SIRING 0 Kilometer Banjarmasin berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat sejak 14 hingga 16 November 2025. Di sepanjang jalur tepi sungai itu, 34 tenda berdiri seperti barisan cerita, menyambut siapa saja yang datang ke Religi Expo X yang diadakan oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin. Sebuah gelaran tahunan yang tahun ini mengusung tema “Merak: Merawat Alam dan Keberagaman.”

Dari kejauhan, suara musik dari panggung utama terdengar bersahut-sahutan dengan riuh pengunjung di sela angin sungai. Ratusan orang mengalir masuk, sebagian hanya ingin melihat-lihat, sebagian lain dengan sengaja mencari sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan, sebuah suasana yang mempertemukan perbedaan tanpa rasa canggung.

Di salah satu sudut tenda, Tamsi (30) tampak sibuk meladeni pengunjung. Di meja kayunya tersusun rapi kopi dari dataran tinggi Batung, ikan asin dari kampung perairan di Hulu Sungai Utara, hingga sirup kayu manis dan beras merah dari Loksado. “Ada kopi, ikan asin, sirup kayu manis, dan beras merah. Semuanya produk dari wilayah kelola rakyat yang didampingi WALHI Kalsel,” ujarnya sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.

Kehadiran WALHI Kalimantan Selatan di gelaran religi bukan hal lazim, namun justru di ruang lintas iman dan lintas budaya seperti ini isu lingkungan menemukan panggung yang lebih cair. Tamsi mengatakan kesempatan ini penting untuk membuka percakapan ekologis kepada masyarakat luas. “Kesempatan WALHI mengisi stan Religi Expo untuk mengkampanyekan advokasi WALHI Kalsel dan mengajak masyarakat untuk fokus jua pada isu ekologi,” katanya.

Gelaran semakin ramai pada hari kedua, 15 November 2025, ketika Wali Kota Banjarmasin, M. Yamin, datang berkeliling. Ia menyusuri barisan stan sambil sesekali berhenti, memberi salam, dan bertanya pada penjaga stan mengenai produk-produk lokal yang dipamerkan. Di stan UMKM, ia membeli beberapa produk.

“Acara seperti ini penting karena mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda dalam suasana yang aman dan saling menghargai,” ujar Yamin. Ia menambahkan bahwa keberagaman bukan sekadar simbol, tetapi praktik keseharian yang harus terus dirawat.

“Kita ingin Banjarmasin masuk dalam 10 besar kota toleran, tahun 2024 Banjarmasin peringkat 15 secara nasional.” katanya. Kehadirannya membuat alur pengunjung semakin hidup, memperkuat pesan bahwa pemerintah daerah mendukung ruang-ruang inklusif seperti ini.

Di panggung utama, anak-anak dari berbagai sanggar tampil menari, berganti dengan kelompok seni yang membawakan lagu-lagu etnis diiringi sorak penonton. Suasana bertambah warna lokal pada perayaan yang sejak awal ingin merangkul keberagaman budaya dan iman.

Religi Expo tahun ini juga mempertegas citra Kalimantan Selatan sebagai provinsi dengan toleransi sosial yang kuat. Tradisi lokal Banjar yang akrab dengan musyawarah dan gotong-royong menjadi fondasi sosial yang menopang gelaran seperti ini. Ruang interaksi publik yang aman, terbuka, dan inklusif menjadi salah satu ciri khas yang terus dipertahankan oleh banyak komunitas dan jaringan masyarakat sipil di daerah ini.

Semakin malam, arus pengunjung justru semakin padat. Lampu-lampu tenda memantulkan cahaya kekuningan di permukaan Sungai Martapura, seperti barisan kunang-kunang yang tak pernah lelah. Di tengah keramaian itu, Mahtia (24) berhenti sejenak untuk menceritakan alasannya datang. “Karena ingin lebih kenal dengan kawan-kawan yang berbeda dengan saya sendiri. Menarik mengetahui tentang agama-agama lain agar kita bisa saling mengenal dan menghormati satu sama lain,” tuturnya.

Ucapan Mahtia mencerminkan inti dari Religi Expo yaitu bukan hanya perayaan keberagaman, tetapi ruang untuk membuka diri. Sebuah dialog tumbuh di antara tenda, panggung seni, serta meja-meja UMKM, menegaskan bahwa toleransi tidak lahir dari slogan, melainkan dari kesempatan untuk bertemu dan belajar satu sama lain.

Hari terakhir kegiatan hujan turun deras. Religi Expo tidak kehilangan semangatnya meski rangkaian acara hanya berlangsung sampai sore dengan agenda utama pembagian hadiah bagi juara dan hiburan. Total ada 98 penampil dan 610 talent yang meramaikan seluruh rangkaian agenda dalam tiga hari.

Dan tiga hari itu, di bawah langit Banjarmasin yang memantulkan cahaya kota, Religi Expo 10 tampak seperti perwujudan dari masyarakatnya bahwa perbedaan bisa dirawat seperti merawat alam dengan kesabaran, dengan keterlibatan, dan dengan rasa saling percaya yang dibangun dari pertemuan-pertemuan sederhana.(red)