Catatan: Cerita Ini Siapa yang Punya Karya Fauzi Anshari

 

PERTUNJUKAN teater Cerita Ini Siapa yang Punya produksi Sindang Langit Art, di bawah arahan sutradara Fauzi Anshari, Sabtu (13/12/2025),di Balairungsari Taman Budaya, Banjarmasin, menghadirkan potret keluarga kelas bawah yang hidup dalam pusaran kemiskinan struktural. Dengan durasi sekitar satu jam, pertunjukan ini tidak sekadar menyuguhkan konflik domestik, melainkan membuka ruang refleksi tentang bagaimana relasi kuasa, pendidikan, dan ekonomi bekerja secara senyap di dalam tubuh keluarga. Keluarga Ali dan Yulia bersama anak-anak mereka dan satu kerabat menjadi representasi dari rumah sebagai ruang paling intim sekaligus paling politis.

Narasi yang dibangun dalam pertunjukan ini mengingatkan saya pada film Home Sweet Loan, terutama pada figur anak tengah yang diposisikan sebagai penyangga utama keberlangsungan keluarga. Alya hadir sebagai subjek yang selalu berada di tengah, tidak sepenuhnya bebas mengejar diri sendiri. Namun pada saat bersamaan  juga tidak pernah benar-benar bisa menolak tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Posisi liminal ini membuat Alya terus-menerus dituntut untuk mengalah, berkorban, dan “memahami keadaan” atas nama kasih sayang keluarga. Pada logika semacam ini, cinta tidak lagi hadir sebagai relasi timbal balik, melainkan sebagai alasan yang sah untuk menunda mimpi pribadi. Alya mencintai keluarganya, namun cinta itu menuntut harga yang mahal: penundaan hidupnya sendiri.

Rumah, yang secara ideal dipahami sebagai ruang aman untuk bertumbuh, dalam pertunjukan ini justru menjelma menjadi ruang produksi tuntutan dan akumulasi beban emosional. Setiap sudut rumah dipenuhi oleh kebutuhan yang mendesak, keluhan yang berulang, dan harapan yang disandarkan hampir sepenuhnya pada Alya. Rumah tidak lagi menjadi tempat pulang untuk beristirahat, melainkan ruang kerja emosional yang tak pernah mengenal jeda. Di sanalah Alya dipaksa untuk terus bernegosiasi dengan rasa bersalah, loyalitas, dan ketakutan akan dianggap egois jika memilih dirinya sendiri. Teater ini dengan tajam menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik; ia juga hidup dalam tuntutan yang dinormalisasi, dalam beban yang diwariskan, dan dalam rumah yang diam-diam mengubur mimpi penghuninya.

Kekuatan utama pertunjukan ini terletak pada pilihan aktor dan kemampuan mereka mengolah kesedihan yang tidak melodramatis, tetapi akumulatif. Fauzi Anshari tampak telaten merangkai tubuh-tubuh aktor sebagai medium penderitaan yang realistis. Kesedihan tidak dihadirkan sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai rutinitas sebuah derita yang diwariskan dari hari ke hari. Di sinilah teater bekerja efektif: membuat penonton tidak sekadar iba, tetapi ikut terjebak dalam rasa sesak yang sama.

Menariknya, tanpa harus menggurui, pertunjukan ini justru berbicara banyak tentang pendidikan. Jenjang pendidikan setiap karakter diekspos secara halus namun menentukan arah hidup mereka. Arif, yang tidak menamatkan sekolah menengah, digambarkan gegabah dan impulsif, seolah tidak memiliki perangkat berpikir jangka panjang. Adit, siswa sekolah menengah pertama, hidup dalam dunianya sendiri fase peralihan yang membuatnya ingin dilayani tanpa sepenuhnya memahami kondisi keluarga.

Alya menjadi titik refleksi paling penting. Tamat SMA, ia menyadari bahwa pendidikan tinggi adalah satu-satunya celah untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Kesadaran ini membuatnya berpikir keras, namun sekaligus menempatkannya dalam konflik batin yang tajam: antara menyelamatkan diri atau terus menjadi penyangga keluarga. Di sinilah pendidikan tampil bukan sebagai privilese, tetapi sebagai medan perjuangan. Pendidikan bukan hanya soal ijazah, melainkan kesadaran kritis akan posisi diri dalam struktur sosial.

Pendidikan atau justru ketiadaannya dalam pertunjukan ini bekerja sebagai fondasi yang membentuk cara para tokoh memandang hidup dan mengambil Keputusan. Hal ini juga terlihat pada Ali, Yulia, dan Tania. Meski jenjang pendidikan mereka tidak diekspos secara eksplisit, tanda-tanda keterbatasan itu hadir melalui cara berpikir yang pragmatis, reaktif, dan cenderung berorientasi pada penyelesaian jangka pendek. Ali dan Yulia mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan mendesak hari ini, bukan kemungkinan hidup esok hari, sementara Tania tumbuh dalam pola pikir yang mereproduksi sikap serupa.

Ketidakmampuan mereka membaca situasi secara lebih reflektif bukan semata soal watak personal, melainkan akibat dari absennya pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai gelar atau institusi formal, tetapi sebagai kemampuan untuk menimbang pilihan secara etis dan berjangka panjang. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka miliki, sehingga hidup dijalani sebagai rangkaian respons atas tekanan, bukan sebagai proses yang dapat diarahkan.

Pentas “Cerita Ini Siapa yang Punya” produksi Sindang Langit Art

Pandangan ini berkelindan erat dengan gagasan Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas, ketika ia menegaskan bahwa “pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan tindakan manusia atas dunia untuk mengubahnya.” Dalam konteks pertunjukan ini, Alya tampil sebagai satu-satunya karakter yang mulai memasuki wilayah praksis tersebut. Ia tidak lagi sekadar menjalani hidup sebagai rangkaian kewajiban, tetapi mulai merefleksikan posisinya, mempertanyakan keadilan beban yang ia tanggung, dan membayangkan kemungkinan hidup yang lain. Kesadaran Alya menandai titik penting: pendidikan tidak hanya memberinya harapan akan mobilitas sosial, tetapi juga membuka kemampuan untuk melihat dunia secara kritis. Sebuah kesadaran yang tidak dimiliki oleh anggota keluarga lainnya yang masih terjebak dalam logika menerima nasib sebagai sesuatu yang tak terelakkan.

Freire juga mengingatkan bahwa penindasan sering kali bekerja paling efektif ketika ia tidak disadari, direproduksi dari dalam, bahkan oleh mereka yang menjadi korbannya. Rumah, dalam Cerita Ini Siapa yang Punya, menjelma sebagai miniatur struktur sosial yang lebih besar: tempat relasi kuasa dijalankan secara halus dan dinormalisasi. Orang tua, dengan segala keterbatasan ekonomi dan pendidikan, tanpa sengaja mereproduksi logika penindasan dengan menempatkan anak-anak sebagai alat bertahan hidup, bukan sebagai subjek yang berhak atas mimpi dan pilihan. Ketika pendidikan tidak dipandang sebagai jalan pembebasan, relasi keluarga pun kehilangan dimensi etiknya. Kemudian kemiskinan, baik secara ekonomi maupun kesadaran terus diwariskan sebagai sesuatu yang dianggap wajar.

Bagi saya Cerita Ini Siapa yang Punya tidak berhenti sebagai kisah tentang kemiskinan material, melainkan bergerak lebih jauh sebagai refleksi tentang kesadaran. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan semata soal ketiadaan uang, tetapi juga ketiadaan akses pada cara berpikir yang memungkinkan seseorang memahami dan mengubah posisinya dalam kehidupan. Pendidikan, dalam orbitnya yang timpang, tampil sebagai faktor penentu: ia membentuk cara setiap anggota keluarga memandang dunia, menyikapi masalah, dan membayangkan masa depan. Ketika pendidikan tidak hadir sebagai proses penyadaran, ia justru menjadi penanda batas siapa yang boleh bermimpi dan siapa yang harus terus bertahan.

Judul pertunjukan ini sendiri bekerja sebagai pertanyaan reflektif yang tajam: cerita ini siapa yang punya? Apakah cerita ini milik individu-individu yang hidup di dalamnya, milik keluarga sebagai unit sosial, atau justru milik sistem yang lebih besar ekonomi, pendidikan, dan budaya yang secara perlahan mengatur pilihan-pilihan hidup mereka? Dengan mengajukan pertanyaan ini, pertunjukan tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang tafsir bagi penonton untuk melihat bagaimana tanggung jawab sering kali dialihkan dari struktur ke individu. Beban hidup seolah menjadi kesalahan personal, padahal ia lahir dari relasi yang timpang dan kesempatan yang tidak setara.

Pada titik inilah teater ini menemukan relevansinya yang paling politis. Ia mengingatkan kita bahwa selama pendidikan tidak diposisikan sebagai alat pembebasan sebagaimana diidealkan oleh Paulo Freire maka cerita-cerita semacam ini akan terus berulang dan diwariskan. Rumah demi rumah akan melahirkan generasi yang memikul beban serupa, dengan mimpi yang terus ditunda atas nama keadaan. Cerita Ini Siapa yang Punya menjadi semacam peringatan sunyi: tanpa kesadaran kritis, kita tidak hanya mewarisi kemiskinan ekonomi, tetapi juga kemiskinan imajinasi tentang kemungkinan hidup yang lebih adil.

Jadi, Siapa yang menanggung cerita ini?@