“KUDA CAHAYA”, pameran tunggal (ke-6) Hajriansyah kali ini terasa memberikan sesuatu yang berbeda bagi tangkapan indrawi penulis dibanding pameran-pameran sebelumnya yang sempat disaksikan. Terutama pada karya-karya baru, dan karya yang mengalami sentuhan ulang. Kendati ada yang masih “menetap” sebagai ciri khas atau identitas karya Hajri. Pun, terasa ada perubahan, atau pergeseran pada yang “tetap” itu.
Jika Anda mengikuti perjalanan kreativitas lukis Hajri, niscaya akan menemukan apa yang baru, menetap, dan berubah pada karya Hajri yang dipamerkan dengan tajuk “Kuda Cahaya”. Pameran yang berlangsung di Gedung Warga Sari, Taman Budaya Banjarmasin, ini dibuka Senin (27/4) dan akan berakhir pada Kamis (7/5). Saya sendiri datang menyaksikan pada Sabtu (2/5/2006), ditemani langsung oleh sang pelukis saat mengedari satu per satu karyanya—dan karenanya, beberapa hal terkait lukisan yang dipanjang dapat terkonfirmasi seketika, baik karena saya tanyakan, maupun dia sendiri lebih dulu menjelaskan.
Yang Baru
Yang saya sebut sebagai “baru” bukan semata bahwa karya itu baru selesai atau baru kali ini dipamerkan. Sesuatu yang saya sebut baru itu adalah elemen estetika yang sebelumnya tidak pernah saya saksikan dalam karya lukis Hajri. Elemen baru itu hadir berupa garis-garis tegas tebal (kebanyakan vertikal) serta percikan atau cipratan cat pada karya lukisan sebagian besar bergaya ekspresionis ini.
Hajri sendiri mengakui dua elemen baru itu ditemukannya saat proses berkarya menuju pameran “Kuda Cahaya” ini. Dan ia merasa cukup puas dengan dua penemuan itu, yang sebenarnya juga bukanlah “barang baru” sebagai bentuk estetik pada karya lukis. Sebab, ada banyak sekali karya lukis yang “memakai barang” itu (garis dan percikan). Namun, ketika dua bentuk itu dipakai Hajri untuk karya lukisnya, ia adalah bentuk asing yang tak pernah ada sebelumnya, dan karenanya ia baru pada karya lukis Hajri.

“Saya sebenarnya terinspirasi garis-garis pada karya lukis Misbach Tamrin. Dan itu saya sampaikan langsung kepada Pak Misbach pada pembukaan pameran,” akunya, di sela kami mengamati lukisannya.
Garis Hajri dengan garis Misbach tentu saja beda. Garis-garis Hajri—yang kemudian ia sebut sebagai “garis cahaya”, tidak membentuk pola yang sama pada setiap lukisan. Garis-garis itu kadang vertikal, horisontal, berbeda dalam dimensi, tak selalu tegak lurus, kadang putus, dan hadir dengan warna-warna yang cukup tegas dan beragam. Sementara garis-garis pada karya Misbach telah membentuk pola; vertikal berselang-seling antara terang dan redup, “Menandakan bahwa hidup kadang senang, kada duka,” ucap Misbach suatu ketika.
Sebagai aksen, kehadiran garis itu kemudian cukup memberikan warna baru pada karya lukis Hajri. Ia seolah menjadi penyeimbang sekaligus memperkaya estetika secara keseluruhan. Tak heran bila nantinya Hajri akan lebih sering memainkan garis-garis itu dalam karya-karya berikutnya.
Yang Menetap
“Yang menetap” adalah apa yang telah kita ketahui sebagai ciri khas dari karya Hajri. Sesuatu yang selalu melekat dan terasa. Yakni ruh sufistik yang ditiupkan pada karyanya, baik yang hadir secara perlambang seperti aksara-aksara Arab, peniup seriuling, kopiah sikke (berbentuk tinggi), tarian Sema, ataupun yang tak langsung merujuk pada ke semuanya itu—namun kita seakan merasakan getaran yang bersifat transenden.
Satu lukisannya yang terasa memberikan kedalaman kontemplatif yakni lukisan berjudul “Ambang Cakrawala (Homage to Amang Rahman)”, akrilik di atas canvas 40X150 cm. Di sana seakan terbentang suatu kesunyian yang berlarat sepanjang garis cakrawala, dialun putih buih, antara langit yang biru kelam dan tanah kecokelatan. Seekor kuda tampak kecil dan sendiri, membayangkan betapa kita juga sesungguhnya sendiri di keluasan semesta ini. Dan sebatang “pohon Amang Rahman”—bagi pelukis itu karya ini dipersembahkan Hajri, menjulang menjadi penghubung antara tempat berpijak dan yang tak tergapai.

Yang juga “Hajri” adalah pada sesuatu yang tak selesai—bentuk-bentuk yang masih terkesan sebagai skets, garis-garis konsep, atau tak lengkap, dan karenanya ia seakan belum tuntas. Tetapi, yang tak tuntas itu sebenarnya telah genap ketika ia disuguhkan kepada penikmatnya—dan bukankah setiap yang bercitarasa seni memang tak pernah benar-benar sampai pada kata final? Ia hanya akan dikatakan selesai, ketika sang pengkarya mengatakan selesai, meski tangannya masih terasa gatal untuk memberikan sentuhan lagi, dan lagi.
Maka, sesuatu “yang selesai pada yang tak selesai” itu bisa kita lihat pada bentuk kuda yang kakinya tak lengkap, sosok peniup seruling yang sikke-nya hanya sketsa, dan pada bentuk-bentuk lainnya yang bisa kita nyatakan sendiri sebagai yang tak selesai. Barangkali, ketika Hajri merasa telah sampai pada rasa keindahan yang ia kehendaki atau tiba padanya, sekalipun bentuk itu belum tuntas secara bentuk, ia pun menyudahi sapuan kuasnya. Begitu pula pada bentuk yang secara proporsi tak seimbang, ia tidak hendak mendegradasi, menghapus, mengulang, dengan bentuk yang baru—sebab ia telah merasa sampai pada estetik itu.
Yang Berubah
Sesuatu yang terasa “berubah” terlihat pada pemilihan warna untuk karya terbaru Hajri. Bila sejauh amatan saya pada karya-karyanya selama ini seakan melekatkan “biru” dan “terang” yang dominan, setidaknya pada lukisan berjudul “Kuda Cahaya 2” yang terdiri dari empat series kuda berukuran cukup besar itu memberikan kesan ada sesuatu yang bergeser, berubah. Warna-warna gelap menempati bidang cukup besar hingga menyisakan bentuk kuda sahaja. Meski tak bisa meninggalkan “biru”, namun ia tak tak terang, tak juga dominan seperti biasa pada karya-karya sebelumnya.
Bila ada yang bergeser atau terasa berubah, tak seketika pula itu nantinya menjadi pilihan Hajri untuk karya-karya selanjutnya. Bisa jadi, perubahan itu sesuatu tak sengaja yang tercipta dalam penjelajahan dan eksplorasi estetiknya. Seperti halnya bentuk garis dan percikan yang ia temukan sebagai sesuatu yang menurutnya memperkaya karyanya.
Hajri barangkali tidak terlalu mempersoalkan soal bentuk objek; entah selesai atau tak, proporsional atau disproporsional, presisi atau meleset, ketika rasa keindahan itu telah tiba padanya, atau kedalaman pesan telah sampai, maka itu cukuplah baginya. “Keganjilan itu justru seringkali terasa unik, dan berbeda,” ucap Hajri, yang punya niatan akan melakukan pameran keliling pulau Kalimantan ini.

***
“Kuda Cahaya” saya kira telah membawa Hajri pada penjelajahan estetika yang lebih luas, dengan penemuan-penemuan yang tak terduga (bagi dirinya), kemudian menghamparkannya ke hadapan kita. Kini, giliran kita menjelajahinya…@
























