“Teater adalah teror! Kita sedang tidak mementaskan yang manis-manis, Bung!”
SIAPA yang tertawa ketika menonton lakon Barajah Bala, hari terakhir Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) 2026, Minggu (25/10)?
Ketegangan terus mereka bangun sejak layar panggung terbuka.
Serpihan kayu lapis berkelir merah membentuk kesan sebuah rumah, kelam dan dingin. Di dalam rumah, foto keluarga usang, lemari tua, dan ranjang merah. Di depan rumah, sebuah warung sederhana seperti yang sering kita lihat di gang-gang sempit pinggiran kampung Banjarmasin.
“Amun nyawa kada hakun maunjuk duit gaji, unda hamburakan kamar nyawa! Kada usah kamar, warung Uma nyawa gin unda bulangkir!” Hasan berteriak kepada Nilam puterinya.
“Indah! Ulun tapakai sagan manabung kuliah!” jerit Nilam.
Tapi Hasan merangsek, merampas amplop yang ada di tangan Nilam. Setelah itu menghambur ke luar rumah. Istri Hasan gemetar di warung, ibu-ibu pelanggan melihat sekillas ke arah Hasah, namun mendapati wajah garang mereka langsung menundukkan kepala.
“Apa cangang-cangang! Handak minta hantam, kah!”
Barajah Bala, judul ini bisa kita terjemahkan: Mantra Kebal. Menceritakan Hasan, bromocorah yang sehari-hari bekerja sebagian tukang parkir di Pasar Ulin. Namun karena kerjaanya hanya mabuk, berjudi dan berkelahi, ia selalu kekurangan uang. Sasarannya adalah anak dan istrinya.
Sudah banyak yang menyarankan Ijah, agar segera berpisah dengan Hasan, termasuk Nilam. Tetapi trauma masa lalu rupanya membuat Ijah gamang menentukan sikap. Juga begitu takutnya dengan Hasan; belum lama tadi suaminya berebut lahan parkir dengan senjata tajam, tiada luka di tubuhnya, sementara lawannya tewas.
Suatu harri kembali terjadi pertengkaran hebat antara Ijah dan Hasan.
“Jangan ambil duitku! Ngintu tabunganku sagan naik haji!’
“Musti handak naik haji. Nyawa ngintu bakas dipakai urang banyak!”
Terungkap akhirnya. Ketika masih remaja, Ijah yang sedang mabuk dibawa Hasan ke pondok. Di sana Hasan dan beberapa temannya menggagahi Ijah. Namun ketika Ijah ketahuan hamil, hanya Hasan seorang yang bertangungjawab.
Tidak terima, Ijah mengamuk. Nilam masuk. Hasan mengeluarkan parang dan nyaris membunuh anak dan istrinya.
Kisah kebengisa Hasan akhirnya berakhir jua. Keluarga yang tewas menuntut balas. Terjadi perkelahian dengan parang. Dua lawan satu. Hasan kalah, berlumuran darah. Barajah Bala tidak berguna. Karena, sebelum berangkat dari rumah, Ijah telah melepas jimat Hasan dari ikat pinggangnya. Ijah membiarkan Hasan sekarat menjemput maut di dalam kamar, hanya ditemani suara tangis Nilam.
Sutradara Barajah Bala, Muh Irwan Aprialdy awalnya meragu. Apakah anak-anak SMA Negeri 1 Banjarmasin yang tergabung dalam Sanggar Mentari bisa membawakan naskah kelam tersebut dengan baik di atas panggung. Namun teror di mata penonton sudah menunjukkan semuanya.
Secara umum, pentas berjalan rapi. Serius.
Sempat terjadi dielektika. Apakah pementasan dengan tema semacam itu mewakili identitas Banjar, berikut dengan nilai-nilai yang dibawa. Bukankah kisah serupa biasa terjadi di mana-mana.
Menanggap ini, Irwan mengatakan, naskah tersebut berangkat dari kisah nyata. Ia hanya membawa realitas yang ia temukan. “Bahkan bahasa para tokohnya tidak kami saring, sesuai dengan bahasa keseharian,” ujarnya.

Putu Wijaya pernah berkata: “Teater adalah teror. Di negeri yang sedang bobrok ini kita tidak mementaskan yang manis-manis, Bung!
Atau apakah itu yang diinginkan Barajah Bala? Irwan tidak secara eksplisit mengemukakan alasannya, selain naskah tersebut bermuara dari kegelisahan dirinya sebagai seniman sekaligus pengajar.
Selain Barajah Bala, banyak lakon juga menggambarkan tema-tema luka. Hanya saja, selain Barajah Bala, sedikit yang memang konsisten membangun atmosfer ketegangan di atas pentas. Sementara yang lain, walau mengusung tema berat, tetap masih menyediakan ruang untuk tertawa.
Saya ingat ketika pegiat seni budaya dan film teater Embie C Noer yang jauh-jauh datang dari Jakarta untuk membersamai FTBB II 2026 mengatakan, jika ingin melihat apakah kehidupan politik di Banua kita sudah baik atau belum, silakan tonton teater.
Awalnya saya kurang mengerti, tetapi melihat beberapa gagasan yang diangkat grup teater selama FTBB II saya berasumsi, maksud Embie adalah teater bisa menjadi cerminan realitas masyarakat.
Sebagai gambaran, pada 2025 saja tercatat 812 kasus kekerasan kepada perempuan dan anak. Total korban mencapai 869 orang. Berkorelasi erat dengan tingginya angka pernikahan dini.
Menjadi mencemaskan kemudian, karena jumlah kasus terbanyak justru di Banjarmasin. Diperparah lagi dengan tren yang terus naik: tahun 2024 ada 180 kasus, dan setahun kemudian menjadi 206 kasus. Sepanjang 2026, tepatnya di bulan Agustus, DPPPA Kota Banjarmasin sudah mencatat 162 kasus!
Sedih? Begitulah faktanya.
Dan sebagaimana kita sama tahu, tentu tidak semua kasus kekerasan perempuan dan anak masuk ke dalam catatan adminsitrasi.@





























