Fenomena NEET atau Not in Education, Employment, or Training menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam diskursus kepemudaan di Kalimantan Selatan, khususnya saat Konferensi Pemuda Kalimantan 2025 di Banjarbaru. Istilah ini merujuk pada kelompok pemuda yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, kondisi ini sering dikaitkan dengan tantangan dalam proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja.
Isu tersebut dibahas dalam kegiatan Wiki Bakunjang yang diselenggarakan oleh BASAIbuwiki-Kalimantan pada Kamis, 16 April 2026 di SMKN 1 Binuang, Kabupaten Tapin serta di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari di Banjarbaru. Kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi bagi pelajar dan mahasiswa untuk memahami dinamika yang berkaitan dengan pendidikan, ketenagakerjaan, dan pilihan masa depan.
ANGKA NEET KALSEL MENUNJUKKAN TANTANGAN KETERLIBATAN PEMUDA
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024 sampai 2025, angka NEET di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 18,59 persen. Secara rata-rata, proporsi pemuda dalam kondisi NEET mencapai sekitar 21,17 persen. Angka tertinggi terdapat di Kabupaten Kotabaru sebesar 29,95 persen, sementara angka terendah berada di Kabupaten Tabalong sebesar 14,14 persen. Selain itu, tingkat pengangguran pemuda di Kota Banjarmasin tercatat sebesar 15,43 persen, lebih tinggi dibandingkan rata rata nasional sebesar 13,41 persen. Secara keseluruhan, tingkat pengangguran pemuda di Kalimantan Selatan berada pada angka 10,89 persen.
Kepala SMKN 1 Binuang, Satriya Alfiza, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini dapat menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman tambahan kepada siswa mengenai tantangan yang mungkin dihadapi setelah lulus sekolah. “Persoalan ke depan semakin kompleks. Isu seperti kawin muda dan kondisi kada singgawian (tidak bekerja) menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi pemuda. Harapannya kegiatan ini dapat memberikan gambaran dan motivasi bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.

TRANSISI DAN FAKTOR SOSIAL MENJADI PENENTU PEMUDA
Caca, salah satu murid SMKN 1 Binuang yang pernah mengikuti Dialog Kebijakan isu Kawin Anum, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan ruang diskusi yang relevan dengan pengalaman mereka sebagai pelajar. “Setelah mengikuti dialog tentang kawin anum, saya mengajak kawan-kawan untuk ikut terlibat dalam kegiatan BASAibuwiki-Kalimantan di isu NEET. Ini menjadi ruang belajar bersama bagi kita sembari melestarikan bahasa Banjar,” katanya.
Sementara itu, Erwin Syahputra, murid SMKN 1 Binuang lainnya, menilai bahwa lingkungan dan kebiasaan sehari hari juga dapat memengaruhi pilihan pemuda setelah menyelesaikan pendidikan. “Di lingkungan saya, ada orang yang berada dalam kondisi NEET yang sehari-harinya seolah tidak serius menata masa depan. Karena itu penting bagi kita untuk membangun mindset dan mencoba berbagai aktivitas positif di luar keseharian,” ungkapnya yang berpendapat bahwa NEET juga dipengaruhi faktor internal pemuda itu sendiri.
Dalam sesi diskusi di SMKN 1 Binuang yang diikuti oleh 170 siswa, Adhansatya Praja selaku fasilitator menyampaikan bahwa fenomena NEET perlu dilihat dari berbagai aspek yang saling berkaitan. “Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ada aspek akses, keterampilan, hingga kondisi sosial yang memengaruhi keterlibatan pemuda dalam pendidikan dan pekerjaan,” terangnya.
Fasilitator lainnya, Diang Anggrek di Uniska menambahkan bahwa fase setelah lulus sekolah atau kuliah merupakan periode yang memerlukan perhatian dalam proses pengambilan keputusan. “Transisi dari masa pendidikan ke dunia kerja sering menjadi titik penting. Ketersediaan informasi dan pendampingan dapat membantu pemuda dalam menentukan langkah berikutnya,” jelasnya kepada 36 mahasiswa.
Kegiatan Wiki Bakunjang di dua lokasi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai NEET mencakup berbagai jenjang pendidikan. Forum ini menjadi salah satu ruang untuk bertukar pandangan antara pelajar, mahasiswa, dan fasilitator mengenai kondisi yang dihadapi pemuda saat ini.
“Melalui kegiatan positif ini, jelas Basakalimantan Wiki menghadirkan forum diskusi yang bertujuan untuk memperluas pemahaman serta mendorong partisipasi pemuda dalam melihat dan merespons isu yang berkembang di lingkungan mereka,” ujar salah satu mahasiswa Uniska.(red)
























