KOMPOSER dan penggerak ekosistem musik asal Banjarmasin, Novyandi Saputra, mewakili Indonesia dalam International Society for Performing Arts (ISPA) 2026 Singapore Congress #ISPASG26, salah satu forum seni pertunjukan internasional bergengsi yang mempertemukan pelaku budaya, komunitas seni, produser, kurator, artistic director, serta pemangku kepentingan seni pertunjukan dari berbagai negara.
Keterlibatan Novyandi berlangsung sebagai bagian dari delegasi ASEAN perwakilan Indonesia melalui undangan focal point SOMCA. Forum tersebut menjadi rangkaian kegiatan Singapore International Festival of Arts (SIFA) sekaligus ruang penting bagi percakapan global mengenai masa depan seni pertunjukan.
ISPA 2026 Singapore mengangkat tema “Same Same, And Different”, sebuah gagasan yang berangkat dari ungkapan populer Asia Tenggara untuk menjelaskan bagaimana kesamaan dan perbedaan dapat hadir secara bersamaan tanpa harus saling meniadakan. Tema tersebut menjadi dasar berbagai diskusi mengenai seni, budaya, teknologi, kesehatan, kolaborasi lintas budaya, hingga masa depan ekosistem kreatif global.
Novyandi hadir mewakili Komune Kolektif dan Akaracita yang merupakan bagian dari ekosistem bidang musik melalui rekomendasi Direktorat Film, Musik, dan Seni. Praktik yang dibawanya berangkat dari pengalaman sebagai komposer, penggerak Komune Kolektif, serta proyek musik Akaracita yang berbasis di Kalimantan Selatan. Fokus kerjanya meliputi gamalan Banjar, eksplorasi bunyi, kerja lintas budaya, dan pengembangan ekosistem musik.
Representasi Indonesia dalam forum tersebut juga diperkuat oleh Sekar Tri Kusuma dari Solo yang mewakili bidang tari tradisional kontemporer melalui rekomendasi Direktorat Film, Musik, dan Seni, serta RM Dyas Atmowisoro sebagai representasi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“ISPA memberi ruang untuk melihat bagaimana praktik lokal seperti gamalan Banjar dapat berdialog dengan percakapan seni global tanpa harus kehilangan konteks budaya dan akar tradisinya,” ujar Novyandi Saputra kepada asyikasyik.com, Senin (25/05/2026).
Tradisi, Kesehatan, AI, dan Masa Depan Audiens Seni
Selama berlangsungnya kongres pada 19–22 Mei 2026, para delegasi mengikuti berbagai konferensi yang membahas perkembangan mutakhir seni pertunjukan internasional.
Salah satu sesi penting bertajuk “What Endures, What Transforms: Art Across Cultures and Generations” membahas bagaimana tradisi dapat bertahan melalui transformasi.
Diskusi tersebut menghadirkan berbagai perspektif mengenai pewarisan budaya, praktik lintas generasi, hingga reinterpretasi bentuk seni kontemporer. Praktik Paper Moon Puppet Theatre dari Indonesia dan eksperimen musik Gabriel Prokofiev menjadi contoh bagaimana tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan identitas utamanya.
Perspektif lain muncul melalui sesi “Beyond Boundaries: Arts in an Interconnected Age – Part A: Healthcare” yang membahas hubungan antara seni dan kesehatan. Pembahasan mengenai social prescribing menunjukkan bagaimana seni, warisan budaya, dan alam mulai dipandang sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang lebih holistik.
“Diskusi mengenai seni dan kesehatan memperlihatkan bahwa seni hari ini tidak hanya berbicara mengenai produksi karya, tetapi juga tentang kualitas hidup, hubungan sosial, dan kesejahteraan manusia,” kata Novyandi.
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian utama melalui sesi “Beyond Boundaries: Arts in an Interconnected Age – Part B: AI.” Diskusi tersebut mengeksplorasi hubungan antara kecerdasan buatan, kreativitas, etika, dan masa depan praktik artistik. Berbagai eksperimen berbasis AI menunjukkan bagaimana teknologi membuka kemungkinan baru dalam penciptaan karya sekaligus menuntut dunia seni untuk membangun literasi digital yang lebih kuat.
Perubahan hubungan antara karya dan penonton turut menjadi pembahasan penting melalui sesi “Viewer, Participant, Co-Creator: Capturing the Evolving Audience.” Percakapan tersebut menyoroti bagaimana audiens masa kini tidak lagi diposisikan sebagai penonton pasif, melainkan partisipan aktif dalam pengalaman artistik yang semakin inklusif dan kolaboratif.

Membaca Ekosistem Produksi Seni Internasional
Selain konferensi, ISPA 2026 Singapore juga menghadirkan Pitching New Work, sebuah ruang presentasi proyek yang mempertemukan seniman, rumah produksi, dan sutradara dengan jejaring internasional.
Melalui sesi tersebut, berbagai proyek seni dipresentasikan bersama peluang kolaborasi, strategi produksi, serta kemungkinan pendanaan lintas negara. Pengalaman tersebut memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana karya seni pertunjukan internasional dibangun melalui riset, komunikasi profesional, dan jaringan kolaboratif yang luas.
“Sesi pitching memperlihatkan bahwa sebuah karya tidak hanya dibangun oleh gagasan artistik, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, strategi produksi, dan keberlanjutan ekosistem kerja seni,” ungkap Novyandi.
Gamalan Banjar dan Percakapan Global
Pengalaman berjejaring menjadi salah satu bagian penting selama kongres berlangsung melalui forum informal seperti Cocktail Klatch dan Kopi Klatch, yang mempertemukan delegasi dengan produser, promotor, kurator, pengelola seni, serta artistic director dari berbagai negara.
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai proyek seni, kemungkinan kolaborasi, dan perkembangan kerja artistik lintas kawasan. Percakapan yang berlangsung tidak hanya membahas karya, tetapi juga model produksi, mobilitas artistik, serta masa depan ekosistem seni pertunjukan.
Konteks Asia Tenggara memperoleh ruang khusus melalui Kopi Klatch, tempat Novyandi banyak memperkenalkan praktik musik berbasis gamalan Banjar, eksplorasi bunyi, serta sejumlah festival dan ruang kerja kreatif yang dikelolanya.
Respons yang muncul, menurut Novyandi, terasa sangat terbuka dan hangat.
“Ketertarikan terhadap gamalan Banjar tidak hanya muncul karena unsur tradisinya, tetapi juga karena potensinya untuk membangun dialog dengan praktik seni kontemporer global,” ujarnya.
Membawa Praktik Lokal ke Percakapan Internasional
Keterlibatan Indonesia dalam ISPA 2026 Singapore memperlihatkan bahwa praktik seni berbasis lokal memiliki posisi yang relevan dalam percakapan global. Musik tradisi, kerja lintas budaya, pengembangan festival, dan penguatan ekosistem kreatif menjadi bagian penting dari pembahasan mengenai masa depan seni pertunjukan internasional.
Bagi Novyandi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa identitas budaya lokal tidak perlu kehilangan akar untuk dapat hadir dalam ruang global. Percakapan lintas budaya yang berlangsung selama kongres memperlihatkan bahwa seni mampu membangun hubungan yang lebih manusiawi di tengah dunia yang semakin kompleks.
“Masa depan seni pertunjukan tampaknya akan semakin membutuhkan keberanian untuk menjaga konteks lokal sekaligus membuka diri terhadap kolaborasi lintas budaya,” tutupnya.(red)























