(Catatan pameran seni rupa “Kuda Cahaya” Hajriansyah)
DALAM lanskap seni rupa kontemporer yang ditandai oleh percepatan produksi citra dan kepadatan makna, Kuda Cahaya menghadirkan sebuah ruang jeda sebagai gestur kesadaran. Ia mengusulkan kemungkinan lain dalam mengalami karya: bukan untuk segera dipahami, melainkan untuk perlahan dirasakan, bukan juga untuk dituntaskan, melainkan untuk dihayati sebagai proses yang terus berlangsung.
Dalam kerangka hermeneutika, pengalaman estetik yang ditawarkan dielaborasikan sebagai sebuah peristiwa pemahaman (event of understanding) yang tidak bersifat linear. Pemaknaan tidak bergerak dari objek menuju makna yang tetap, melainkan berputar dalam lingkaran antara pengalaman, prasangka, konteks, dan keterbukaan. Karya tidak hadir sebagai sesuatu untuk dijelaskan, tetapi sebagai sesuatu yang menginterupsi cara kita memahami.
Praktik artistik Hajriansyah berangkat dari kesadaran bahwa diri tidak pernah benar-benar utuh. Ia adalah konstruksi yang terus bergerak, dibentuk oleh pengalaman, ingatan, dan proyeksi yang saling bertumpuk. Dalam pengertian ini, lukisan-lukisan dalam pameran ini tidak hadir sebagai representasi realitas, melainkan sebagai medan artikulasi batin: sebuah ruang di mana yang tak terkatakan menemukan bentuknya melalui garis, warna, dan tekstur. Struktur visual yang palimpsestik, lapisan demi lapisan yang saling menindih menjadi metafora bagi kesadaran yang berlapis, sekaligus menegaskan bahwa identitas selalu berada dalam proses “menjadi” itu sendiri.
Dalam kerangka psikologi sufi, perjalanan manusia dipahami sebagai transformasi dari nafs menuju qalb, dan dari qalb menuju kesadaran ruhani. Kuda Cahaya mengartikulasikan perjalanan ini melalui idiom visual yang khas. Figur kuda, yang hadir berulang dalam berbagai konfigurasi bentuk, dapat dibaca sebagai representasi energi nafs: daya dorong yang menggerakkan, mengguncang, sekaligus menguji.

Kuda dalam karya Hajriansyah tidak pernah sepenuhnya jinak; ia bergerak, melompat, terdistorsi, bahkan terfragmentasi. Ia menandai kondisi batin yang tidak stabil, penuh hasrat, namun juga terbuka pada kemungkinan transformasi.
Lebih jauh, dalam praktik Hajriansyah, kuda tidak semata hadir sebagai simbol tenaga atau kebebasan, melainkan sebagai personifikasi dari daya hasrat yang paling purba dalam diri manusia— gairah yang mendahului bahasa, nalar, bahkan kesadaran itu sendiri. Ia adalah impuls primer yang menggerakkan manusia untuk mengejar, memiliki, mencintai, menghancurkan, dan melampaui dirinya. Dalam pengertian ini, kuda bukan sekadar metafora nafs sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai energi vital yang justru memungkinkan transformasi terjadi. Sebab dalam horizon sufistik, manusia tidak menjadi tercerahkan dengan meniadakan hasrat, melainkan dengan mengolahnya; bukan mematikan kuda, tetapi belajar menungganginya.
Pada tangan Hajriansyah, figur kuda hadir sebagai tubuh afektif: ia merekam ketegangan antara dorongan instingtif dan kehendak untuk sadar. Tubuh-tubuh kuda yang teregang, berlapis, kadang pecah ke dalam gestur yang nyaris abstrak, memperlihatkan bagaimana hasrat bekerja bukan sebagai bentuk yang stabil, tetapi sebagai energi yang terus bergolak, menubruk batas-batas kesadaran. Di sana, kuda menjadi citra dari batin manusia yang tidak pernah sepenuhnya tenang—selalu bergerak antara lapar dan pengendalian, antara gairah dan disiplin, antara dorongan duniawi dan kerinduan akan sesuatu yang lebih tinggi.
Dalam pembacaan ini, kuda Hajriansyah tidak hadir sebagai simbol kemenangan atas nafs, tetapi sebagai pengakuan jujur bahwa perjalanan spiritual selalu bermula dari pergulatan dengan sesuatu yang liar dalam diri. Ia adalah medan konflik antara tubuh dan jiwa, antara insting dan kontemplasi.

Maka setiap figur kuda dalam karya-karya ini dapat dibaca sebagai potret manusia dalam kondisi paling eksistensialnya: makhluk yang digerakkan oleh hasrat, namun sekaligus terus mencari bentuk untuk mentransformasikannya menjadi kesadaran.
Berhadapan dengan kuda, cahaya hadir sebagai kualitas yang berbeda: tidak agresif, tidak dominan, tetapi mengendap. Ia tidak memancar sebagai pusat dramatik, melainkan menyebar sebagai bias, menyusup ke dalam bidang warna, meresap melalui tekstur-tekstur, dan kadang nyaris tak terlihat. Cahaya di sini bukan sekadar fenomena optik, tetapi pengalaman epistemik: sebuah cara mengetahui yang tidak bersifat deklaratif, melainkan intuitif. Ia beresonansi dengan gagasan tentang nur, pengetahuan batin yang hadir melalui pengalaman, bukan penjelasan.

Secara formal, karya-karya dalam pameran ini menunjukkan kecenderungan eksploratif yang menolak kemapanan gaya.
Hajriansyah mengolah unsur-unsur rupa—garis, bidang, warna, dan tekstur dalam relasi yang cair dan terbuka. Sapuan kuas yang gestural, komposisi yang cenderung asimetris, serta penggunaan warna yang intens membentuk medan visual yang dinamis sekaligus kontemplatif. Tidak ada upaya untuk mencapai bentuk final yang stabil; yang ada adalah keberanian untuk terus berada dalam ketidaktuntasan. Dalam konteks ini, lukisan menjadi bukan sekadar objek, melainkan proses: sebuah praktik yang mendekati pengalaman hidup itu sendiri.
Repetisi menjadi artikulasi paling jelas dalam praktik ini. Namun, pengulangan yang dihadirkan tidak berfungsi sebagai reproduksi mekanis, melainkan sebagai intensifikasi pengalaman. Dalam setiap pengulangan, selalu terdapat deviasi—perbedaan halus dalam gestur, tekanan, dan warna yang justru membuka ruang bagi pendalaman kesadaran. Ritme yang terbentuk menghadirkan kualitas meditatif, di mana visualitas bekerja bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi juga dirasakan sebagai denyut yang mengendap dalam tubuh.
Di samping itu, konfigurasi simbolik berkembang menjadi lanskap batin yang lebih kompleks. Ia berkembang sebagai jaringan makna yang intertekstual, menghadirkan ambivalensi, ketegangan, sekaligus kemungkinan pembacaan yang berlapis. Figur, bentuk, dan tanda tidak dimaksudkan untuk mengunci arti, melainkan untuk membuka ruang kontemplasi yang cair. Dalam konteks ini, karya menjadi semacam teks yang tidak selesai dan mengundang pembacaan ulang, penafsiran ulang, dan bahkan kesalahpahaman sebagai bagian dari pengalaman estetik itu sendiri.
Dalam horizon pemikiran Ibn Arabi, realitas hadir sebagai “tajalli”, penampakan yang terus berubah, di mana kebenaran tidak pernah menetap dalam satu bentuk. “Wujud itu satu, tetapi penampakannya tak terhitung,” demikian ia pernah isyaratkan. Maka, bentuk-bentuk visual dalam karya ini tidak dapat dipahami sebagai entitas final, melainkan sebagai perlintasan: muncul, lenyap, dan kembali dalam kemungkinan yang lain.
Menariknya, Kuda Cahaya tidak terjebak dalam romantisasi spiritualitas. Ia tidak menawarkan pencerahan yang instan, tidak pula mengarahkan pada kesimpulan yang pasti. Sebaliknya, pameran ini justru merayakan ketidaktuntasan sebagai kondisi eksistensial. Perjalanan batin dipahami sebagai sesuatu yang rapuh, berulang, dan seringkali tidak pasti. Dalam hal ini, praktik Hajriansyah menjadi relevan: ia menghadirkan spiritualitas sebagai pengalaman yang sangat manusiawi—dekat, cair, dan terus berubah.
Dalam realitas yang menuntut kecepatan, kejelasan, dan kepastian, Kuda Cahaya mengajukan kemungkinan lain: bahwa ada nilai dalam melambat, dalam meragu, dalam tidak segera memahami. Bahwa pengetahuan tidak selalu hadir sebagai jawaban, tetapi seringkali sebagai pertanyaan yang bertahan. Dunia tak memberi ruang untuk berhenti, jeda menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi. Dan mungkin, pulang bukanlah penyelesaian, melainkan kesadaran bahwa yang kita cari tak pernah benar-benar meninggalkan kita, hanya terkubur di bawah reruntuhan yang terus kita bangun untuk bertahan.
Maka pameran ini pada akhirnya bukan tentang tiba, melainkan yang tersuspensi di antaranya, di ambang antara dorongan yang tak pernah selesai dan kesadaran yang selalu datang sebagai sisa. Selamat menikmati perjalanan Anda.@
























