“Kaget juga tadi…. Saya kira ada apa, kah!”

TEATER Seroja adalah grup termuda dari total delapan belas peserta yang mengikuti Festival Teater Bahasa Banjar II, di Taman Budaya. Grup teater dari SMPN 2 Banjarmasin ini mendapat giliran tampil di hari terakhir festival, Minggu (25/10), dengan lakon Antara Hidup wan Sida. 

Di atas pentas terlihat sebuah gubuk dari kardus bekas, di lantai terserak botol-botol mineral bekas. Walau tata panggungnya buruk, tidak imajinatif—miskin tafsir simbolis (headline koran yang bisa dipakai untuk menghadirkan makna tertentu pun tidak dipakai, padahal simbol adalah kekuatan setting suburban), tetapi kesan gubuk pemulung sudah bisa dipahami penonton.

Masuklah seorang anak kecil ke dalam panggung. Tubuhnya kurus, berpakaian lusuh, membawa buku dan pensil. Kemudian ia duduk di atas meja reot, lalu berdendang dengan riangnya. Suara musik mengiringi wajahnya yang gembira.

“Kasiani anak pipit, ambilli anak pipit, jangan biarkan anak pipit dalam sangsara…

Nah, hapal dah aku lagu Anak Pipit. Kawa dah isuk maju. Lanjut tugas matematika pulang!”

Lagu dan karakter Mutmainah (Raya Attama Salsabila) melempar kenangan kepada suatu masa di Banjarmasin ketika karhutla belum merampas kegembiraan, ketika jalanan belum sesak mencekik sabar.

“Anak pipit gugur matan di sarang, ka tanah, di sala rapun sarai…”

Ada sekian lama Mutmainah bermonolog di atas panggung. Kemudian masuklah Mayang (Malika Asyfa) masih dengan seragam sekolah membawa sekarung botol bekas.

“Lumayan kawa kena kita jual, sagan tambahan ikam sakolah,” katanya menjawab tanya adiknya soal botol-botol itu.

Mendengar kakaknya repot-repot memulung hanya buat jajannya, Mutmainah protes.

“Kada jajan kada papa A, kawa aja kena makan MBG!”

Kedua kakak adik kemudian belajar bersama. Dialog-dialog perlahan-lahan membangun karakter masing-masing sekaligus memperjelas latar kehidupan mereka.

Tidak lama, masuklah Minah (Alihsa Nabila Azhar). Kakak tertua. Satu-satunya yang tidak sekolah. Dari sini konflk mulai dibangun. Minah mencecar Mayang karena beberapa hari lalu gubuk mereka didatangi Guru BK dan Wali Kelas. Mayang ternyata sudah sering membolos.

“Jadi kenapa ikam alpa lima kali?”

“Kada papa, ae. Handak membantui Pian banar, ae, bacari duit.”

“Lain tugas ikam! Urusan duit itu biar aku aja nang mamikirakan. Kada usah membantu!”

“Kulihan Pian kada cukup sagan kita batiga! Makan, gin, sebuting intalu bagi tiga!”

“Mayang!”

Jalan cerita kemudian menjadi mudah ditebak. Apalagi ketika kawan-kawan sekolah datang ke gubuk merundung Mayang. Layaknya kisah anak miskin di sekolah favorit versus anak-anak kaya.

Tetapi perundungan itu berbuah petaka. Walau Mayang jadi sasaran, kedua saudaranyalah yang justru cedera parah. Si kecil periang Mutmainah terkulai tak sadarkan diri, asmanya kambuh karena ikut bergelut membela Mayang. Minah kepalanya terluka karena melindungi Mayang dari pukulan.

Mendapati kejadian tidak terduga itu, para perundungan kabur. Tinggallah Mayang tidak berdaya di dalam gubuk. Melihat dua saudaranya tidak bergerak-gerak, Mayang menjerit dalam penyesalan, juga menyebut-nyebut kedua orang tuanya yang sudah tiada.

“A Minah… bujur jar Pian. Harusnya ulun ni minta maaf ja. Harusnya Ulun nih kada usah melawan. Ulun ni kada pintar, dasar kada pintar… Gegara Ulun buhan Pian nang kena!

Mama!

Abah!”

Mayang menangis sesenggukan di atas panggung.  Di latar kembali terdengar alunan lagu anak Pipit. Perlahan-lahan lampu padam.

Para pemain Teater Seroja usai pementasan “Antara Hidup wan Sida”. (Foto” zal)

AJAIBNYA PANGGUNG TEATER

Dan terjadilah… 

Walau ceritanya klise, walau endingnya mudah ditebak, tetapi “keajaiban” panggung teater yang bekerja maksimal di akhir cerita, sekali lagi, telah memberikan pengalaman yang sukar kita dapatkan dari jenis hiburan biasa lainnya.

Di depan Balairung Sari ada penjual makanan. Penuh penasaran dia bertanya, apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam gedung teater. Setelah saya jelaskan, dia akhirnya mengerti.

“Kaget juga tadi melihat banyak orang menangis ke luar dari sana. Saya kira ada apa, kah!” ujarnya tersenyum.

Masih ragu, saya mencari lagi beberapa penonton. Sampai yang duduk paling atas (sahih, karena bisa melihat tingkah penonton di bawahnya). Semua kesaksian mereka ternyata sama: kisah sinetron itu memang beraroma bawang!

Barulah setelah bertanya ke sana dan ke sini, saya mendapatkan dua fakta penting. Pertama, ternyata adegan Mayang meraung di dalam latihan mestinya tidak sepanjang adegan di atas panggung. Sutradara, konon, sempat urung mematikan lampu melihat adegan penyesalan Mayang masih menarik untuk dipertontonkan.

Kedua dan terpenting: Malika perlu waktu keluar dari karakter Mayang. Selepas pentas di halaman Taman Budaya, saya melihat bahasa tubuhnya masih tertahan, ada upaya yang ia usahakan untuk bergembira menerima apresiasi dari teman-temannya. Dan ketika saya mendekat, bibirnya tersenyum dalam getaran. Matanya masih sembab.

“Iya, tadi full (emosional) di panggung.  Itu tidak pernah saya alami ketika latihan,” akunya (setelah sempat beberapa kali gagal menangkap maksud pertanyaan wartawan).

Dari kedua fakta itu, seperti yang sudah saya bilang usai menonton Naf’s garapan IB Production, inilah hiburan mahal teater. Inilah keindahan teater. Ketika emosi penonton dan pemain bertemu dalam waktu dan ruang yang sama.

Jika para penonton tidak sungkan larut sepenuhnya dengan emosi pemain, sesudahnya yang muncul adalah perasaan lega. Walau tidak bisa juga kita kesampingkan, dalam tema serta konsep gagasan tertentu, penonton bisa saja mengalami “kelelahan” setelah ke luar dari gedung teater, sebab dinding pertahanan psikologis si penonton sudah runtuh.

Di sini penting, tetap memberikan makna dalam tubuh teater, tanpa terjebak dalam eksploitasi emosi. Ada garis terang antara kelelahan karena proses refleksi dengan kelelahan karena konsep yang buruk.

Kembali ke Seroja. Puncak emosi pemain (yang tidak dia dapatkan dalam latihan) bisa terjadi alamiah di atas panggung ketika energi penonton fokus ke arahnya. Begitu juga sebaliknya. Dugaan saya, sedari awal Seroja telah membuat penonton jatuh hati lewat tingkah Mutmainah dan melodi lokal legendaris gubahan Hamiedan AC: Anak Pipit.

Pegiatan seni, budaya dan film Embie C Noer di malam penutupan FTBB tidak sungkan memberikan pujian kepada para pelajar SMP itu. Lebih jauh Embie menilai, selama festival yang digagas dramawan Edi Sutardi ini berlangsung, Kalimantan Selatan juga telah memperlihatkan keindahan persaudaraan para seniman lintas generasi.

“Festival teater Banjar ini adalah jalan kita untuk pulang,” katanya.@