Lakon realis berbahasa Banjar karya Hidayatul Fikrie mengajak penonton duduk di ruang tamu yang sama dengan Dijjah, untuk melihat apa yang ia lihat setiap hari. Sebuah konflik domestik.
ADA dua jenis keheningan. Pertama, ketika tidak ada satu kata pun yang diucapkan. Yang kedua, ketika rentetan kata-kata justru sedang digunakan…”
Dramawan Inggris Harold Pinter menulis kalimat itu pada 1962. Di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026) malam, dua jenis keheningan itu hadir lewat lakon berjudul “Dijjah”.
Hening pertama milik Dijjah, anak perempuan tunawicara. Yang kedua milik rumah tempat ia tinggal. Orangtuanya lengkap. Namun, kelengkapan tak menjamin kebahagiaan. Perkelahian ayah dan ibunya berpusar di ruang tamu itu.
Hampir sepanjang pertunjukan, Dijjah tak mengucapkan satu kalimat pun. Ia hanya duduk di kursi roda dengan boneka Pikachu di pangkuan. Ia menggumam, “a… aaa,” atau menulis di selembar kertas lalu menyodorkannya kepada neneknya.
Namun, dari tokoh yang nyaris tanpa suara itulah lakon Dijjah terdengar nyaring menyuarakan kesehatan mental akibat konflik domestik. Lakon ini dipentaskan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Amuntai dan disutradarai Hidayatul Fikrie.
Panggungnya sederhana. Panel kayu kecokelatan, tirai putih tipis, foto-foto kecil di dinding, meja bertaplak merah, dan kursi kayu tua. Lampu merah redup menyapu lantai.
Di meja itu, Nini, sang nenek, menyuapi Dijjah bubur sambil bersenandung lagu “Kasih Ibu”. Ia berjanji mengajak cucunya ke taman. Dijjah menjawab lewat tulisan: ia ingin Abah dan Mama ikut.
Nini membaca, mengiyakan. “Mudah-mudahan limbah bajalanan tuh abah wan mama akur pulang nang kaya bahari” (semoga setelah jalan-jalan itu Abah dan Mama akur lagi seperti dulu).
Harapan itu tak bertahan lama. Sang ibu yang sudah berdandan necis siap keluar rumah. Si ayah menahannya.
“Ari parak kadap dah… kadadakah ikam baisian waktu gasan kaluarga di rumah?” (Hari hampir gelap… tak adakah waktumu untuk keluarga di rumah?)
Si ibu menjawab dengan tawa getir. “Napa kada ikam takunakan wan dirimu saurang” (Kenapa tidak kautanyakan pada dirimu sendiri).
Pertengkaran meledak. Sepanjang pertunjukan penonton disodorkan dengan adegan pasutri cekcok, juga kesedihan sang anak menanggung konflik yang seolah tak berkesudahan tersebut.
Adegan paling menarik terjadi saat panggung mendadak gelap dan cahaya merah berpendar. Di sisi kanan, di balik kain tipis yang disinari dari belakang, muncul dua bayangan hitam. Bayangan ayah dan ibu Dijjah membuat keduanya menjadi raksasa. Horor itu mencekam, terutama bagi sang anak.
Pilihan ini jitu. Pertengkaran tak lagi tampak sebagai urusan dua orang dewasa. Ia menempel di rumah itu dan tak bisa dihindari oleh si ana. Inilah hening kedua. Banjir kata yang menutupi apa yang tak terucap.
Nini mencoba menenangkan perkelahian. “Kasihan Dijjah… inya tuh masih halus tapi am satiap hari, satiap waktu malihat kalakuan buhan ikam badua nih” (Kasihan Dijjah… dia masih kecil, tapi setiap hari, setiap waktu melihat kelakuan kalian berdua).
Dijjah menangis tersedu. Tubuhnya berguncang. Mulutnya mengeluarkan bunyi tertahan. Nini menjadi satu-satunya penjaga. Ia menenangkan cucunya, menyuapkan obat, melerai anak dan menantunya, sambil terus meminta Dijjah kuat.
Naskah ini juga tak membuat orang tua Dijjah menjadi hitam belaka. Ayahnya di-PHK dan sekitar setahun tak mendapat pekerjaan tetap.
“Gara gara aku di PHK limbahnya satahunan ni kada kulihan lagi gawian nang natap,” katanya (karena di-PHK, setahun ini aku tak lagi mendapat pekerjaan tetap).
Si ibu menanggung beban jadi pencari nafkah, meski bersikap abai terhadap urusan anaknya.
Di situlah lakon ini terasa riil. Tekanan ekonomi, harga diri yang runtuh, dan kelelahan bertemu di ruangan sempit. Di puncaknya, Dijjah memilih mengakhiri hidupnya. Orang tuanya datang, dan bahkan di hadapan tubuh anak mereka, keduanya masih saling menyalahkan.
Nini akhirnya meledak. “Tutuhuk waktu Dijjah hidup… sampai pulang detik nginih inya mati, buhan ikam badua nih sanggup bacangkurah dihadapan mayatnya” (Sepanjang hidup Dijjah… sampai detik ini ia mati, kalian berdua sanggup bertengkar di hadapan jasadnya).
Beberapa kalimat kemudian ia menyebut Dijjah “mamilih mati kada talihat buhan ikam badua tuh akur” (memilih mati tanpa melihat kalian berdua akur).

Panggung lalu gelap. Hanya ada satu sorot lampu. Dijjah, kini di alam setelah kematian, duduk di ayunan sambil mendekap boneka, menyanyikan “Indonesia Pusaka” dengan tersedu.
Kata seorang kawan yang menonton lakon itu, tangisnya jujur, tanpa dibuat-buat.
Dijjah fiksi. Topik yang diangkat tidak.
Dinas PPPAKB Kalimantan Selatan mencatat kekerasan terhadap perempuan naik dari 333 kasus pada 2021 menjadi 668 pada 2022. BRIDA Kalsel menyebut 531 kasus dengan korban perempuan dan 147 dengan korban laki-laki sepanjang 2023.
UPTD PPA Kalsel melaporkan 371 korban perempuan dan 98 korban laki-laki hingga Agustus 2024. Banjarmasin, Banjarbaru, dan Hulu Sungai Selatan paling menonjol.
Sebuah kajian ULM mencatat pelaku berstatus suami atau istri paling banyak, 78 orang, yang menunjukkan besarnya porsi kekerasan dalam rumah tangga. Secara nasional, KDRT mencakup 73 persen kasus menurut tempat kejadian pada Januari–November 2023.
Kenaikan angka bisa berarti kekerasan bertambah, bisa juga berarti pelaporan membaik. Kasus kekerasan lazim disebut fenomena gunung es.
Di pengadilan agama, polanya mirip. Pada 2020, pengadilan agama se-Kalsel menerima 10.985 perkara perceraian, dan PA Banjarmasin selalu tertinggi. Di sana, alasan terbanyak adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus (566 perkara pada 2020, 620 pada 2021), disusul faktor ekonomi (431 dan 545).
Di Kabupaten Banjar pada 2024 tercatat 815 perceraian: 168 cerai talak dan 647 cerai gugat. Secara nasional, 54,3 persen perceraian pada 2023 dipicu perselisihan dan pertengkaran.
Kategori itu adalah payung. KDRT, masalah ekonomi, dan faktor lain bisa tercakup di dalamnya, jadi tak otomatis berarti kekerasan.
Bagaimana dengan anak-anaknya? Cukup konsisten; masalahnya berulang. Konflik keluarga berkepanjangan dan perceraian dikaitkan dengan stres, kecemasan, dan depresi pada anak.
Di lakon ini, Nini satu-satunya orang dewasa yang benar-benar mendengar Dijjah. Ia membaca setiap kertas yang disodorkan dan menjawab setiap gumaman.
Pada akhirnya, lakon ini menjadi cermin realitas domestik yang masih sering terjadi, tak hanya di Kalsel, tapi juga seluruh dunia.@





























