SERATUS TAHUN KESUNYIAN; SHOLIHIN DAN SENI RUPA DI KALIMANTAN SELATAN (BAGIAN 2)

: tulisan ini disampaikan pada “1 Abad Gusti Sholihin Hasan” – Seminar Kajian Ruang Tata Pamer Lukisan Gusti Sholihin Hasan, 6-7 Mei 2025, di Hotel Aeris Banjarbaru, diselenggarakan Museum Lambung Mangkurat Prov Kalimantan Selatan.

Noorman semasih hidupnya sempat membukukan tulisan-tulisan seni rupanya, yang berjudul Seni Rupa (Sejarah Perkembangan Seni Rupa Kalimantan Selatan dan Sedikit Pengetahuan Kesenirupaan). Di sini ia mencatat pertumbuhan kelompok-kelompok seni rupa Kalsel dari tahun 1940-an beserta para pelukisnya. Pada periode pendudukan Jepang (1942-194) Sholihin, kemudian Lamberi Bustami dan Nurbrand, belajar melukis kepada Kasa dan Kawazura. Ia kemudian mencatat Sholihin Hasan sebagai suatu periode tersendiri dalam tahap perkembangan berikutnya (1946-1959), mengingat kiprah dan kepeloporannya di daerah Kalsel. Noorman membandingkan Sholihin dengan Raden Saleh dalam seni modern Indonesia, yang sama ningratnya dan sama gigihnya “berjuang sendirian” demi perkembangan kesenirupaan daerahnya.

Pasca pergolakan politik (1960-1965), di Kalsel berdiri sanggar-sanggar seni rupa, seperti Sanggar Balahindang di Kandangan (1962) oleh Salehuddin, A. Thaberani dan Muchtar AS, Sanggar Agung di Amuntai (1967) oleh Zainoeri dan Kaspul Anwar, Sanggar Budaya Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1968) oleh Adjim Arijadi (anggotanya Noorman S, M. Zakaria, Arifin Hamdi, Ajamuddin Tifani, dan lain lain).

Sanggar Budaya sangat aktif menyelenggarakan kegiatan kesenirupaan dan cabang seni lainnya secara mandiri maupun bekerjasama dengan pemerintah. Anggota-anggotanya aktif mengikuti pameran di Kalsel maupun luar Kalsel, seperti Kalteng, Kaltim, Kalbar, Jawa-Bali, dan Sulawesi. Hingga sekarang sanggar ini masih aktif, hanya lebih banyak fokusnya sekarang pada pengembangan seni teater.
Tahun 1971 berdiri Sanggar Lissa ’71 di Banjarmasin oleh Saberi Hermantedo, Noorman S, Marwan Canie, Arifin Hamdi, dan lain-lain. Pada 1972 Rusliansyah yang lebih akrab dikenal sebagai Ulie Sebastian mendirikan Sanggar Kerikil Tajam di Banjarmasin, bersamaan di Banjarbaru berdiri Sanggar Ilalang oleh Didik Suardi, Heru Woeryanto, Pret Tanamal, Budhi Santoso dan Muchtar AS. Dan pada 1976 berdiri Sanggar Seroja SMPN 2 Banjarmasin oleh Noorman S, dengan kegiatan rutin melukis bersama dan pameran bersama tingkat pelajar. Tahun ‘80an lebih banyak berdiri sanggar lukis anak yang pesertanya banyak berprestasi di bidang lomba lukis anak, tidak hanya di dalam daerah bahkan ke tingkat nasional hingga ke mancanegara. Di antara pengajarnya adalah Budhi Santoso dan Rizali Noor, yang keduanya sama-sama pernah kuliah di ASRI Yogyakarta.

Noorman juga mencatat bahwa sejak tahun 1976 setiap tahun selalu ada pameran, baik yang diupayakan secara mandiri perorangan maupun kelompok, juga yang dibiayai oleh Proyek Pengembangan Kesenian pada Bidang Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun ’76 itu misalnya, proyek ini mengadakan pameran antarkota, dari Tanjung, Barabai, Martapura, Pelaihari, Banjarbaru dan Banjarmasin. Selain itu secara aktif para pelukis mengikuti undangan-undangan pameran baik di daerah maupun luar daerah, seperti di TIM, TMII, dan lain sebagainya.

Ada pula organisasi yang mewadahi para perupa, seperti Himpunan Seniman Seni Rupa Indonesia (HISSRI) Kalimantan Selatan, yang kemudian pada masa Ketua Nanang M Yus berubah menjadi komunitas Balambika, selain pula HISSRI Kota Banjarmasin yang diketuai oleh Noorman S.

Periode berikutnya (1990 hingga 2000an), menurut Noorman, adalah suatu masa yang sangat dinamis dalam pencarian kualitas estetik, yaitu ketika para pelukis akademis pulang dari studinya di luar Kalsel. Umumnya para mahasiswa ini belajar di STSRI-ASRI, yang kemudian menjadi ISI Yogyakarta, dan adapula meski sangat sedikit di Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya. Mereka di antaranya, Rizali Noor, Fathur Rahmi, Rokhyat, Adrian Karnadi, Zulian Rifani, Husni Thamrin dan Diah Yulianti (yang meski tinggal di Jakarta dan Yogya, masih sering mengikuti pameran di Banjarmasin), dan Hajriansyah (nanti ada pula M. Zaini dan lainnya). Sesuai dengan keilmuannya dan pengaruh pergaulan seni rupa yang lebih dinamis di Jawa, mereka memberi pengaruh pada eksperimen karya-karya bahkan kepada yang lebih tua dan otodidak.

Catatan Nooman ini meskipun masih bolong di sana-sini tapi memberi informasi penting perkembangan seni rupa di Kalsel, yang ada hubung kaitnya dengan mengapa beberapa di daerah (kabupaten/kota) tertentu lebih banyak pelukisnya serta kegiatan kesenirupaannya dibandingkan daerah lain yang seakan tak ada pertumbuhan seni rupa.

Di luar Banjarmasin sebagai yang pernah menjadi ibukota provinsi, Banjarbaru, Tanah Laut, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan terakhir Batola, misalnya, lebih terasa riak-riak kegiatan dan cukup dikenal pelukis-pelukisnya jika dibandingkan dengan Tapin, Balangan, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. Paling tidak sampai tahun 2011, ketika di Banjarmasin diadakan Pameran Karya Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan Perupa Kalimantan Selatan “Barito Sign”, yang menghadirkan karya Sholihin Chairil Anwar, saya sebagai co-Curator yang mendampingi Kurator M. Agus Burhan ketika itu cukup kesulitan mencari perwakilan perupa dari beberapa daerah yang disebut terakhir tadi. Namun berbeda sekarang, dengan berdirinya Ikatan Pelukis Kalimantan Selatan (IPKS, sebelumnya IPI Kalsel) hampir di setiap kabupaten/kota se-Kalsel ada perwakilan pelukis atau cabangnya. Bahkan dalam dua tahun terkahir, intensitas pameran seni rupa (lukis) di Kalsel mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini mengingat, selain pameran yang lazimnya diselenggarakan oleh Taman Budaya Kalsel satu atau dua kali dalam setahun, kini pameran makin sering diselenggarakan baik oleh komunitas-komunitas baru maupun kelompok lama yang kepengurusannya diwakili oleh yang lebih muda di luar komplek Taman Budaya. Ada yang bekerja sama dengan pengelola kafe atau kedai kopi, tempat komunitas seperti Kampung Buku dan Forum Sineas Banua, termasuk tempat-tempat yang sebelumnya tak lazim digunakan sebagai ruang pamer seperti Rumah Anno 1925 Banjarmasin, Gedung Banjarmasin Creative Hub, Mess L Banjarbaru, dll., dan ada pula yang berani membuka tempat khusus pameran seperti Galeri Badri di Banjarmasin.

Yang juga belum disebut di atas, adalah semacam pameran studi banding seperti pameran Temu Taman Budaya se-Indonesia yang bergantian daerah tempat pameran dan diikuti perwakilan masing-masing provinsi antara satu sampai dua orang; pameran “Asap” yang membawa karya-karya perupa Yogyakarta dari Rumah Seni Cemeti Yogyakarta tahun 2000 dan pameran “Borneo Terbuka” oleh Komunitas Seni Rupa Cibubur dan Komunitas Perupa Kalimantan (KPK) Borneo 2013, keduanya diadakan di Gedung Warga Sari Taman Budaya Kalsel; pameran KPK Borneo di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, di Kaltim, Kalteng, dan Kalbar.

Husni Thamrin selaku inisiator berdirinya KPK Borneo juga aktif berpameran di Kalsel dan Jakarta, tempat ia tinggal. Selain itu, Misbach Tamrin yang kembali aktif bersama Sanggar Bumi Tarung (sanggar yang berafiliasi ke Lekra dan didirikan pada tahun 1963 di Yogyakarta) sejak awal 2000an lebih dikenal luas dalam dunia seni rupa mainstream di Jawa meskipun harus bolak-balik ke tempat tinggalnya di Banjarmasin; Robert Nasrullah dikenal sebagai perupa kontemporer Indonesia sekaligus kaligrafer nasional, Diah Yulianti yang intens berpameran di Yogya dan berbagai tempat di Indonesia termasuk pameran-pameran tunggalnya di luar negeri, Rizka Azizah Hayati yang tahun 2022 lalu mengikuti pameran ArtJog mengadakan pameran tunggalnya di Nadi Gallery Jakarta 2024 dan beberapa pamerannya di luar negeri.

Mereka umumnya setelah selesai studi di Yogya tinggal menetap di sana, kecuali sesekali pulang ke Kalimantan Selatan. Relatif berbeda, selain Misbach, yang masih menetap di Banjarmasin dan aktif mengikuti pameran bergengsi di luar Kalsel adalah pelukis Sulistiyono (alm) yang pada dekade kedua 2000an aktif (beberapa kali) mengikuti biennale seni rupa dunia, seperti di Jepang, Cina dan Belgia. Beberapa yang disebut terakhir ini menandai aktivitas yang cukup intens dalam arus besar seni rupa Indonesia pasca-Sholihin. (Bersambung)