AsyikAsyik.Com – Jika kamu ke Banjarbaru, jangan sampai tidak mampir ke Mingguraya. Bila kamu orang luar Kalimantan Selatan, dan kebetulan berkunjung ke Banjarbaru, setengah wajib hukumnya menziarahi kawasan kuliner ini. Bukan. Bukan semata karena kulinernya. Tetapi di sini, bila beruntung, kamu akan mendapatkan suatu pengalaman baru yang mungkin tidak akan terlupakan hingga ke anak cucu—bila sudah punya cucu, ya satu hal pasti kamu sudah tua.

Apa itu?

Sabar, sebelum sampai ke Mingguraya, kita bicarakan dulu bagaimana agar bisa dengan mudah menemukan tempatnya—khusunya buat kamu yang bukan orang Kalsel atau orang Banjar. Kalau orang Banjar tidak tahu, sungguh keterlaluan.

Jadi, Mingguraya ini terletak di tengah-tengah kota Banjarbaru. Bila kamu turun di Bandara Syamsudin Noor, sebenarnya kamu sudah di kota Banjarbaru. Hanya saja orang seringkali bilang: Bandara Banjarmasin, termasuk nama tujuan yang tertera di tiket pesawat. Nah, dari Bandara ini, jaraknya sangat dekat sekali, tidak lebih dari 15 menit (berapa kilometer, bisa kira-kira sendiri). Tapi, tentu saja turun dari pesawat kamu tidak akan langsung ke Mingguraya, tapi menuju hotel (yang sudah kamu pesan lewat online). Bila tujuanmu memang ke Banjarbaru, maka dari jalan kawasan bandara, di simpang tiga, kamu akan berbelok ke kiri. Kalau belok ke kanan itu menuju Banjarmasin.

Ok, anggap saja tujuanmu ke Banjarbaru. Jadi angkutanmu belok ke kiri. Dan hotelmu menginap kebetulan juga berada di tengah-tengah kotanya. Ini semakin gampang. Dari hotel, kamu bisa tanya ke siapa saja, mulai bellboy sampai manager hotel, mereka pasti akan tahu Mingguraya (bila tidak tahu, kamu pasti salah orang). Mereka akan dengan senang hati menunjukkan arah menujunya beserta angkutan ke sana. Di zaman ini, kamu bisa pilih dengan naik ojek online (ongkosnya kira-kira tak lebih dari 15 ribu. Bila lebih, berarti hotelmu tidak berada di tengah kota). Atau, bisa juga naik angkot, jauh lebih murah lagi.

Dan sebaiknya, kamu ke Mingguraya pada waktu malam saja. Kenapa? Biar lebih romantis?

Romantis? Tergantung. Kamu bawa pacar, istri, atau tidak? Kalau Jomblo, berarti kamu sendiri. Tapi bukan itu. Kenapa sebaiknya malam, karena di waktu malam kamu bisa mendapati pengalaman baru yang tidak terlupakan seperti saya sebutkan di awal tadi. Serius? Ya, itu bila kamu beruntung, sih…

Kok bila beruntung? Kayak dapat undian aja…

Begini, saya beritahu. Di kawasan Mingguraya ini seringkali digelar sejumlah event, mulai musik, pameran otomatif, bazaar buku, hingga baca puisi. Yang rutin tiap bulan ada acara Poetry in Action, yakni pembacaan puisi yang digelar pada Jumat malam di akhir bulan. Bila kamu kebetulan berada di sana, kamu boleh ikutan baca puisi. Bebas aja. Dan bila bulan Ramadhan ada kegiatan Tadarus Puisi—acara ini bisa kamu tongkrongin sampai sahur, dan ikut sahur di sana. Makanan biasa berlimpah dan gratis. Nah, semua acara itu berlangsungnya waktu malam.

Bagaimana kalau ke Mingguraya bisanya siang atau sore saja?

Ok, tidak masalah, kan saya tidak bisa atur jadwal kamu.

Bila siang atau malam, kamu mungkin tetap bisa mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Saya sarankan, kamu pilih tempat duduk di warung  yang terletak di sudut kanan dalam bagian Mingguraya (yang di seberangnya ada lapangan bola). Di sini tempat nongkrongnya orang-orang kreatif; ada pelukis, penulis, wartawan, penyair, budayawan, dan pekerja seni lainnya.

Satu sosok ikonik di warung ini adalah seorang lelaki jangkung (tidak muda, tapi juga tidak terlalu tua), selalu memakai jaket, kepala plontos (ada sih rambut-rambut tipis, tapi tetap persisnya gundul), berkaca mata, murah senyum, namun seolah misterius. Dialah HE Benyamine. Seorang, kata teman-temannya google berjalan, yang hampir 24 jam nongkrong di sana—sampai-sampai orang bertanya-tanya, kapan dia tidurnya?

Jika kamu bertemu dia, ingatkan ciri-cirinya yang saya sebutkan tadi, kamu boleh langsung menyapanya dan perkenalkan diri. Jangan heran bila dia bilang, “Ya, saya kenal kamu.” Dia memang begitu, suka pura-pura sok tahu. Tapi jangan khawatir, dia baik kok.

Kamu bisa mulai ajak ngrobrol dia mulai mana saja. Bisa soal planet terluar di jagad raya ini, atau mulai asal kotamu yang bahkan andai di ujung bumi sekalipun. Dia pasti langsung nyambung. Apalagi kalau cuma soal ekonomi, politik, seni, budaya, atau cacing tanah.

Serius?

Sudah sejauh ini saya menulis, kamu kira saya bercanda? Ya, seriuslah…

Sama seriusnya jika HE Benyamine tadi tiba-tiba meminta kamu membaca puisi di sana. Dan saya pastikan, kamu tidak akan bisa menolaknya. Dalam perhitungan saya secara kasar saja, dari 1829 yang sudah dia minta baca puisi, mungkin hanya 9 yang gagal. Itupun karena yang dia suruh anak kecil yang belum bisa membaca. Dia sudah persiapkan buku puisinya, termasuk backdrop tempat membaca yang bertuliskan: “SAYA SUDAH BACA PUISI DI MINGGURAYA”.

Jangan bilang saya bercanda lagi bila saya katakan bahwa Nazwa Syihab, Dewi Lestari, Ahmad Fuadi, dan tokoh-tokoh lainnya pernah baca di situ. Di Mingguraya.

Bagaimana bila kamu takut terkencing-kencing disuruh baca puisi? Tidak ada cara lain, jangan sekali-sekali mengajak ngobrol dia. Ya, dia…

Dan silakan cari warung lain saja. Tapi saya sarankan, bila memilih warung lain, nanti saat pesan minum dan makanan, kamu langsung tanyakan saja harganya. Soalnya, pernah kejadian di satu warung, suatu rombongan kecil pengunjung harus membayar harga yang jumlah tagihannya sama andai makan di restoran. Padahal mereka cuma makan dan minum biasa aja seperti mie instans, kopi, dan teh manis.

Wow…!

Kaget? Ya, itu juga bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan bila kamu ke Mingguraya, Banjarbaru, dan bernasib sial seperti itu. Ya, intinya ikuti saja saran saya tadi.

Baiklah. Sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa saya tuliskan tentang Mingguraya, termasuk sejarahnya. Tapi tulisan ini mungkin sudah lebih dari cukup untuk menceritakan tentang satu sudut dari kota Banjarbaru itu. Lagi pula kan kamu belum tentu juga ke Mingguraya. Jadi, buat [email protected]

 

Facebook Comments