PALANGKA Raya di suatu sore nan lambat. Kota ini lebih sering bicara lewat rintik hujan dan gemerisik angin kemarau nan panjang ketimbang kata-kata. Aku duduk di teras rumah, mengenakan kaos oblong biru yang mulai memudar warnanya. Tak ada yang istimewa dari kaos ini. Tak berlabel, tak bergambar, tak punya cerita yang bisa dijual. Namun setiap kali menyentuh kulitku, ada rasa akrab yang tak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia tahu betul kapan aku sedang ingin menyendiri, dan kapan aku butuh pelukan yang tidak menuntut penjelasan. Kaos ini tak pernah protes saat kubawa ke warung kopi, ke bengkel motor, atau ke sudut taman yang sering kulupakan. Ia hanya ada dan dalam keberadaannya yang semenjana, aku merasa dilihat tanpa dihakimi.
Aku bukan pengoleksi. Tidak pernah memburu kaos edisi terbatas atau rela antre demi sablon eksklusif dari Jakarta atau Bandung. Tetapi lemari kayu tua di kamarku menyimpan sekitar dua puluh kaos oblong. Sebagian kubeli di pasar besar, sebagian lagi hadiah tanpa nama dari masa lampau. Ada yang berlubang di ujung lengan, ada yang penuh bercak minyak bekas memperbaiki sepeda motor keponakan. Tetapi aku tak pernah tega membuangnya. Di kota seperti Palangka Raya, di mana malam datang lebih cepat dan sunyi terasa lebih nyata, kaos-kaos itu bukan sekadar pakaian. Mereka adalah saksi bisu atas tubuh yang pernah lejar, atas pikiran yang pernah patah, dan atas hati yang diam-diam belajar sembuh.
Kadang aku berjalan kaki menyusuri pinggir Sungai Kahayan, mengenakan kaos oblong hitam yang sudah mulai kendur di bagian kerah. Orang-orang mungkin tak memperhatikan, dan itu justru membuatku nyaman. Dalam hidup yang terlalu sering memaksa kita menjadi “seseorang”, kaos oblong memberiku izin untuk menjadi “tak apa-apa”. Ia tak peduli profesiku apa, atau siapa yang kutemui hari ini.
Aku hanyalah manusia yang berkeringat, tertawa, terluka, dan berharap di hadapannya.
Mungkin karena itu aku mencintai kaos oblong karena ia tidak pernah bertanya siapa aku. Ia hanya terpaku, seperti kota ini, dan diam-diam menampung segalanya.Tidak ada jeritan dari sehelai kaos oblong. Ia tidak menyala di tengah kegelapan, tidak menggoda indera dengan kilauan simbol atau aroma kemenangan. Ia hanya tergeletak diam, seperti hati manusia yang telah terlalu sering disakiti, terlalu sering percaya, dan akhirnya, terlalu sering diam. Diam itu bukan karena ketenangan. Walakin karena sudah tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Namun justru di situlah kaos oblong itu mulai berbicara. Bukan kepada dunia, bukan kepada orang lain tapi kepada jiwa kita sendiri. Ia berbicara dalam bahasa yang bahkan tidak bisa dikenali oleh kata. Dalam kesunyian itu, kita melihat sesuatu yang tak dapat dijelaskan.
Seseorang pernah berkata bahwa dunia hari ini terlalu kunjung, terlalu bising, terlalu penuh identitas palsu yang ditempelkan seperti stiker pada wajah yang lelah. Dalam dunia seperti itu, kaos oblong adalah satu-satunya bentuk pengampunan. Ia bukan jawaban, tapi ia menyediakan ruang. Ruang itu lebih penting dari jawaban. Karena di sanalah kita duduk dan bertanya kepada diri kita sendiri: siapa kita sebenarnya?

Dalam buku Murakami T: The T-Shirts I Love (2021), seorang pria kamitua bernama Haruki Murakami yang tampaknya lebih memafhumi rasa sunyi tinimbang rasa sukses, menuliskan catatan tentang kaos-kaos oblong yang ia miliki. Bukan sebagai katalog benda, tetapi sebagai kronik batin. Kaos-kaos itu seperti batu nisan dari kenangan yang tidak pernah benar-benar mati. Di sanalah ia menyembunyikan dirinya, bukan sebagai penulis, bukan sebagai selebritas sastra, tapi sebagai manusia yang bisa merasa sendiri di tengah kerumunan.
Carolyn Mair, dalam The Psychology of Fashion (2018), meneroka bahwa pakaian adalah “bahasa diam dari siapa kita” (Mair, 2018: 23). Akan tetapi bahasa itu tidak menenangkan kita; sebaliknya, ia memperlihatkan luka yang selama ini kita bungkus rapat. Murakami, entah mengapa, tampaknya memahami ini secara intuitif. Kaos-kaosnya bukan fashion, bukan citra. Walakin lipatan dari waktu yang tidak pernah bisa kembali, tapi tetap memeluknya laksana seorang ibu tua yang tidak bisa marah pada anaknya.
Kaos dari maraton Boston, kata Murakami, masih membawa desah napasnya. Bukan napas kemenangan, tapi napas keberadaan. Napas yang mengingatkan bahwa ia masih hidup, meski ia tidak tahu untuk apa hidup itu sendiri. Ada pula kaos dari Powell’s Bookstore di Portland, tempat sunyi liyan, di mana orang-orang datang bukan untuk membeli, tetapi untuk mencari. Mencari penghiburan dalam debu, dalam rak-rak kayu yang mengelupas, dalam bau tinta yang hampir tak tercium. Ada juga kaos dari festival jazz di Osaka, warnanya pudar seperti ingatan tentang cinta perdana yang tidak pernah ia ucapkan.

Kaos-kaos itu seperti tubuh lain yang menyimpan kenangan, tapi tidak pernah minta dikenang.
Murakami bahkan menolak kaos dengan tulisan mencolok. “Aku tidak ingin tubuhku menjadi bacaan publik,” ujarnya. Ia memilih polos, senyap, karena di sanalah ia bisa menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang menyukai lari pagi, saxophone, dan keheningan. Seseorang yang mungkin seperti kita semua, tidak pernah merasa cukup berarti untuk berwicara keras-keras.
Konsep “enclothed cognition” yang dikemukakan Mair memperjelas sesuatu yang sudah lama kita rasakan tanpa nama: bahwa pakaian bisa mengubah cara kita berpikir dan merasa (Mair, 2018: 67). Namun bukan perubahan menuju keindahan. Justru, kadang ia membawa kita lebih dekat ke jurang. Murakami tahu, saat mengenakan kaos jazz lusuh itu, bahwa ia bukan siapa-siapa. Bahwa tubuhnya hanyalah pembawa pesan dari masa silam yang tak ingin diselamatkan.
“Aku tidak merasa seperti penulis besar saat mengenakannya,” katanya. “Aku hanya pria biasa yang menyukai jazz.”
Sangat biasa, begitu biasa hingga menyakitkan.
Tatkala aku mengenakan kaos biru polos yang tidak punya sejarah, tidak punya desain, tidak punya harga, aku merasakan sesuatu yang garib: aku merasa menjadi diriku sendiri. Tetapi siapa aku? Itu pertanyaan yang tak bisa kujawab tanpa menangis. Mair menyebut pakaian bisa menjadi “jangkar emosional” (Mair, 2018; 48). Walakin jangkar itu, pada waktunya, bisa menarik kita ke dasar laut yang gelap, ke tempat di mana kita harus bertanya: apakah aku pernah benar-benar hidup?
Kaos itu mengingatkanku pada senja di pinggir Sungai Kahayan, bukan senja romantis, tapi senja saat aku hampir kehilangan akal karena dunia tidak memberi ruang. Di sana aku menulis catatan yang tak pernah selesai. Mungkin karena aku sendiri tak pernah selesai sebagai manusia.
Murakami menulis bahwa kaos tidak pernah memulai atau mengakhiri cerita. Ia hanya menjaga ruang kosong di antara keduanya. Dalam dunia tempat segala sesuatu harus memiliki makna, kaos menawarkan absurditas yang menenangkan. Ia tidak punya misi. Ia hanya ada. Terkadang, itu cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kehancuran.
Ketika Murakami memilih kaos sebelum menulis, ia melakukannya bukan karena estetika, tapi karena kebutuhan jiwa. Kaos itu bukan seragam. Ia adalah pelindung. Seperti dinding tipis antara seseorang dan dunia yang terlalu sering menghukumnya karena tidak sesuai.
Tatkala ia mengenakan kaos dari toko barang bekas dengan gambar beruang, dengan kain lembut, tanpa narasi, ia sedang mengatakan sesuatu: bahwa tidak semua yang memiliki makna perlu dijelaskan. Mair menyebut pakaian sebagai “relik sejarah pribadi” (Mair, 2018: 52). Akan tetapi kadang sejarah itu terlalu gelap untuk dikenang. Maka kita memilih keheningan. Kita memilih kaos oblong.
Murakami T bukanlah buku tentang kaos. Ia adalah buku tentang kehilangan yang tidak pernah diucapkan. Tentang nostalgia yang tidak tahu siapa yang dirindukan. Perihal pengakuan tanpa saksi. Dan itulah mengapa ia menyentuh. Ia tidak menuntut kita untuk mengerti. Ia hanya meminta kita untuk diam bersamanya, dan merasakan sesuatu yang mungkin sudah lama mati dalam diri kita.
Seperti yang ditulis Mair, nilai pakaian bukan pada tampilannya, tapi pada makna yang diam-diam kita sematkan padanya (Mair, 2018: 46). Murakami tidak sedang menulis ihwal koleksi. Ia sedang menulis tentang luka. Dalam setiap noda pada kaosnya, kita melihat sesuatu yang menyerupai diri kita sendiri: dursila, lusuh, tapi tetap kita peluk.
Kala menutup buku itu, aku tidak merasa tercerahkan. Justru aku merasa lebih dekat pada sesuatu yang selama ini kutolak: kenyataan bahwa hidup ini tidak selalu harus diselesaikan. Bahwa mungkin yang kita perlukan bukan jawaban, tapi ruang kosong. Seperti kaos. Seperti buku ini. Seperti malam.
Aku membayangkan Murakami duduk di rumahnya, mengenakan kaos polos yang tidak berkata apa-apa, sambil mendengarkan suara hujan menetes di luar jendela. Mungkin ia sedang menulis. Mungkin ia tidak melakukan apa pun. Tetapi ia ada. Dan itu cukup. Sebab di dunia yang memaksa kita untuk selalu menjelaskan diri, kaos oblong adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa bersembunyi, diam, dan bertanya tanpa perlu memberi jawaban.
Barangkali, dunia tidak runtuh karena perang atau wabah, tetapi karena manusia lupa cara mendengarkan benda-benda kecil yang setia menemaninya dalam sepi. Kaos oblong, seperti sunyi yang tidak diundang, hadir tanpa gembar-gembor, namun menyimpan fragmen jiwa yang tak sanggup diwakilkan pidato kebudayaan atau status media sosial. Kita hidup dalam zaman yang mencintai penampilan, memuja narasi besar, tapi tak pernah memberi ruang pada sesuatu yang hanya ingin ada tanpa dipamerkan. Dalam keluguannya, kaos oblong menertawakan absurditas modernitas: betapa manusia rela kehilangan dirinya demi satu kata: “terlihat”.
Kalakian, ironi kehidupan hari ini adalah ketika seseorang lebih mengenal logo di dadanya ketimbang isi hatinya sendiri. Kita memahat identitas bukan dari pengalaman, tapi dari bordiran huruf kapital di dada kiri, sambil berharap dunia menebak siapa kita. Kaos oblong, polos dan tak ambisius, adalah satire bergeming atas kegilaan zaman yang menjual kepribadian dalam paket diskon. Ia tidak menawarkan solusi, hanya mengajak kita bercermin tanpa bingkai.
Sebab kadang, satu helai kain lusuh lebih jujur daripada biografi yang dibungkus jargon. Andai suatu hari kita lupa siapa diri kita, mungkin jawabannya ada di tumpukan kaos yang tidak pernah kita buang.@
*Muhammad Iqbal. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Penerbit Indie Marjin Kiri.























