WABUL SAWI FESTIVAL (WSFEst) berangkat dari spirit akronim Wabul Sawi “Wani Baidabul, Sanggup Manggawi”, sebuah ungkapan dalam bahasa Banjar (Kalimantan Selatan) yang berarti: “berani mengatakan, maka harus sanggup mengerjakan”. Mengatakan di sini bermakna menyampaikan keinginan, gagasan, atau cita-cita—dan apa yang dikatakan itu harus sanggup dikerjakan dalam bentuk aksi dan berdampak.
Ungkapan Wabul Sawi dicetuskan oleh Zafry Zamzam pada Februari 1964 saat merumuskan percepatan pemindahan Ibu Kota Kalimantan Selatan. Zafry Zamzam adalah salah satu tokoh pendiri Kota Banjarbaru, saat bersama beberapa tokoh lainnya berupaya mewujudkan Banjarbaru sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan–yang lebih dari dua dasawarsa hanya menjadi kota administratif wilayah Kabupaten Banjar, untuk menjadi Kotamadya, dan kemudian ditetapkan Kota(madya) pada tahun 1999.
Tahan Apilan yang menjadi tema tahun ini juga diambil dari istilah Banjar yang maknanya dilekatkan kepada orang yang mampu memperjuangkan, mempertahankan, dan mengembangkan sesuatu untuk beradaptasi dalam situasi dan kondisi kritis sekalipun. Kemampuan yang ditunjang dan berasal dari pengetahuan dan imajinasi serta kesediaan untuk mengulang kembali yang membuat seseorang bisa disebut “tahan apilan”.
“Istilah tahan apilan dekat dengan frasa tahan banting. Tahan apilan tidak bisa dipisahkan pada kemampuan adaptasi dan belajar,” papar Hudan Nur selaku Direktur WSFest.
Sehingga dimaknai sebagai pantang menyerah, di mana tindakan dan perkataan selalu mencari jalan dan pintu serta kemungkinan yang sempit sekalipun untuk mencapai kebaikan yang membesar.
“Tahun 2025 ini menjadi tahun kedua pelaksanaan WSFest dan manajemen kami berkolaborasi dengan banyak komunitas lintas bidang di 6 lokus yang berbeda dengan jadwal yang paralel.” tambah penyair Banjarbaru kelahiran 1985 itu.
Pilihan tema Tahan Apilan untuk Wabul Sawi Festival (WFest) tahun 2025 merupakan momentum dan kontekstual untuk membangun kesadaran dan memberi kekuatan dalam memandang perubahan yang melesat, tak terkecuali di Kalimantan yang sedang mengalami eksploitasi tubuhnya, dan tentu juga kebudayaannya. Pun Banjarbaru yang bagai gadis remaja cantik, terus tumbuh dalam zaman yang memerlukan kompas agar ia menjadi kota yang punya jati diri, nilai, dan berdampak terhadap kehidupan warga kotanya.
“WSFest tahun ini juga dirangkaikan dengan agenda Manajemen Talenta Nasional (MTN) Sastra yaitu IkonInspirasi dan AsahBakat yang merupakan agenda dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.” pungkasnya.
Selain berkolaborasi dengan multi komunitas, WSFest akan menghadirkan MTN Sastra regional Kalimantan, lokus Banjarbaru. MTN Sastra sendiri adalah program baru di tubuh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang bertujuan mendorong dan menumbuhkan ekosistem sastra di Indonesia dengan merangkul sejumlah komunitas sastra yang berdikari di belahan tanah air. Olehnya pada pelaksanaanya akan diikuti perwakilan dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur di sesi MTN AsahBakat.
AGENDA WABUL SAWI FESTIVAL:
OBROLAN SERU (Oru)
Obrolan Seru atau yang disingkat Oru adalah ruang dialogis yang secara diskursus dibagi menjadi beberapa Oru, yakni:
1. Oru: Yang Datang Terang (Diskursus membintangkan anak muda sekaligus memberikan kesempatan membicarakan karyanya secara khusus).
2. Oru: Yang Menolak Padam (Diskursus membintangkan para tokoh atau pegiat yang terus bersetia di jalan seni).
3. Oru: Film Kulminasi Misbach Tamrin (Diskursus belajar dari maestro Misbach Tamrin yang telah lapang bertahan dan berkarya di jalan sunyi dinamika zaman serta menonton bareng film Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro “Kulminasi”).
4. Oru: Filsafat Skena (Diskursus membincangkan filsafat–entang pertanyaan fundamental kehidupan dengan fenomena skena).
5. Oru: Tata Kelola Festival (Diskursus manajemen Tata Kelola Festival agar sebuah festival bisa inklusif, berdampak, dan berkelanjutan dilaksanakan).
6. Oru: Ekobudaya dan Ekosastra (Diskursus lingkungan alam dan budaya memengaruhi karya sastra, kemudian menganalisis bagaimana karya sastra berdampak terhadap kesadaran lingkungan).
ANTOLOGI KARYA NUSANTARA
Undangan terbuka bagi penulis di manapun berada untuk berpartisipasi menyuarakan gagasannya terkait tema Kariyau Hutan (panggilan dari alam) lewat puisi.
MALAM IMAJI
Sesi ini merupakan malam sukacita berbalut pertunjukan–berkhidmat memanggungkan karya sebagai wujud takzim kreativitas lintas bidang seni pementasan, tak terkecuali karya sastra. Pada Malam Imaji tidak hanya berfokus pada aksi panggung, tetapi juga peluncuran Antologi Karya Nusantara, orasi-orasi, dan bentuk lainnya.
MANYOTO TANGAH HARI
Istilah ini diambil dari bahasa Banjar yang artinya makan soto di tengah hari. Aktivitas menikmati soto khas Banjar di tengah hari sambil berbincang ringan terkait harapan dari para tamu yang hadir, merefleksi keakraban, dan banyak lagi aktivitas dialog yang bisa tercipta sambil menikmati penganan khas Banjar tersebut.
EDUTOWN SELINGKUNG KOTA
Wabul Sawi Festival menjadi narahubung untuk memantik kepedulian warga untuk mengenal dan mengakrabi titik-titik tertentu di Banjarbaru dari sudut histori sehingga irisan sejarah kota tak lekang hilang ditelan ingatan masa lalu. Edutown Selingkung Kota akan memilih lokus khusus untuk dikunjungi dan dikenali lebih dekat dari segala sisinya.
WSFest dengan tema Tahan Apilan mangariyau (memanggil) penulis puisi untuk mengirimkan karyanya dalam Antologi Puisi Nusantara dengan sumber inspirasi dan ikatan kehidupan pada keberadaan hutan. Pada WSFest 2O25 menghamparkan Kariyau Hutan sebagai panggilan magis untuk melihat kembali hutan yang saat ini terus mengalami eksploitasi yang mengabaikan keseimbangan dan kelenturan alam. Perambahan hutan hanya melihat batang kayu atau sebagai hamparan lahan untuk monokultur, dan mengabaikan bagian yang lebih besar dari hutan, seperti hasil hutan non kayu.
Dalam antologi Kariyau Hutan ini terdapat 100 penulis puisi yang diambil dari 350 pengirim puisi dari sebaran Nusantara, termasuk penulis dari negara tetangga. Pilihan 100 penulis oleh tim kurator dengan mempertimbangkan kesesuaian tema, ide atau gagasan, dan yang berupaya membangkitkan imajinasi atau emosi pembaca.
WSFest 2O25 dan Tim Kurator menghaturkan rasa hormat kepada 350 pengirim puisi dan apresiasi pada puisinya, yang begitu banyak hal dapat diungkapkan tentang hutan dari berbagai aspek dan eksplorasi pemahaman yang begitu dekat dengan kehidupan dan kebudayaan para penulis. Terima kasih untuk semua pengirim puisi, sebuah kebanggaan sebagaimana puisi itu pada awalnya dibacakan atau dinyanyikan sebagai cara untuk mengingat sejarah (lisan), silsilah, dan hukum serta berkaitan erat dengan tradisi musik dan berbagai cara penguat dalam pengobatan dan penyembuhan. Semua puisi dari 350 pengirim memberikan kekuatan pada kesadaran tentang hutan, meski sebagiannya tidak terdapat dalam antologi Kariyau Hutan.
Banjarbaru, 10 September 2025
Tim Kurator
(Sandi Firly, Hamdan Eko Benyamine, dan Hudan Nur)

Berikut nama-nama penulis yang karyanya masuk dalam antologi Kariyau Hutan (Antologi Puisi Nusantara, Wabul Sawi Festival 2025).
1. Adri Darmadji Woko
2. Agi Suprayogi
3. Agus Takariyanto
4. Ahmad Fitriadi Faz
5. Akhmad Rafi Koeswandi
6. Andria Septy
7. Apito Lahire
8. Ari Basuki
9. Arnita
10. Asmariah
11. Asmira Dieni
12. Asti Musman
13. Bambang Widiatmoko
14. D. Zawawi Imron
15. Dahta Gautama
16. Eddy Pranata PNP
17. Endry Sulistyo
18. Fadzalih Bin Mahmud
19. Fahmi Wahid
20. Firman Wally
21. Foeza Hutabarat
22. Galuh Duti
23. Ghina Salsabila
24. Gunoto Saparie
25. Gusti Indra Setyawan
26. Hadani Had
27. Hardiansyah Asmail
28. Heni Hendrayani
29. Herliyanto
30. Husni Hamisi
31. Ical Wrisaba
32. Ika Yuni Purnama
33. Imam Budiman
34. Imam Qalyubi
35. Imron Rosyadi
36. Indri Kartika Putri
37. Irawan Sandhya Wiraatmaja
38. Jaka Satria Pasaribu
39. Jaya Ginmayu
40. Khairani Piliang
41. Khalish Abniswarin
42. Kurnia Effendi
43. Lilies MS
44. Lim Yew Yak
45. Lukman A Sya
46. Mahfuzh Amin
47. Mahiang
48. Mega Aryanie
49. Mochammad Syu’aib
50. Muhammad Asqalani eNeSTe
51. Muhammad Daffa
52. M. Nahdiansyah Abdi
53. Muhammad Syahrul
54. Muhammad Rizky Firdaus
55. Muhammad Zaini Naufal
56. M. Noor Hasnan
57. M. Zaini
58. Muhamad Yusuf
59. Nada Kamilah
60. Naidee Acil Ungah
61. Novi Sinta Anggraini
62. Nunung Noor El Niel
63. Nuriman N. Bayan
64. Nurmaliansari
65. Nurul Ludfia Rochmah
66. Nyoman Sukaya Sukawati
67. Petrus Saija
68. Prawiro Sudirjo
69. Pringadi Abdi Surya
70. Rabiatul Adawiah
71. Rezqie M. A. Atmanegara
72. Rie Arshaka
73. Rissa Churria
74. Romy Sastra
75. Ronall J Warsa
76. Rory Aksara
77. Roymon Lemosol
78. Rusdi El Umar
79. Salimi Ahmad
80. Sam Mukhtar Chaniago
81. Satsuki Fatimova
82. Selendang Sulaiman
83. Shantined
84. Sukardi Wahyudi
85. Siti Salmah
86. Syafaruddin Marpaung
87. Syalmiah
88. Syarif Hidayatullah
89. Sultan Musa
90. Tan Lioe le
91. Tarman Effendi Tarsyad
92. Tasamsyah
93. Tika Hartika
94. Udi Utama
95. Ujang Kasarung
96. Wyaz Ibn Sinentang
97. Wahyu Toveng
98. Wayan Jengki Sunarta
99. Yose S.Beal
100. Zulfaisal Putera
Catatan: 100 Penulis Antologi Kariyau Hutan akan mendapatkan buku secara gratis dan diundang untuk hadir ke Banjarbaru pada Wabul Sawi Festival (26-27 September 2025). Buku Kariyau Hutan akan diluncurkan pada Malam Imaji, Malam Penutupan WSFest 27 September, Pukul 23.00 WITA. Narahubung: Rina (0898-0550-073).
Tentang WSFEst dan update agenda kegiatan bisa diikuti lewat instagram @wabulsawifest.official dan website www.wabulsawifest.id


























