MARAKNYA budaya pop dari luar negeri yang merambah di Indonesia – yang tak hanya menjamur di kalangan anak dan remaja, membuat budaya lokal mulai tergerus. Tak jarang – bahkan banyak anak muda sekarang tidak tahu lagi kosa kata bahasa ibunya, juga warisan budaya lainnya seperti nilai hidup, seni, tradisi, pakaian, permainan hingga kuliner. Sehingga dirasa perlu untuk melakukan upaya pelestariaan terhadap warisan budaya tersebut.
Berangkat dari hal tersebut, Sanggar Langit Tanjung bersama Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tabalong menggelar sebuah acara Bincang Sastra bertajuk Meramu Lokalitas Dalam Karya Sastra, bertempat di Kedai Langit Tanjung, Sabtu (11/10/2025) malam. Hadir dua pemateri dari Banjarbaru; Sandi Firly (penulis, jurnalis, pelukis) dan Aliansyah Jumbawuya (penulis dan budayawan).
“Karya Sastra merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian budaya kita. Karya sastra yang ditulis akan bisa dibaca dari generasi ke generasi,” ungkap Lilies MS, Ketua Sanggar Langit Tanjung.


Tak hanya dihadiri oleh pegiat seni sastra dari Tabalong, agenda ini dihadiri oleh para guru dan siswa dari beberapa sekolah yang ada di Tabalong, juga sastrawan senior dari Balangan, H. Fahmi Wahid dan sastrawan muda berbakat asal HSU, Wildanne.
Acara yang dipandu oleh Suhaimi Bojes ini dimulai dengan pemaparan dari Sandi Firly yang tidak hanya menceritakan tentang proses kreatifnya dalam menulis, tapi juga menceritakan tentang ihwal kampung halamannya di Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah. Sandi yang suka membaca dari kecil menceritakan bahwa ia memulai menulis dari membuatkan surat cinta yang diminta teman-teman sekolahnya.
“Menyukai membaca dan menulis itu berkah. Karena tidak semua orang memiliki kedua hal itu,” kata Sandi Firly.
Sandi menyarankan kepada anak-anak muda, apabila menyukai membaca dan menulis, maka maksimalkanlah keduanya selagi muda. “Karena dapat mencapai karier yang baik dalam kepenulisan selagi muda itu tentu lebih keren,” ucapnya.
Aliansyah Jumbawuya pun menceritakan ihwal nama pena Jumbawuya yang tersemat pada namanya. “Jumbawuya adalah penggabungan dua tempat, yaitu Jumba (HSU) dan Muara Uya (Tabalong) yang merupakan tempat asal orang tua saya,” katanya.
Ali mengaku gelisah setelah para tetuha penjaga budaya satu per satu mulai meninggal. “Dari situ saya pun merasa perlu untuk melanjutkan perjuangan mereka untuk melestarikan budaya agar tidak tergerus zaman. Cara yang bisa saya lakukan adalah dengan menuliskannya,” ungkap Ali yang telah menerbitkan 54 judul buku ini.
Selain tentang lokalitas, isu terkait rendahnya minat baca, terutama pada kalangan pelajar yang disampaikan oleh Pak Galih Bayu, guru di MAN 4 Haruai juga menjadi pembicaraan yang menarik. Ia meminta tips kepada narasumber untuk meningkatkan minat baca tersebut.
“Saya tidak mempunyai tips khusus terkait bagaimana menaikkan minat baca. Saya hanya bisa hanya bisa memberi saran, terutama para Guru Bahasa agar bisa memberikan tugas membaca secara rutin kepada siswanya. Misal satu cerpen dalam sepekan, dan siswa diminta menceritakan cerpen yang dibacanya di depan kelas. Dengan begitu, siswa akan banyak tahu tentang cerpen, dan banyak mengenal penulis-penulis cerpen,” pungkas Sandi Firly.

Aksara Rasa, Narasi tentang Kuliner
Di tempat berbeda, yakni Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tabalong juga digelar kegiatan “Aksara Rasa: Tulisan Kuliner Khas Kalimantan Selatan” yang digelar Komunitas Rumah Pustaka Tabalong. Acara berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu (11-12/10/2025), yang juga menghadirkan Aliansyah Jumbawuya dan Sandi Firly sebagai narasumber, serta para pegiat kuliner, yakni Jainudin Ramli (pegiat kuliner paliat), Rusida Ariyani (pegiat kuliner ketupat kandangan), serta Nanang Muslim (pegiat kuliner Bingka Kacung).
Tercatat sebanyak 85 peserta dari Tabalong, Balangan dan HSU mengikuti acara ini. Tak sekadar diskusi terkait kuliner khas Kalimantan Selatan, tetapi juga berlatih bagaimana membuat narasi tentang kuliner.

“Para pemuda perlu mengenal makanan khas daerahnya, bukan hanya makanan luar negeri yang menjamur saat ini. Rencananya hasil karya peserta akan dihimpun arsip digital khazanak kuliner khas Kalimantan Selatan yang bisa dijadikan referensi para pemuda untuk mengenal lebih dekat makanan khas daerahnya,” ungkap Maulida, ketua pelaksana yang juga ketua Komunitas Rumah Pustaka.
Fajar Kusumanto, Pustakawan Ahli Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tabalong juga menyampaikan bahwa Dispersip Tabalong selalu mendukung kegiatan literasi yang diadakan oleh Komunitas Rumah Pustaka. “Ini merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan literasi kuliner khas daerah, sehingga bisa melahirkan tulisan-tulisan kreatif untuk mengenalkan kuliner daerah,” harapnya. (Mahfuzh Amin)





























