalam hal ini ibunya–meski ada satu surat yang secara eksplisit ditujukan kepada seorang kawan, La Dores–dan karena itu kita, para pembaca, terbuai akan keintiman yang hadir di sana. Ini seperti memoar, dan benar, tidak begitu tepat kalau dibaca sebagai sebuah laporan jurnalistik sebab memang tidak diniatkan begitu. Membaca buku ini, tidak bisa tidak, membuat saya mengingat Che dalam catatan perjalanannya mengelilingi Amerika Selatan. Reflektif, emosional, meski tentu saja Yasir–dalam buku tipisnya–menulis surat-surat ini tidak terlalu mendalam, seperti pengalaman sekilas yang saya yakin tidak seperti itu. Barangkali itulah satu-satunya kecewa saya pada Yasir, bukunya terlalu pendek–apakah ia tidak mengalami kendala kerusakan kuda besinya, apakah jalannya selalu mulus, apakah orang yang ia temui selalu baik, dan lain hal.
Saya tidak membutuhkan data, tentu saja, saya percaya kerusakan lingkungan, konflik warga, keterusiran masyarakat dari tanah asalnya dan hal-hal lain seperti itu tidak bisa dibaca hanya dengan angka. Kesedihan, bagaimanapun, tidak bisa dihitung dari berapa banyak tetes tangis yang keluar dari ceruk mata. Apa yang Yasir tulis melebihi apa yang bisa dijelaskan angka-angka, ia merekam kerusakan secara intim dan emosional–sesuatu yang cenderung luput ditangkap masyarakat intelektual kota. Ya, katakanlah, begitu. Surat-surat ini memberi pengalaman luka melebihi apa yang laporan jurnalistik bisa lakukan.
Epistolari, yang biasa kita temui dalam roman klasik atau memoar personal, di tangan Yasir berubah menjadi satu alat politis yang lembut tetapi menghantam-menghunjam lewat surat pendek kepada seorang yang bahkan kita tidak kenal secara langsung: Mamanya. Kita bahkan tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi di masa lalu Yasir, terutama perihal diusir dengan cara sistematis yang dia tulis di pengantar buku ini. Dan alih-alih mengganggu, ketertutupan itu justru membuat kita terluka makin dalam, bahwa buku ini tidak lagi bicara soal luka kolektif, tetapi juga luka dari penulisnya sendiri. Di sinilah Yasir, menurut saya, berhasil membelokkan genre perjalanan dari sekadar pengamatan visual dan eksternal menjadi pengalaman mendalam dan personal. Yasir menulis tentang tanah yang dirampas dengan begitu indah dan menyakitkan, ia bilang tak ada bunga yang tumbuh di jalan Raya Sidas – Ngabang selain bunga pengusir kumbang di perkebunan sawit. Ia menulis, meski pendek belaka, tentang perbudakan modern di Sekadau. Di salah satu surat yang lain ia menceritakan bagaimana beberapa orang kampung di Putussibau mendatanginya dan bicara soal bayang-bayang pengusiran sebab tanah mereka mendadak dianggap sebagai kawasan hutan lindung oleh negara.
Yasir, dalam surat-suratnya, secara jelas meletakkan dirinya sebagai mata dan korban dari luka yang ia ceritakan–sebab itu kadang dia reflektif, kadang penuh amarah, kadang seperti akan menangis atau memang sedang menangis, kadang lebur dalam botol-botol bir, kadang larut dalam memori dan pengetahuan yang ia miliki. Ia, sebagai sebuah tokoh di dalam buku, begitu kompleks dan kita tahu belaka kenapa itu bisa terjadi: sebab ia manusia yang juga terluka–itulah benang merahnya.
Akhir kata, sebagai seorang yang tidak terlalu banyak membaca, tidak terlalu banyak melihat, tidak terlalu jauh kaki menginjak, saya merasa kita perlu banyak buku seperti ini–kita mungkin perlu menulis surat serupa, balasan kepada Yasir atau surat baru kepada orang yang lain lagi. Sebuah buku yang tidak jatuh ke dalam data statistik semata, tapi tidak juga mendramatisir para korbannya ke dalam ruang fiksi membosankan yang merekam-menulis kekalahan dari jauh tanpa bersentuhan secara langsung dengan mereka. Setidaknya begitulah menurut saya. Dan, seperti teman saya, kami hidup untuk cerita. Tapi, seperti juga sebuah nasib, baik dan taik memang hanya berbeda satu huruf semata. Maka begitulah, sudah cukup saya rasa cerita soal buku baik tentang nasib yang taik ini. Dan untuk Yasir, saya ingin bilang begini: surat-suratmu telah selesai kubaca, jika kelak kamu mati–seperti katamu di akhir buku ini–aku akan membacakan satu surat dari sini sebab di kepalaku, tepat di antara keluh-kesahku soal Rantau Bakula, ada satu tempat khusus untukmu: untuk keabadianmu.@
Juli | 2025
————-
PENULIS
Rapi: Lahir dan tumbuh di sebuah desa yang baginya terasa lebih seperti fiksi ketimbang kenyataan—sebuah lanskap yang seolah tercabut dari semesta Pedro Páramo. Ia menulis cerpen, puisi, dan sesekali esai–dengan nama pena Rafii Syihab–meski lebih sering terperangkap dalam percakapan omong kosong yang justru menyuburkan imajinasi. Karya-karya seperti One Hundread Years of Solitude, Pedro Páramo, El Conde, Sinners, hingga Sleepy Hollow punya andil besar dalam membentuk kehidupan hantu-hantu di kepalanya. Ia hidup dalam persimpangan antara gotik dan realisme magis—dua arus yang menuntunnya menjelajah bayangan, sunyi, dan absurditas kehidupan. Lihat bagaimana dua arus itu hadir dalam karya visualnya di akun @museumhitamputih




























