RUANG Roy BB Janis, Baca Di Tebet, Jakarta Selatan (8/10/2025) siang menjadi saksi Diseminasi Program Kebahasaan dan Kesastraan yang diselenggrakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendiknasmen RI.
Kegiatan ini dihadiri 50 elemen partisipan yang diawali oleh sambutan dari Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin yang menyampaikan 4 program yang dilakukan Badan Bahasa dalam upaya peningkatan pencapaian literasi, yaitu; Menjadikan iterasi sebagai pondasi memahami bacaan dan informasi, Menjaga kedaulatan bahasa: tonggak kedaulatan bahasa Indonesia, Pelestarian Bahasa Daerah, dan Meningkatkan fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa internasional melalui program perinternasionalan bahasa.
“Untuk pelestarian daerah, kami melakukan pemerkayaan bahasa Indonesia sebagai identitas. Dan kabar gembira, bahasa Indonesia termasuk dalam 10 bahasa yang digunakan dalam Sidang UNESCO pada November 2025 mendatang,” ungkap Hafidz Muksin diikuti tepuk tangan peserta dialog.
Selain itu, Kepala Badan Bahasa juga menyinggung soal Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) yang diikuti oleh anak-anak dan masyarakat umum. Pihaknya tahun ini sedang mengembangkan agar UKBI KBI bisa mengukur kemampuan disabilitas seperti teman tuli.
“Demikian hal tersebut kami berharap, teman-teman tuli juga memiliki kesempatan mengukur dirinya dalam Kemahiran berbahasa Indonesia dan ini sesuai dengan bagaimana mengukur kadar bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berdaulat.” papar Hafidz kepada redaksi asyikasyik.com.
Di kesempatan ini, selain Kepala Badan Bahasa, narasumber lain yang membersamai adalah Wien Muldian (Pendiri Perpustakaan Publik Baca Di Tebet) dan Hj. Himmatul Aliyah, Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Wien Muldian secara gamblang mengurai soal kecakapan berbahasa sebagai komunikasi, keterampilan literasi, dan apresiasi sastra di masyarakat
“Cara kita belajar dan berinteraksi, gaya berbahasa dan berkomunikasi berubah sejak covid dengan adanya tekonologi. Hal ini menjadi penting sebab intervensi teknologi berbahasa menjadi cepat, apakah hal ini memberikan perubahan? Munculnya energi kreativitas karena berkomunikasi berbahasa yang sangat unik,” terang Wien Muldian yang juga pionir sekaligus pendiri banyak organisasi keliterasian di Indonesia.
Menurutnya, kemampuan berbahasa tidak hanya dimiliki oleh orang orang yang bergulat di bidang bahasa dan sastrasaja. Adanya perbedaan antara; literasi, literatur, dan bersastra.
“Dari tiga itu perlunya memperkaya kosakata dengan sumber belajar buku dan bahan bacaan lainnya. Kemampuan berbahasa bisa digunakan pada semua spektrum. Bukan hanya kecakapan menulis prosa, essai, tapi juga bisa menyampaikan gagasan tapi juga adanya kemampuan berbahasa yang baik.” ungkap Wien dengan lugas.
Sehingga bagi Wien, bukan lagi membaca semua buku, tapi membaca buku yang sesuai kapasitasnya, dalam kata lain lebih merujuk kepada minat yang disukai anak, jadi bagaimana bahasa bisa membuat individu berdaya.
Sementara, Wakil Komisi X DPR RI, Hj. Himmatul Aliyah menyampaikan bahwa Pemerintah sudah berusaha menyupayakan suatu sistem dengan berlandaskan, ketakwaan dan keimanan untuk mencerdaskan generasi.
“Masih ada 3,9 juta anak yg tidak bersekolah. Tidak hanya pendidikan secara materi, tapi juga secara gizi anak sekolah yang kita perhatikan,” papar Himmatul Aliyah kepada seluruh peserta dialog.
Acara yang dimoderatori Kurnia Effendi berlangsung khidmat dan dihadiri banyak kalangan yang beririsan dengan komunitas literasi dan datang dari dalam dan luar Jakarta, termasuk kedatangan partisipan undangan dari Banjarbaru, Lembaga Akademi Bangku Panjang Mingguraya; Misbach Tamrin, Naila Soraya, Adhansatya Praja, dan Hudan Nur.@
Rombongan Banjarbaru berpose dengan Kepala Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa































