“Religion is not a departmental affair: it is neither mere thought, nor mere feeling, nor mere action; it is an expression of the whole man,” tulis Muhammad Iqbal (2013:2), filosof-penyair Muslim asal anak benua India. Inilah salah satu ungkapan Iqbal yang sering saya kutip, lebih-lebih jika berbicara tentang hubungan antara agama dan sastra. Agama itu, kata Iqbal, bukan hanya pikiran, perasaan atau tindakan, melainkan ungkapan keseluruhan diri manusia. Berbicara tentang agama sesungguhnya sama dengan berbicara tentang manusia seutuhnya. Yang rasional-masuk akal, ada dalam agama. Yang empiris-faktual, ada juga dalam agama. Yang emosional, haru, sedih, gembira dan bergairah, juga ada dalam agama. Yang bergerak dan bertindak, juga banyak dalam agama. Pokoknya komplit. Menurut pandangan Islam, agama itu adalah fitrah yang diwahyukan, untuk mendampingi fitrah yang dibawa manusia sejak lahir (QS 30:30). Fitrah itu adalah ciptaan awal-mula yang asli, yang primordial, yang cenderung kepada kebaikan, kebenaran dan keindahan, dan beriman kepada Tuhan yang Esa.
Sastra juga kurang-lebih demikian. Ketika saya masih kuliah S-1 di IAIN Antasari, saya berkunjung ke Yogyakarta pada tahun 1991. Saya ingin sekali ke Yogyakarta karena banyak kawan-kawan saya sesama alumni Pesantren Al-Falah Banjarbaru, yang melanjutkan kuliah di kota itu, kebanyakan di IAIN Sunan Kalijaga. Saya sendiri sebenarnya juga berniat ingin melanjutkan ke sana, tetapi karena saya pernah sakit serius menjelang tamat dari Al-Falah, orangtua saya tidak mengizinkan. Namun, hubungan saya dengan kawan-kawan Al-Falah yang kuliah di Yogyakarta terus terjalin erat. Ketika saya tiba di Yogyakarta, saya terperangah menyaksikan gairah para mahasiswa berdiskusi. Kala itu, banyak kelompok studi yang dibentuk oleh para aktivis mahasiswa. Buku-buku wacana pemikiran Islam, termasuk kritik-kritik sosial-politik banyak yang diterbitkan dan laku keras. Saya menghadiri beberapa diskusi mereka dan membeli banyak buku. Tas saya penuh dengan buku untuk dibawa pulang. Pada saat itulah, senior saya di Al-Falah, pecinta sastra, dan kelak juga menulis karya-karya sastra, Hairus Salim HS, memberi nasihat. “Kamu jangan hanya membaca buku-buku ilmiah. Bacalah karya-karya sastra. Buku ilmiah menyajikan masalah secara rasional dan analitis, tetapi tidak menyentuh sisi-sisi lain dari kehidupan manusia. Sebaliknya, karya sastra berusaha menyajikan kehidupan manusia lebih lengkap dan kompleks. Dengan membaca sastra, kamu akan lebih bijak, tidak hitam-putih melihat kehidupan,” katanya kurang lebih kepada saya. Saya pun mengikuti nasihatnya.
Di sisi lain, jika sastra dan agama sama-sama meliputi seluruh kehidupan manusia yang kompleks, maka kita akan bingung pula, apa saja yang bisa kita bicarakan tentang hal ini? Saya teringat dengan catatan Jalaluddin Rakhmat (1949-2021) yang akrab dipanggil “Kang Jalal” dalam pengantarnya yang indah untuk buku Murtadha Mutahhari terjemahan Indonesia berjudul Perspektif Al-Qur’an tentang Manusia dan Agama. Para pemikir berabad-abad telah merenungkan dan mengkaji hakikat manusia, dan buku-buku telah banyak sekali ditulis, namun masalah ini tidak pernah tuntas dan selesai juga. Akhirnya, untuk memudahkan, dibuatlah kata-kata singkat tentang manusia: mereka lahir, mereka menderita, dan mereka mati. Kang Jalal, yang saat itu sangat terinspirasi Revolusi Islam Iran, menimpalinya dengan kata-kata: mereka lahir, mereka berjihad, mereka syahid (Rakhmat 2016: 376) Memang benar, tiga kata tersebut singkat, tetapi betapa banyak cerita di dalamnya. Ini mungkin mirip dengan humor perihal gelar S.Ag (Sarjana Agama) yang kadang diartikan menjadi ‘Sarjana Alam Gaib’. Kadangkala orang luar meremehkan seorang sarjana agama, karena konon sulit mencari pekerjaan. Paling-paling jadi imam di langgar dan membaca doa. Para sarjana agama itu pun membela diri. Kata mereka, mereka tak pernah kehilangan pekerjaan. Manusia memerlukan sarjana agama, mulai dari lahir untuk diazankan hingga masuk kuburan untuk dibacakan talqin, bahkan setelah dikubur bertahun-tahun, masih perlu dibacakan tahlil dan doa. Agama ternyata senantiasa menyertai manusia sepanjang jalan, dari hidup sampai setelah mati.
****
Dengan demikian, sebelum kita mendiskusikan sastra dan agama lebih lanjut, perlu kiranya kita buat batasan terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan sastra dan agama itu di sini. Menurut KBBI, sastra adalah “bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-sehari).” Selain sastra, ada istilah lain yang lebih khusus, yaitu susastra. Menurut KBBI, susastra adalah “sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia, yang ditimba dari kehidupan, kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai sarananya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi.” Definisi sastra sebagai ‘bukan bahasa sehari-hari’ kiranya tidak dapat diterima oleh kebanyakan sastrawan kecuali jika yang dimaksud adalah bahwa sastra, sebagaimana susastra, menggunakan bahasa yang indah, termasuk bahasa sehari-hari. Yang indah di sini tentu tidak harus selalu berbunga-bunga. Yang indah adalah sesuatu yang secara jelas memancarkan kebenaran, dan kebenaran adalah kenyataan. Kenyataan, kebenaran dan keindahan merupakan satu tarikan napas. Yang indah itu adalah bentuknya, sedangkan isinya adalah pengalaman hidup manusia. Dalam essai ini, sastra terutama merujuk kepada sastra tulisan, meskipun tulisan tersebut juga kadangkala diungkapkan secara lisan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan agama di sini? Masalah ini jauh lebih rumit dari sastra. Ada banyak sekali kemungkinan definisi agama, baik menurut versi pemerintah, para ilmuwan dengan berbagai disiplin ilmu, hingga menurut penganut agama masing-masing. Untuk analisis sastra, mungkin gagasan Y.B. Mangunwijaya (1929-1999) dalam berbagai tulisannya, terutama Sastra dan Religiositas, adalah salah satu pengertian yang dapat membantu kita. Menurutnya, kita harus membedakan antara memiliki agama (having religion) dan menjadi beragama atau relijius (being religious). Memiliki agama adalah menganut suatu agama yang mencakup berbagai kepercayaan dan praktik serta sebagai identitas pribadi dan kelompok, sedangkan menjadi relijius adalah menghayati dan mengamalkan nilai-nilai etika yang diajarkan oleh agama dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak diberi label agama. Jadi, menganut agama itu bentuk luar, sedangkan menjadi relijius itu adalah isinya. Titik tekan Mangunwijaya dalam melihat sastra adalah pada nilai-nilai relijius, bukan pada sisi luar keberagamaan. Yang lebih diutamakannya lagi adalah nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, cinta kasih, keadilan dan kebaikan. Baginya, kesadaran transendental mengenai Tuhan sebagai asal usul dan ke mana makhluk akan kembali hanya bernilai jika ia melahirkan sikap yang membela kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan kebaikan itu. Inilah yang disebutnya ‘religiositas’. Mangunwijaya (1999: 131) menulis:
Religiositas tidak identik dengan agama, melainkan religiositas sebagai kategori umum kerinduan dasar manusiawi menggumuli masalah-masalah mendalam seperti sangkan paran dan pergulatan eksistensial manusia dalam pencarian identitas dirinya melalui konflik-konflik kehidupan yang sering tidak mudah dan penuh kekecewaan.
Dengan sudut pandang di atas, dapat dipahami jika Mangunwijaya melihat karya-karya sastra yang tidak menyebut kata ‘agama’, ‘Tuhan’ atau ayat-ayat kitab suci sekalipun, dapat mengandung nilai-nilai relijius yang mendalam, selama karya-karya itu menyingkapkan kebenaran sebagaimana adanya, membela kaum lemah dan tertindas, serta keberanian menunjukkan jalan keluar dari berbagai dilema hidup berdasarkan pertimbangan utama, yaitu memuliakan manusia. Jadi, sastra yang relijius adalah sastra yang terlibat secara mendalam mengenai hidup dan jati diri manusia. Ia tidak hanya realis, berpijak pada realitas kehidupan manusia sehari-hari, tetapi juga menunjukkan pemihakannya pada kebenaran, kebaikan dan keadilan. Karena itulah, Mangunwijaya melihat, karya-karya sastra dari manapun dan siapapun juga, Timur atau Barat, penulis yang taat beragama ataupun ateis, dapat diterima sebagai mengandung religiositas jika sejalan dengan kriterianya ini. Di sisi lain, dia sangat kritis pada keberagamaan yang formal dan dangkal, yang dapat saja mengkhianati religiositas sejati. Karena itu, dia mengapresiasi cerpen A.A. Navis yang terkenal, “Robohnya Surau Kami”, sebagai sebuah kritik atas ritualisme dan formalisme agama. Dalam sebuah ceramahnya di luar negeri tentang ‘Sastrawan Religius’, Mangunwijaya (1999: 151) lebih lugas lagi menulis:
Juga di negeri saya, kami mempunyai banyak koruptor-kaya baru dan penjahat-penjahat berdasi yang memamerkan diri secara formal patuh pada agama, yang dengan murah hati membantu dengan uang mereka yang banyak untuk membangun banyak gereja dan tempat-tempat ibadat lain, tanpa peduli apakah uang yang diperoleh secara melanggar hukum dan yang mereka tawarkan dengan begitu murah hati itu cocok dengan moral sehat atau harapan-harapan Tuhan tentang cinta kasih dan keadilan atau tidak. Mungkin dari luar mereka tampak orang-orang religius, tetapi dalam arti sebenarnya akan sulit menempatkan mereka di panggung yang sama dengan orang-orang beriman sejati yang tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali sikap jujur dan tulus terhadap kehidupan, Tuhan dan sesama mereka.
Pandangan Mangunwijaya ini tampaknya diambil dan diteruskan oleh Hairus Salim HS. Baginya, beragama sebagaimana yang banyak ditemukannya dalam karya-karya sastra adalah proses pencarian. Dalam kumpulan essainya Tuhan Yang Tersembunyi: Renungan dari Balik Aksara (Salim 2019: xi), dia menulis:
Karya sastra, dengan demikian, memberikan semacam ilustrasi dan tamsil, bagaimana ‘beragama’ itu pada hakikatnya adalah proses pencarian. Jika ia terasa membolak-balikkan hati, tentu itu karena ada rasa ragu, bertanya pun karena tidak tahu. Beragama berarti merendahkan diri. Karya-karya sastra ini, sementara itu dengan caranya sendiri menunjukkan bahwa ada ‘Tuhan yang tersembunyi’ dalam baris-baris kata, kalimat dan cerita. Meski harus diakui, karya-karya ini bukan dan tidak dimaksudkan sebagai khotbah ataupun bahan didaktika.
Agama sebagai sebuah pencarian ini antara lain tampak dalam pembahasan Salim mengenai karya Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra 2006, berjudul Istanbul: Kenangan Sebuah Kota. Pamuk mengaku lahir dan tumbuh dari keluarga kelas menengah yang sekuler. Keluarganya tidak salat dan tidak puasa. Yang rajin salat dan puasa adalah para pembantu di rumahnya, yang berasal dari kalangan miskin. Semula agama baginya hanyalah untuk orang-orang miskin, yang bisa saja memberontak kepada kaum kaya dengan menggunakan agama. Namun, suatu hari karena kesepian di rumah, ia ikut pembantunya ke masjid. Ternyata, orang-orang yang salat itu baik-baik saja. Dia bahkan bebas berlarian di masjid itu. Suatu saat, dia diberitahu oleh seorang guru bahwa ibadah salat dan puasa itu justru berguna untuk memperkuat jiwa. Ia pun mencoba puasa tanpa memberitahu keluarganya. Demikianlah, Pamuk beragama sebagai suatu pencarian. Salim kemudian berkomentar, “Beragama, sebagaimana istilah itu menunjukannya, adalah proses untuk menjadi. Beragama bukanlah menemukan, tetapi ikhtiyar untuk mencari. Ia dimulai di antaranya dari rasa tidak percaya, masygul, mempertanyakan…” (Salim 2019: 118-119). Jika pencarian ini diselaraskan dengan pandangan kaum Sufi, khususnya Ibnu Arabi, maka pencarian itu adalah suatu perjalanan tanpa ujung, pelayaran yang tak pernah kembali di samudera tak bertepi (the voyage of no return in an ocean without shore)—meminjam judul dua buku karya pakar Ibn Arabi: Claude Addas (2018) dan Michel Chodkiewicz (1993), anak dan ayah ini.
Selain agama dalam arti nilai-nilai substantif dan pencarian personal akan kebenaran, sejumlah karya sastra memang secara eksplisit menyebutkan simbol-simbol dan idiom-idiom agama seperti Tuhan, masjid, kitab suci, ritual keagamaan, dan ajaran-ajaran agama. Barangkali sastrawan Indonesia jenis ini yang sangat populer di zamannya dan karya-karyanya difilmkan di abad ke-21 adalah HAMKA (1908-1981). Tak syak lagi, HAMKA adalah seorang ulama, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. Dua roman HAMKA yang dikenal luas di abad lalu adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang kemudian diangkat menjadi film. HAMKA adalah seorang otodidak yang sangat rajin membaca, termasuk karya-karya sastra Timur dan Barat. Ia bercerita, sewaktu masih muda, ia suka menyewa buku-buku sastra. Bahkan ketika uangnya sudah habis, tak bisa lagi menyewa buku, dia menawarkan diri untuk bekerja di toko penyewaan buku itu, memperbaiki dan menyampuli buku dengan upah boleh meminjam buku. HAMKA hidup dan tumbuh di lingkungan masyarakat Minang yang kaya akan pepatah dan kata-kata indah, seindah alamnya yang memiliki pegunungan dan danau yang memukau. HAMKA juga anak dari seorang ulama besar, tokoh Islam reformis. Karena itu, banyak hal berpadu dalam diri HAMKA.
Semua unsur yang kaya itu kelak membuat HAMKA dapat menulis karya-karya sastra yang unik, yang memadukan unsur adat Minang, Islam, dan sastra luar negeri. Di antara unsur-unsur itu, unsur keislaman terasa kuat dan menonjol. Bahkan, Islam kadangkala dihadap-hadapkan dengan adat Minang yang dianggap tidak adil dan harus ditinggalkan (Rush 2016). Jadi, dalam karya-karya HAMKA, Tuhan dan agama itu tidak implisit atau tersembunyi di balik cerita dan kata-kata, melainkan eksplisit dan terbuka. Abdurrahman Wahid lebih kritis menilai bahwa karya-karya sastra HAMKA bukanlah sastra yang berkualitas tinggi melainkan lebih tepat digolongkan sebagai “karya dakwah” yang bertujuan agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tokoh-tokoh dalam karya-karya sastra HAMKA umumnya adalah Muslim yang taat tetapi bernasib malang dan penuh derita. Pembaca akan merasa sedih dan kasihan terhadap nasib mereka, tetapi tak lebih dari itu (Wahid 1983: 20-23).
Kecenderungan menampilkan agama dalam sastra secara lebih eksplisit ini juga kita temukan dalam karya-karya penulis generasi baru seperti Habiburrahman El-Shirazi, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Tere Liye. Tiga nama terdahulu adalah tokoh Forum Lingkar Pena (FLP) yang menaungi para penulis sastra Islami (Kailani 2012). Karya-karya mereka disukai anak-anak muda yang tengah mencari suatu pemaknaan hidup berdasarkan nilai-nilai Islam yang eksplisit. Kadangkala, dari judulnya sudah tampak seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman, atau Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga dan Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye. Beberapa karya sastrawan yang lebih tua, Emha Ainun Nadjib, juga seringkali menyebutkan kata atau istilah yang secara jelas terhubung dengan agama Islam seperti Syair Lautan Jilbab, 99 untuk Tuhanku dan Satu Masjid Seribu Jumlahnya. Kosa kata dan idiom-idiom keagamaan yang secara eksplisit disebutkan, dan kerangka relijius yang digunakan untuk memahami dan memaknai berbagai persoalan hidup, tentu tidaklah menghalangi mereka untuk membicarakan soal-soal keadilan, keberanan, kejujuran dan cinta kasih. Mereka juga kritis terhadap kezaliman, penindasan dan keserakahan manusia.
Kecenderungan lain, yang menarik untuk didiskusikan adalah apa yang disebut sebagai “sastra transendental atau sufistik”. Abdul Hadi WM, dalam sebuah artikelnya di jurnal Ulumul Qur’an (1992) mengatakan, istilah sastra transendental mula-mula diusulkan oleh Kuntowijoyo (1943-2005). Seperti dikutip Abdul Hadi, Kuntowijoyo menulis:
Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental. Karena tampak aktualitas tak dicetak ruh kita, tapi dikemas pabrik, briokrasi, kelas sosial dan kekuasaan, maka kita tak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata kongkrit dan empiris yang dapat ditangkap oleh indera kita. Kesaksian kita pada aktualitas dan sastra, adalah sebuah kesaksian lahiriah, jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri dari aktualitas, dan kedua membebaskan diri dari peralatan inderawi kita.
Dengan demikian, yang transenden di sini dipahami sebagai sesuatu yang melampaui realitas konkret dan inderawi. Ini bukan berarti bahwa sebuah karya sastra sama sekali tidak berpijak pada realitas. Yang dimaksud adalah, karya sastra memberikan pemaknaan transendental atas kisah yang dipaparkan, atau mengungkapkan pengalaman batin dalam ‘perjumpaan’ dengan yang sakral atau Tuhan. Dalam Islam, sastra transendental semacam ini tidak lain adalah sastra sufistik. Abdul Hadi misalnya mengutip pernyataan Humam kepada Barman dalam novel Kuntowijoyo, Khotbah di atas Bukit: “Semua yang kau miliki, memilikimu.” Bagi yang akrab dengan kajian Tasawuf, pernyataan serupa dikatakan oleh Junaid al-Baghdadi, al-shufî alladzi lâ yamlik walâ yumlak (seorang sufi adalah orang yang tidak memiliki dan tidak dimiliki). Abdul Hadi juga mengutip Sutardji Calzoum Bachri, yang merenungi hidup, mencari Tuhan dalam puisi ‘Sampai’:
Hafiz ketemu Tuhan semalam
tapi kini di mana Hafiz
Rumi menari bersama Dia
tapi kini di mana Rumi
Hamzah jumpa Dia di rumah
tapi kini di mana Fansuri
Tardji menggapai Dia di puncak
tapi kini di mana Tardji
Kami tak di mana-mana
Kami mengatas meninggi
Kami dekat
…
Tentulah, puisi Sutardji di atas di antaranya merujuk kepada syair Sufi Nusantara, Hamzah Fansuri, abad ke-16 yang sangat terkenal:
Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
****
Pada bagian akhir buku Tuhan Yang Tersembunyi, Salim menceritakan bagaimana kawan-kawannya saat ia di Pesantren Al-Falah, bangga mengutip pernyataan seorang pujangga Cina dalam latihan pidato. Misalnya, “Mengerti akan orang lain adalah bijaksana. Mengerti akan diri sendiri adalah waspada. Mengalahkan orang lain adalah kuat. Mengalahkan diri sendiri lebih gagah perkasa.” Kutipan lain berbunyi: “Manusia utama mencari kebenaran, manusia rendah mencari keuntungan. Manusia utama menyayangi jiwanya, manusia rendah menyayangi hartanya. Manusia utama ingat akan dosa-dosanya, manusia rendah ingat akan jasa-jasanya. Manusia utama mencari kesalahan diri sendiri, manusia rendah mencari kesalahan orang lain.” Kata-kata indah dan sarat makna ini tentu saja memukau dan mendapat tepuk tangan para santri yang hadir.
Tetapi siapakah pujangga Cina itu? Ternyata dia adalah Asmaraman Khoo Ping Hoo, penulis cerita silat yang populer kala itu. Salim akhirnya turut membaca karya Khoo Ping Hoo secara sembunyi-sembunyi dan bergantian dengan santri lainnya. Suatu hari, seorang ustadz yang disebut murabbi, menemukan buku kisah silat yang berjilid-jilid tipis itu. Beliau menyitanya, bahkan ada yang dirobeknya. Peristiwa ini tentu melukai hati para santri yang sudah keranjingan Khoo Ping Hoo. Namun kelak dalam refleksinya Salim menilai, tujuan utama di pesantren adalah belajar membaca dan memahami kitab-kitab keislaman. Larangan membaca sastra semacam itu muncul mungkin karena khawatir santri akan malas belajar membaca kitab. Andai larangan itu mutlak, tentu pesantren tidak memberi kesempatan kepada para santri untuk membaca dan meminjam aneka buku dan majalah (yakni tidak hanya kitab), yang tersedia di perpustakaan pesantren (Salim 2023: 180-181).
Selain pengalaman pahit yang diceritakan Salim itu, orang luar pesantren barangkali tidak mengerti, apa dan bagaimana penghayatan sastra yang terjadi di pesantren? Kajian sastra yang paling utama kiranya adalah kajian terhadap Alqur’an dan Hadis. Ayat-ayat Alqur’an sesungguhnya adalah keindahan sastrawi, baik dari segi ungkapan (bentuk) ataupun makna (isi). Begitu pula, hadis-hadis Nabi tidak hanya mengandung nasihat dan petunjuk yang amat berharga, tetapi juga seringkali merupakan untaian kata hikmah yang indah, atau singkat dan padat, sehingga perkataan Rasulullah disebut sebagai ‘jawâmi’ul kalim, ungkapan yang ringkas tetapi menyeluruh. Untuk mengkaji berbagai keindahan Alqur’an dan Hadis ini, orang harus mempelajari bahasa Arab secara mendalam, mulai tata bahasanya, kosa katanya, hingga pola-pola keindahan kata dan maknanya. Yang terakhir ini dikaji dalam ilmu Balâghah. Semakin orang menguasai bahasa Arab dan mengerti Balâghah, semakin dalam pula ia memahami dan menghayati keindahan ayat-ayat suci dan hadis-hadis Nabi. Karena itu pula, para ulama mengatakan, Alqur’an tidak bisa disamakan dengan terjemahannya karena terjemahan seringkali menghilangkan estetikanya yang asli, dan bisa menutup berbagai peluang makna yang dikandung oleh teks asal tersebut.
Para santri juga mengenal sastra Arab melalui syair-syair nan indah, mulai masa Jahiliyah hingga modern. Syair-syair Jahiliyah yang dibuat oleh Ashhâb al-Mu’allaqât, yakni syair-syair mereka digantungkan di Ka’bah, sebagiannya wajib dihapal. Ada pula ilmu yang khusus untuk mengetahui pola-pola irama syair Arab, yang disebut ilmu al-‘arûdh. Dengan ilmu ini, irama yang digunakan untuk melantunkan sebuah syair akan pas dengan panjang pendek kata-kata yang dikandungnya sehingga terasa indah. Beberapa mata pelajaran bahkan sengaja dibuat dalam bentuk syair, agar mudah dihapal dan diingat. Yang biasanya banyak diingat dan dihapal santri adalah syair-syair pujian kepada Nabi, yang dibaca sebagai salawat dengan irama nan merdu seperti maulid al-Diba’i, al-Barzanji, Burdah, dan Simth al-Durar (Maulid al-Habsyi). Sesungguhnya, selain mendengarkan lantunan Alqur’an, membaca syair-syair inilah yang menjadi hiburan musik bagi para santri. Ketika masih belum paham makna syair-syair itu, si santri terhibur dengan iramanya, persis seperti anak muda yang suka mendengarkan musik Barat tetapi tidak paham bahasa Inggris. Namun, setelah banyak belajar, dia tentu lebih dapat memahami syair-syair itu.
Dalam berbagai pelajaran, kadangkala para santri dikenalkan juga dengan fabel-fabel atau cerita-cerita dongeng dalam bahasa Arab seperti dalam kitab al-Qirâ’at al-Rasyîdah, Rafîqî dan al-Akhlâq li al-Banîn. Namun, umumnya para santri tidak mengenal cerpen dan novel Arab modern. Saya beruntung sempat membaca karya-karya Mushthafa Luthfi al-Manfaluthi dan Najib al-Kailani versi bahasa Arab, berkat seorang ustadz muda, yang baru pulang dari Universitas Islam Madinah. Nama beliau ustadz Ahmad Zaini. Beliau meminjami saya buku-buku novel dan cerpen itu, dan saya berhasil membacanya hingga tamat. Saya membaca Majdûlin (Magdalena) karya al-Manfaluthi, yang merupakan terjemahan dari karya Alfonse Carr. Kelak saya menyadari bahwa Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sangat dipengaruhi oleh karya al-Manfaluthi ini. HAMKA bahkan pernah dituduh menjiplak al-Manfaluthi, tetapi tuduhan ini kemudian dibantah oleh H.B. Jassin.
Adapun di perguruan tinggi seperti IAIN dan UIN, tentu karya-karya sastra Arab dan sastra lainnya dipelajari, khususnya di Fakultas Adab. Saya sendiri, karena kuliah di Fakultas Ushuluddin, lebih banyak mengenal sastra Islam di bidang filsafat dan tasawuf. Ketika masih kuliah S-1, saya sangat terpukau dengan roman filosofis karya Ibnu Thufail, Hayy bin Yaqzhân, yang bercerita tentang seorang bayi yang terdampar di sebuah pulau terasing, lalu hidup diasuh oleh seekor rusa. Hayy nanti tumbuh hingga dewasa, dan dapat berpikir seperti filsuf hingga mengenal Tuhan. Ia nanti bertemu dengan seorang Sufi bernama Absal dan seorang ahli fiqh bernama Salaman. Di akhir cerita, Hayy dan Absal cocok, sementara Salaman tidak sejalan dengan mereka berdua. Selain itu, di IAIN-lah saya mengenal karya-karya sastra Sufistik tingkat tinggi seperti karya-karya Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Attar hingga Muhammad Iqbal. Karya Attar, Musyawarah Burung, yang merupakan terjemahan dari bahasa Persia, Manthiq al-Thair, adalah cerita tentang sejumlah burung dalam perjalanan menuju Sang Raja Burung, Simurg. Ini sebuah cerita simbolik tentang perjalanan ruhani menuju Tuhan. Saya juga menikmati terjemahan karya Muhammad Iqbal ke bahasa Indonesia, Javid Namah, kisah perjalanan ruhani yang terinspirasi cerita Isra Mikraj dan menyerupai Divine Comedy karya Dante. Dalam kisah perjalanan ini, Iqbal dipandu oleh Jalaluddin Rumi. Singkat kalimat, karya-karya mereka ini, merupakan khazanah sastra keruhanian Islam yang amat luas dan dalam.
****
Demikianlah pemaparan singkat seputar agama dan sastra, khususnya dalam wacana sastra di Indonesia dan kajian keislaman. Ada yang melihat agama hadir dalam sastra secara substantif berupa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan dan cinta kasih meskipun tidak menyebutkan sama sekali berbagai istilah, idiom-idiom dan kosakata agama. Ada pula yang memandang, karya sastra seringkali memaparkan agama sebagai suatu proses pencarian kebenaran dan kebijaksanaan, yang kadangkala tersembunyi di balik berbagai pengalaman hidup manusia. Ada lagi yang mendorong agar sastra melampaui kejadian-kejadian konkret untuk menembus makna-makna transendental tentang hakikat manusia, alam semesta, dan Tuhan. Sementara itu, beberapa sastrawan lain justru menyebutkan tema keagamaan dan kosakata, istilah dan idiom-idom keagamaan, secara eksplisit dalam karya-karya sastra mereka. Jika kita mencermati kajian-kajian keislaman, sesungguhnya kajian sastra sangat berperan, mulai kajian Alqur’an, Hadis, syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, syair-syair yang mengandung nasihat dan motivasi, hingga karya para filsuf dan sufi tentang pencarian kebenaran dan perjalanan ruhani menuju Tuhan.
Pada akhirnya, seperti dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr (2000: 1-3), agama adalah ajaran dan jalan. Sebagai ajaran, ia mengandung pemahaman tentang apa yang absolut dan apa yang relatif. Sedangkan sebagai jalan, agama adalah metode atau cara yang membantu manusia berhubungan dengan, dan kembali kepada, yang absolut. Jika kita berbicara lebih khusus tentang Islam, maka semua karya sastra selayaknya berbasis pada ajaran tentang tauhid, yakni keesaan Tuhan yang dari-Nya dan kepada-Nya semua berasal dan kembali. Satu Tuhan, satu dunia, dan satu kemanusiaan. Pergumulan moral dan spiritual manusia tak terlepas dari semua ini. Tuhan itu Maha Benar dan Maha Indah. Kebenaran itu indah. Keindahan itulah yang kita sebut seni, termasuk sastra. Dengan demikian, sastra dapat menjadi medium, cara atau jalan, bagi seorang Muslim untuk mengungkapkan kebenaran dan keindahan itu.@
DAFTAR PUSTAKA
Addas, Claude. 2018. Ibn ‘Arabî: The Voyage of No Return. Cambridge: The Islamic Text Society.
Chodkiewicz, Michel. 1993. An Ocean Without Shore: Ibn ‘Arabî, the Book and the Law. Albany: State University of New York Press.
Iqbal, Muhammad. 2013. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Stanford: Stanford University Press.
Kailani, Najib. 2012. “Forum Lingkar Pena and Muslim Youth in Contemporary Indonesia” Review of Indonesian and Malaysian Affairs Vol. 46 No.1, 33-53.
Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius.
Mangunwijaya, Y.B. 1999. “Pengakuan Seorang Amatir” dan “Sastrawan Religius” dalam Sindhunata ed. Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya. Yogyakarta: Kanisius.
Nasr, Seyyed Hossein. 2000. Ideals and Realities of Islam. Edisi revisi. Chicago: Kazi Publications.
Rakhmat, Jalaluddin. 2016. Afkar Penghantar: Sekumpulan Pengantar. Bandung: Nuansa Cendekia.
Rush, James R. 2016. HAMKA’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia. Madison: The University of Wisconsin Press.
Salim HS, Hairus. 2019. Tuhan yang Tersembunyi: Renungan dari Balik Aksara. Yogyakarta: Mojok.
Salim HS, Hairus. 2023. Kitab, Buku, Sepak Bola. Yogyakarta: Kayu Manis.
W.M., Abdul Hadi. 1992. “Kembali ke Akar Tradisi: Sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia” Ulumul Qur’an No.3 Vol.3, 12-29.
Wahid, Abdurrahman. 1983. “Benarkah Buya HAMKA Seorang Besar? Sebuah Pengantar” dalam Nasir Tamara, B. Sanusi, dan V. Djauhari eds. HAMKA di Mata Hati Umat. Jakarta: Sinar Harapan.


























