BANJARMASIN Art Week (BAW) 2025 akan berakhir Senin (15/9). Saya berkesempatan datang Sabtu (13/9) sore hingga malam. Sore itu sedang berlangsung acara Bacucuk Buku dengan  tema “Seni Rupa yang Gak Gitu-Gitu Aja”, menghadirkan pembicara Hajriansyah, Eky, dan Melati. Ketiganya seniman seni rupa.

Pengambilan tema “Seni Rupa yang Gak Gitu-Gitu Aja” ini menarik. Ia tidak saja dikhususkan untuk diskusi sore itu yang memperbincangkan tentang seni rupa, tetapi juga bisa secara keseluruhan, misalnya BAW “yang gak gitu-gitu aja” sebagai sebuah event kesenian yang kini telah memasuki tahun ke-4.

“Seni Rupa yang Gak Gitu-Gitu Aja” bisa kita artikan adanya kebaruan dalam seni itu, sehingga ketika orang menyaksikan tidak sampai bilang “Ah, gitu-gitu aja” yang maksudnya biasa saja, sudah pernah disaksikan, atau tidak ada hal menarik lainnya yang memberi nilai kebaruan pada karya itu.

Benar belaka, dalam setiap karya seni tantangan terbesarnya adalah menghadirkan sesuatu yang baru atau kebaruan, agar karya itu tidak tampil “gitu—gitu” aja. Dan mesti diyakini, bahwa ada banyak seniman yang sadar dengan hal itu, yang setiap waktu bergelut dengan upaya menghadirkan kebaruan dalam karyanya; semisal menggunakan teknik baru dalam seni rupa dengan memakai media atau bahan yang belum pernah digunakan, atau di dalam karya sastra menggunakan teknik penceritaan yang unik dan tak biasa. Dalam hal gagasan atau ide, mampu menghadirkan konsep atau pemikiran yang tidak pernah atau jarang dieksplorasi. Atau bentuk lainnya, yang merupakan gabungan dari berbagai gaya atau teknik sehingga memunculkan bentuk atau ekspresi baru.

Pada Pameran  Seni Rupa BAW 2025 bertema “Hidup Singkat, Seni Abadi”, dapat kita temui ada beberapa upaya untuk menghadirkan kebaruan itu—setidaknya dalam skala pameran di Kalimantan Selatan sejauh ini. Misalnya pada karya Rizky A. Setiawan berjudul “The Heart and The Sunflower” yang menggunakan media cat akrilik di atas kaca, yang ketika penikmat mengamati lukisan itu maka secara tak langsung juga menjadi bagian dari karya tersebut.

Karya Rizky A. Setiawan berjudul “The Heart and The Sunflower”.

Atau pada karya Akhmad Noor berjudul “Sudut Pasar” (cat minyak di atas kanvas, 100 X 80 cm), yang menghadirkan konsep dalam pewarnaan; obyek lukisan realis hitam putih, namun mendapatkan aksen warna dalam bentuk garis-garis vertical. Sependek pengamatan saya, Akhmad Noor yang biasa dipanggil “Kerbau” memang kerap melakukan eksplorasi dalam setiap karyanya, seolah ia selalu gelisah dan bergelut dalam pencarian gagasan estetik.

Karya Akhmad Noor berjudul “Sudut Pasar” (cat minyak di atas kanvas, 100 X 80 cm) dipotret dari buku “Balarut – BAW 2025”.
Karya Misbach Tamrin berjudul “Kota Seribu Sungai” (cat minyak di atas kanvas, 100 X 120 cm) dipotret dari buku “Balarut– BAW 2025”.

Pada tahapan tertentu, seorang seniman bisa saja “menetap” pada satu gaya yang telah menjadi khas miliknya. Seperti Misbach Tamrin, yang dalam pameran ini menghadirkan karyanya berjudul “Kota Seribu Sungai” (cat minyak di atas kanvas, 100 X 120 cm), dengan pewarnaan khasnya terang dan gelap yang membentuk gari-garis tebal vertikal—yang oleh salah satu kolektor lukisannya disebut sebagai manifestasi alam bawah sadar Misbach pada jeruji besi, mengingat sang pelukis pernah mengalami hidup dalam bui imbas dari pecahnya peristiwa ’65.

Seorang anak berfoto di bawah lukisan “Persetan” karya Nashwa Aliya Nabila.

Tentu masih ada karya lainnya dari 35 yang dipamerkan, yang bisa diulas lebih jauh untuk menemukan hal-hal kebaruan yang mungkin dimilikinya. Kendati juga, masih ada sekian karya yang seolah stagnan pada gaya “oldies”; dalam pengertian terpaku pada gaya tertentu dengan capaian estetis tertentu pula, sehingga bisa saja jatuh pada ungkapan “gitu-gitu aja”.

Namun apapun itu, karya-karya yang dipamerkan kiranya telah mendapatkan penilaian tersendiri dari kuratornya, yang dalam buku “Balarut – Banjarmasin Art Week 2025” disebutkan telah diseleksi dari 60 karya yang diterima—artinya, ada hampir separuh yang mesti sisihkan.

Dan, secara keseluruhan, BAW 2025 bisa dibilang tidak “gitu-gitu aja”. Ada banyak kebaruan terlihat dalam pergelaran kali ini. Konsep acara, tata panggung/ penonton, hingga promosi sosialisasi di media sosialnya sangat menarik. Selamat, sampai jumpa di BAW tahun depan.@