SEJAK tahun 1981 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta secara konsisten memberikan penghargaan kepada pelaku seni yang telah berkontribusi untuk memasyarakatkan seni dengan indikator dampak atau pengaruhnya di Yogyakarta dan ekosistem seni di Indonesia secara makro. Kendati sepanjang 1981-2017 bernama Penghargaan Seni Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan kemudian belakangan menjadi Anugerah Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebanyak 28 penerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 dihadirkan dalam rangka implementasi Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 32 Tahun 2023 Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan tentang kategorial penerima Anugerah Kebudayaan dengan kebaharuan nama, mekanisme, dan juga kategorisasinya.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi DIY penerima anugerah kebudayaan semakin meluas tidak saja pada aspek seni tradisi namun juga pada tingkat ekosistem yang lebih multisektor.
“Secara garis besar, penjaringan bakal calon dibuka dengan berbagai sumber dan pelibatan seluruh OPD lintas sektor untuk dapat menjadi promotor. Dan terbagi ke dalam 4 kategorial penghargaan, yaitu: Mpu/Maestro, Pelaku dan Pelestari serta Pelopor, Pembaharu dan Kreator.” Ungkap Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya di Pendopo Keraton Pemerintah DIY, Senin (1/12/2025).
Misbach Tamrin mengenakan busana Gagrak khas Keraton Yogyakarta
Adapun kategorial jenis penghargaan tersebut, yaitu; Pertama, Penghargaan Anugerah Maha Adi Dharma Budaya, Anugerah Kebudayaan yang diberikan individu yang memiliki komitmen utama yang kuat dan mendharmakan diri untuk pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua, Penghargaan Maha Bakti Budaya, Anugerah kebudayaan yang diberikan kepada individu yang memiliki pengabdian luar biasa untuk pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di Yogyakarta.
Ketiga, Penghargaan Adikara Cipta Budaya, penghargaan kebudayaan yang kepada individu yang menciptakan gagasan dan karya budaya yang menjadi inspirasi bagi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Keempat, Penghargaan Upakarya Budaya, penghargaan kebudayaan yang diberikan kepada individu atau lembaga yang memiliki jasa dan prestasi pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan pada cabang bidang keahlian bidang kebudayaan, arsitektur, kesehatan, industri kreatif, keamanan dan ketentraman, pariwisata, pemerintahan, lingkungan, keagamaan, pendidikan, pemuda, olahraga, media, kerjasama, perhubungan, serta usaha mikro kecil dan menengah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Semoga dengan adanya penghargaan ini, seluruh insan pegiat kebudayaan dari sisi aspek bidang apapun dapat ditempatkan sebagai seorang pahlawan kebudayaan dengan kontribusi pada cabang bidang keahliannya masing-masing,” pungkas Kadis Kundha Kabudayaan.
KGPAA Paku Alam X menyerahkan Penghargaan Upakarya Budaya kepada Misbach Tamrin
Selain 28 penerima anugerah kebudayaan, turut hadir 15 kurator atau tim juri, sejumlah pejabat forkopimda Daerah Istimewa Yogyakarta, keluarga dan kerabat penerima. Hadiah anugerah tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur DIY yang diwakili oleh Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X.
MISBACH TAMRIN TERIMA ANUGERAH BIDANG UPAKARYA BUDAYA
Penghargaan “Anugerah Kebudayaan” adalah upaya menempatkan kebudayaan–pelakunya, bentuk ekspresi budayanya–yang teraba/berbentuk dan yang nir-bentuk (tangible dan intangible) sebagai sasaran/obyek pemberian penghargaan.
Salah satu putra terbaik Kalimantan Selatan, Misbach Tamrin dinyatakan telah berkontribusi dan mengharumkan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan Indonesia, dan forum dunia. Didukung Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan dan BPK Wilayah XIII Kaltengsel, Misbach Tamrin bersama HE. Benyamine (Direktur Akademi Bangku Panjang Banjarbaru), Adhansatya Praja (Tim Produksi Film Kulminasi dan Manajemen Wabul Sawi Festival), Zahra (BPK Wilayah XIII Kaltengsel) serta didamping sang istri hadir untuk menerima anugerah yang sangat membanggakan tersebut.
Misbach Tamrin diapit (kika) Adhansatya Praja, Mikke Susanto (Kurator Anugerah Kebudayaan DIY), Istri Misbach Tamrin, Zahra, dan HE. Benyamine.
Misbach Tamrin, maestro seni rupa Indonesia kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan 25 Agustus 1941 memiliki kontribusi luar biasa sepanjang 7 dekade dalam dunia seni rupa, termasuk aktif dalam pergolakan dinamika zaman. Tahun 1959 masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta dan selesai tahun 1964.
Pada tahun 1961 bersama dengan mahasiswa lainnya (seperti Amrus Natalsya, Kuslan Budiman, Adrianus Gumelar, Isa Hasanda, dan lain-lain) mendirikan bengkel seni “Bumi Tarung” di Yogyakarta.

JEJAK SANG MAESTRO
Karya lukis seniman Misbach Tamrin sangat monumental dan sebagian besar dibuat dengan gaya realis dan sentuhan impresionisme. Tema karya utamanya meliputi kehidupan rakyat biasa, patriotisme, revolusi, Sejarah dan lain sebagainya. Selain sebagai seniman, dia juga menulis dan menerbitkan beberapa buku tentang seni Indonesia.
Misbach yang baru saja melangsungkan Pameran Tunggal keduanya di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan bertajuk “Rindang Banua”. Konsistensinya berkarya membuat Lembaga Akademi Bangku Panjang Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada tahun 2023 didukung Dana Indonesiana melakukan riset komprehensif untuk Biografi, Katalog Besar 7 Dekade Berkarya, dan Film Dokumenter Kulminasi Misbach Tamrin.
Sejak rilis pemutran film tersebut pada pertengahan tahun 2024 di Bioskop Misbar Banjarbaru, upaya memasyarakatkan film dokumenter Kulminasi terus dilakukan secara swadaya di Banjarbaru dan Banjarmasin. Terlebih, di perhelatan Wabul Sawi Festival yang berlangsung pada 26-27 September 2025 yang kemudian secara masif didukung KontraS, Malaka Project, Manajemen Wabul Sawi Festival Akademi Bangku Panjang Banjarbaru melaksanakan ORU (Obrolan Seru) Film Kulminasi di 3 Provinsi sepanjang 9-20 Oktober 2025 yaitu; Jakarta ada 4 titik (Festival Film Internasional Madani, Makarya Gramedia Matraman, Pamitnya Meeting, dan Baca Di Tebet), Yogyakarta ada tiga titik (ISI Yogyakarta, Corong Api, dan Sarang Art), dan Jawa Barat satu titik di Festival 10 Bahasa, Pangandaran.

ORU Film Kulminasi akan terus disosialisasikan di berbagai tempat, termasuk dalam waktu dekat di Taman 65, Kesiman Denpasar-Bali pada Januari 2026 mendatang. Siapa dan dari mana saja yang tertarik menyaksikan pergulatan diri dan perjuangan hidup Sang Maestro dalam film Kulminasi di komunitas atau acara sila menghubungi ke No. WA 085345450450.@
*dok. foto Dinas Kebudayaan DIY


























