USIA tidak menjadi halangan untuk terus berkarya. Ini pula yang dilakoni Iberamsyah Barbary. Dalam usianya yang telah mencapai 77 tahun, penulis asal Kota Banjarbaru ini kembali meluncurkan sebuah buku pantun berjudul “Talibun Cinta”.
Peluncuran dan diskusi ini terselenggara atas keja sama Akademi Bangku Panjang Mingguraya dengan Yayasan kamar Sastra Nusantara, bertempat di Kevin Cafe & Resto, Jalan Karang Anyar I Banjarbaru, Jumat (23/5/2025) sore.
Dihadiri sejumlah mahasiswa, guru, pelajar, pegiat buku, perwakilan komunitas, pihak Darpusda Banjarbaru dan Balai Bahasa Prov Kalsel, terlihat juga sejumlah seniman dan penulis di antaranya Arsyad Indradi, Gusti Ardiansyah, Anang Muslim, serta penulis muda Muhammad Daffa, Rafii Syihab, dan Musa Bastara. Termasuk Berry Nahdian Forqan, aktivis dan tokoh pemuda di Banjarbaru. Termasuk Berry Nahdian Forqan, aktivis dan tokoh pemuda di Banjarbaru.
Dimoderatori oleh Hudan Nur dan pembicara Prof Ersis Darmansyah Abbas, acara berlangsung sederhana dan penuh keakraban.

” Buku pantun ini tanda cinta dan bangga saya pada seni budaya nusantara,” ucap Iberamsyah yang baru-baru tadi mendapatkan penghargaan achievement di acara Festival Literasi Banjarbaru yang diselenggarakanatas oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Banjarbaru, atas dedikasinya dalam dunia menulis.
Soal buku barunya “Talibun Cinta”, Iberam–begitu biasa disapa, mengatakan ada sedikit perbedaan dengan pantun pada umumnya. Bila pantun memiliki dua sampiran dan dua isi, sementara talibun 3 sampiran dan 3 isi. ” Namun secara rima tetap sama,” ujar Iberam yang penulis buku gurindam ini.
Prof Ersis menyatakan kekaguman dan salut kepada Iberamsyah yang masih terus menulis di usia yang sudah sepuh. “Saya punya banyak teman yang suka bicara, tapi saya lebih suka dengan teman yang suka menulis,” ujar Ersis, yang dikenal produktif menulis buku motivasi menulis ini.
Ersis juga mengingatkan, bahwa budaya menulis masyarakat Banjar itu sudah ada sejak lama. “Syech Arsyad Al Banjari yang dikenal dengan kitab Sabilal Muhtadin,” ucap Ersis menyebut tokoh ulama kelahiran Martapura yang telah menulis kitab sejak tahun 1188 Hijriah atau 1774 Masehi itu.
Soal pantun, Ersis menyatakan itu menjadi keseharian masyarakat Padang. “Termasuk mau melamar. Nah, kalau Pak Iberamsyah ini mau melamar wanita Padang, pasti diterima karena pandai berpantun,” ucapnya yang disambut tawa peserta.
Pertanyaan menarik diajukan Berry Nahdiana Forqan. “Bisa tidak pantun memotret kondisi sosial ekonomi politik saat ini. Atau hal lainnya yang kontekstual seperti narkoba, lingkungan. Akan sangat menarik bila nisa masuk ke ranah itu,” katanya.
Meski Iberamsyah menyatakan bisa, namun tidak ada contoh pantun yang bisa disebut atau dibacakan.
Suasana Diskusi buku pantun Talibun Cinta
Adapun Arsyad Indradi dalam kesempatan itu membacakan beberapa pantun, serta pantun spontan yang langsung ditampilkan. Para peserta juga mendapatkan buku “Talibun Cinta” yang masih dicetak terbatas. “Buku ini masih belum dijual bebas. Yang sudah dicetak saya hibahkan saja,” ucap Iberamsyah yang masih bugar, kendati ditopang sebuah tongkat saat berjalan.@


























