FREE, free Palestine! Free, free Palestine!” teriak seorang penonton di tengah keramaian Minggu Raya, Banjarbaru pada Jumat (6/2/2026) malam.

Suasana meriah diiringi beat musik menghentak santai tiap ketukan yang mengiringi dansa orang-orang berambut gimbal berpadu nuansa tiga warna: merah, kuning, dan hijau khas Jamaika mewarnai acara Tribute to Bob Marley 2026 yang diadakan oleh Diamond Reggae Community bersama Banjarmasin Reggae Community dan pegiat reggae lainnya.

Tribute to Bob Marley 2026 menampilkan berbagai grup musik reggae di Banua seperti Sadulur Project, Gansroots, SoulsixID, Monkey Company, hingga ReggaeIn. Dilansir dari beberapa sumber, reggae adalah musik dari Jamaika yang tumbuh pada akhir 1960-an dengan irama khas dan liriknya sering bicara tentang perdamaian, keadilan sosial, dan kehidupan serta memiliki ikatan dengan gerakan Rastafari yang muncul lebih dulu di 1930-an.

Pegiat Reggae Kalsel (2/6/2026). (Dok: Diamond Reggae Community)

Nafi (27) asal Banjarbaru, selaku ketua pelaksana menerangkan tujuan utama dari Tribute to Bob Marley 2026 sebagai momentum penghormatan pada tokoh reggae sendiri, yakni Robert Nesta Marley yang lahir pada 6 Februari 1945 sekaligus jadi ajang silaturahmi bagi pegiat reggae Banua untuk saling jumpa dan menjadi panggung apresiasi musisi.

Bagi Nafi, sejak usia remaja telah mengenal reggae sebagai rem di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan penuh tekanan. “Reggae penuh pengajaran untuk tahu kapan melambat, bernapas, dan melihat segala sesuatu dengan kepala dingin”, ujarnya. Karakternya sebagai orang Banua juga menambah alasannya menggemari reggae. “Selain sederhana dan penuh kejujuran, reggae juga cocok dengan orang Banua yang ramah dan gemar bakumpulan, memilih reggae adalah merayakan kebersamaan,” terang Nafi.

Tren aktivitas terkait reggae Banua saat ini beralih dari panggung komersial besar ke kolektif kreatif yang kecil namun militan. Era emas reggae Banua terjadi pada tahun 2010 hingga 2017, di masa itu reggae menjadi menu wajib setiap panggung besar, sekolah, hingga pelosok daerah. “Reggae bukan lagi musik pinggiran saat itu,” kenang Nafi. Namun keadaan berganti, pada 2019 hingga 2022 tren reggae menurun akibat pandemi Covid-19 dan pergeseran selera musik anak muda ke arah indie-pop. Kini ruang bagi reggae di Banua kembali dibangun oleh Nafi dan kawan-kawannya yang sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin berkegiatan bersama terkait reggae.

“Harapannya, reggae Banua bukan sekadar nostalgia melainkan tumbuh menjadi ruang kreatif yang inklusif baik bagi individu maupun grup musik,” tutupnya.

Manajer salah satu penampil, Gansroots, E’er (32) asal Banjarbaru yang telah berkegiatan di komunitas reggae selama delapan tahun terakhir mengungkapkan dengan bangga tentang Tribute to Bob Marley 2026. “Acara ini bagian dari penyebarluasan semangat dan jiwa musik Bob Marley, terlebih banyak juga wajah baru yang tumbuh di komunitas,” ungkapnya. Meski sempat meredup, ia dan kawannya tetap melantunkan reggae sebagai aliran musik utama. “Sekitar sepuluh tahun kami konsisten bermusik reggae, acara ini sangat diharapkan berkelanjutan,” tutup E’er.

Kerumunan penonton renggae di Mingguraya, Banjarbaru. (Dok: Diamond Reggae Community)

APA TANGGAPAN PENONTON DI LUAR KOMUNITAS?

Tribute to Bob Marley 2026 juga menarik perhatian pengunjung di luar komunitas. Salah satunya Mikhael (21) asal Banjarbaru yang datang menonton. Mika, sapaan akrabnya, aktif bermusik di subgenre britpop, rock alternatif dari budaya anak muda Inggris era 1990-an. “Ini adalah kali pertama menonton kegiatan komunitas musik. Meski tidak aktif mendengarkan reggae, namun sangat menikmati karena atmosfer yang gokil dan menyenangkan,” terangnya.

Sebagai musisi, Mika mendukung penuh kegiatan membangun ruang kreatif di Banua terlebih bagi anak muda. Ia menyayangkan jika masyarakat luput mengapresiasi band lokal Kalsel. “Jangan terlena mengikuti pasar luar, sebab band-band lokal juga banyak yang potensial seperti Penghantar, RCKA, bahkan ReggaeIn,” ujar Mika.

Harapan untuk permusikan Kalimantan Selatan bisa tumbuh lebih baik juga diucapkan Mika. “Skena reggae di Banua semoga tetap solid dan semangat memperjuangkan apa yang diperjuangkan, lebih luas lagi semoga musisi Banua mendapat ruang lebih untuk apresiasi”, tutup pemuda berkacamata itu.(red)