MATAHARI pagi itu baru benar-benar terbit menghias langit. Embun di dedaunan belum menguap lepas menjadi partikel air mikroskopis ke udara. Banjarbaru memulai kebaruannya, manusia-manusianya beraktivitas merajut hari. Aku pun begitu. Jumat, 28 November aku menuju Desa Bi’ih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar dan akan menginap di sana hinggia Minggu siang tiba. Perjalanan dari Banjarbaru menuju Bi’ih dapat ditempuh selama 44 menit jalur darat sebagai satu-satunya akses menuju desa.
Sesampainya, aku diarahkan menuju rumah kayu tua yang kokoh berdiri. Di depannya, sebatang pohon rambutan mulai berbuah, lebat dan segar. Di ruang tamu, tertata rapi sofa tua dan meja kaca, foto K.H. Ahmad Dahlan dan lambang Muhammadiyah menghiasi dan menambah kesan sejarah di rumah itu. Tertulis di bagian ventilasi “25/9/1989” yang ujar tuan rumah adalah tanggal rumah ini dibangun. Rumah itu milik keluarga Asyikin Nor (43)‒ia pula yang akan mendampingiku dengan dua temanku selama di Bi’ih. Ikin adalah seorang pekerja di perusahaan BUMN, ia bertugas untuk memotong ranting-ranting kayu yang mengganggu kabel listrik sekitar Martapura sampai Astambul. Hari kerjanya di kota adalah Senin hingga Kamis, sebelum Jumat sampai Minggu diisi oleh kegiatan kerja desa: bertani, menyadap karet, dan memetik buah bila musim buah tiba.
“Kalau sedang libur dan tidak hujan, sedari pagi aku akan berangkat menyadap karet, namun tidak lama dan langsung ke tengkulak. Siang hingga sore aku akan bertani di sawah. Sawahku sekitar satu jam dari rumah,” terangnya.
Bi’ih adalah desa yang kaya akan hasil alam, terutama durian, hingga pernah diadakan festival durian beberapa tahun silam. Namun, kini kuantitas panen buah durian mulai menurun.

“Aku tidak tahu kenapa sebabnya, beberapa tahun terakhir durian tidak lagi semelimpah dulu,” ujar Ikin. “Dulu setiap musim buah tiba, hama yang mengganggu buah adalah keluang (sejenis kelelawar besar), tupai, dan cengkerawak (possum layang), kini pun jarang terlihat kecuali tupai saja,” jelasnya lagi.
Aku bertanya tentang penamaan Bi’ih. Ikin menjawab dengan jawaban unik yang pernah kudengar sebelumnya. “Orang tua dulu bilang bahwa ada warga yang saat itu membawa gadur (baskom) dan tergelincir hingga akhirnya gadur itu jatuh dan belah. Maka, refleks terucap “beehhh” hingga kini berubah menjadi Bi’ih. Bahkan ada juga nama daerah di sekitar Bi’ih yang dikenal dengan Balah Gadur,” jelas Ikin menambah kadar percayaku. Seorang kawan teringat nama desa asalnya, Mahang yang berasal dari nama tanaman kayu keras. “Sayang, aku tidak lagi menemui pohon mahang di kampungku.”
Atas cobaan yang sedang menimpa, bersabar dan tetap berusaha, bisa jadi itulah cara Allah menghapuskan dosa kita. Niatkanlah yang baik-baik, pesan khotib salat Jumat dalam khotbahnya yang tahu bahwa bangsa Dunia Ketiga sedang mendapat kesusahan kolektif. Namun, di desa menyimpan titik kedamaian. Setelah salat Jumat, aku pergi menuju kantor desa untuk satu agenda. Terlihat seorang bocah gempal mendekati kerumunan kami, orang-orang asing yang sedang makan siang. Baju putih dan celana biru tua menambah gemas bocah itu. Ramah ia menyambut sepiring nasi berlauk ikan goreng dan sayur asam.

Kurasa, hidup di desa fondasinya adalah rasa saling percaya. Aku belum memiliki bayangan bahwa jika bocah itu pulang ke rumah dan bercerita pada ibunya bahwa ia diberi makan oleh orang asing akan dimarahi dan dilarang menerima pemberiannya. Tidak demikian. Malah, mungkin sang ibu akan bertanya: “Nak, apakah kau ingat mengucapkan terima kasih?”
Malam pun tiba. Ikin duduk di ruang tamu menyambut kami yang baru pulang kegiatan. Kopi dan camilan ia suguhkan untuk menemani kami bertukar cerita. Ikin adalah tipe bapak yang ramah dan gemar mengobrol. Ia bercerita tentang sejarah hidupnya dan keinginannya untuk tetap hidup di desa.
“Aku lahir di sini, keluargaku pun di sini. Untuk hidup di kota sungguh tidak pernah kuniatkan sejauh ini, bahkan aku punya keinginan untuk meninggal dan dimakamkan di tanah kelahiran. Mungkin aku akan pindah ke kota, jika desa luluh lantak oleh bencana, semoga tidak,” harapnya.
Sedikit menyeberang dari rumah Ikin, ada gedung serbaguna milik desa. Di sana akan ada agenda nonton bareng film The Burning Season (1994) yang menceritakan kisah perjuangan Chico Mendes, aktivis lingkungan dari serikat pekerja penyadap karet asal Xipuri, Brasil. Mendes bersama kelompoknya berjuang untuk mempertahankan hutan hujan Amazon dari sentuhan proyek elite yang tidak adil bagi penghuni Amazon. Film yang berdurasi hampir dua jam itu berhasil membuat beberapa penonton menitikkan air mata. Menimbulkan tanyaku: Mengapa mereka menangis? Apakah mereka hanyut dalam alur film atau mereka mengalami apa yang Mendes rasakan? Entahlah. Film selesai diputar dan ditutup dengan sesi memasak dan makan bersama hingga pukul satu malam.
Hidup di Desa Bi’ih memberi gambaran bahwa ketenangan, kehangatan, dan rasa saling percaya tetap tumbuh subur di tengah perubahan zaman. Melalui Ikin dan warga desa lainnya, tampak bahwa kebersamaan, kerja keras, dan penghargaan pada alam adalah esensi hidup. Pengalaman singkat ini menunjukkan bahwa desa bukan hanya ruang geografis, melainkan ruang batin yang memulihkan, tempat manusia kembali mengenali dirinya, menghargai proses, dan merayakan kedamaian yang jarang ditemukan di kota.

Saat perjalanan pulang dimulai pada Minggu siang, yang tertinggal bukan hanya ingatan tentang rumah kayu, kebun durian, atau obrolan hangat di ruang tamu, tetapi juga pelajaran bahwa keseharian masyarakat desa menyimpan makna besar tentang keteguhan, syukur, dan kesederhanaan yang membahagiakan. Aku melintasi jalanan yang di sisinya terdapat aktivitas tambang yang diduga kuat ilegal komplet dengan nganga lubang bekas galian tambang. Mungkin kelak, pengetahuan akan diwariskan dengan sedikit pergeseran, “beehhh” tidak lagi refleks saat gadur belah, melainkan refleks saat mata terbelalak melihat kondisi kerusakan yang kian terakumulasi.
Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa, ujar Bung Hatta.@
































