DENGAN dasar ketidakpastian laut, Moeh memilih pola hidup yang harus teratur. Bangun lebih awal, menyapa kabut yang turun pelan dan embun yang mulai menimbun. Di remangan fajar, ia gigih mendayung sepeda jengki menuju arah bintang kejora yang menguak membawa nasib.

Biasa ia pergi bersama bapaknya yang renta atau saat angin terlalu kencang, ia memilih pergi sendiri. Sesudah memanaskan mesin sampan, selanjutnya ia biasa terombang-ambing laut, sampai perolehan ia rasa cukup atau saat tiada lagi tenaga dan harus disisakan untuk pulang.

Setiap sore, hasil tebusan perolehan yang ia setor ke dermaga pelelangan ikan, akan dilipat dan ditabung, entah untuk apa. Kadang perolehannya bisa hampir memenuhi sampan, kadang juga hanya segepok kerapu besar dan beberapa teripang, malah kadang hanya mendapat peluh bercampur aroma asin laut.

Satu waktu, Amar si Mandor Dermaga, sudah terlalu bingung melihat Moeh bermuram durja. Amar datang kepadanya bukan untuk peduli, tapi sudah terlalu muak melihat muka kusut itu. Ia menghampiri mencoba menghibur, “Kau hanya perlu kekasih, atau barangkali bercumbu dengan wanita-wanita yang datang dari kapal seberang, gairah cinta membuat kita hidup kembali.”

Moeh tidak menggubris, baginya mencintai adalah kesia-siaan, kita harus menghidupi mulut dan ego orang lain, mungkin awalnya cuma satu mulut, tapi kemudian mulut itu bisa bertambah dan beranak-pinak. Seperti hidup Amar yang kini susah tidak seperti dulu yang siap sedia dalam melaut, tangkas, dan tiada takut. Sekarang, Amar hanyalah seorang pria tua doyan sigaret dan berusaha mencari celah korup pada setiap muatan kapal.

Tapi di pertanyaan selanjutnya Moeh tertegun dan tubuhnya serupa mematung, Amar Tengah menanyakan kabar bapak. “Sudah lama tidak menjenguk batang hidungnya, ke mana bapakmu?” Amar hanya ingin memastikan orang renta itu baik-baik saja. Mengingat reputasi orang tua itu sangat besar, ia nelayan andal yang memiliki jala ajaib, semua jenis ikan dengan senang hati masuk ke dalam jalanya. Tak jarang nelayan baru maupun lama sangat iri padanya.

“Kau lihat saja! Langit murung musim tak tentu, mana mungkin aku membawa orang tua renta itu pergi melaut,” bentak Moeh untuk menyumpal mulut si Mandor itu. Amar curiga pula terguncang dengan sikap tidak biasa itu.

Moeh pulang lebih awal, disusul Amar yang menguntitnya hingga ke rumah. Melalui jalan setapak, bersembunyi di antara semak pakis dan lantana. Dari kejauhan, sesuatu yang busuk melewati hidung Amar. Ia sempat bingung dan heran akan baunya. Tidak seperti bau ikan busuk yang tersimpan lama, ini jauh lebih busuk. Semakin dekat, bau itu semakin menyodok hidungnya tiada ampun.

Amar mengintip pada satu celah dekat jendela dapur. Ia tersentak sembari menahan muntah. Moeh menyimpan mayat bapaknya. Justru lebih kurang ajar! Ia mendandani mayat layu itu, memakaikannya baju, dan memeluk-meluknya.

Segera Amar berlari memberitahu warga sekitar. “Ia membunuh Dahlan si Penjala! Ia membunuh bapaknya sendiri.” Tak lama, warga berbondong ke rumah Moeh dan ingin memintai maksud. Moeh kepalang panik dan lari terbirit, menaiki sepeda jengki menuju sampan, tapi sampan pula sudah dicegat. Tanpa pikir panjang, ia berlari sekuat tenaga dan berenang ke tengah laut, entah ke mana.

Saat ia rasa tidak ada yang memburu lagi selain napasnya, ia melihat secercah cahaya dari sebuah sampan tua yang tak pernah ia lihat. Sampan tua itu melambat sendirian, seperti kelopak teratai yang jatuh dan mengapung di air tenang. Ia dekati dan berharap ada bantuan dari sampan itu.

Moeh bergelantungan pada moncong sampan, dengan gigi bergemeletak meminta pertolongan. Pada ombak tenang, napas terburu, dan segala kesialan Moeh hari itu, seorang wanita bergaun putih yang tak wajar dipakai melaut, dengan tinggi semampai, gelombang rambutnya panjang terurai, pipi merahnya membuncah, dan kharisma mistis itu muncul dari sebalik kendali nakhoda.

Barangkali ini satu keajaiban bagi Moeh, dan kesialan bagi wanita itu. Setelah beberapa saat meyakinkan, wanita itu menarik Moeh masuk ke dalam sampannya. Tentu hanya ada takut dan bingung dalam kepala wanita itu, banyak sekali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Dengan penuh gigil, Moeh hanya menatap si wanita. Ia mungkin berhasil tidak tenggelam pada laut, tapi ia telah jauh terbenam pada mata wanita itu.

“Kau siapa?” Moeh gagu bertanya.

“Kau yang siapa?!” teriak wanita itu.

Di malam itu, Moeh menjelaskan semuanya hingga ia sampai ke sampan ini. Termasuk alasan ia menyimpan jasad bapaknya, jelas itu karena kesepian dan cinta satu-satunya yang ia miliki. Jala ajaib bapaknya telah lama diincar nelayan lain. Setelah nyawa dan jala itu berhasil direnggut, jala itu tidak berfungsi seperti yang dipikirkan. Hanya persis seperti jala biasa yang dijual di pasar ikan.

Karena semua ikan yang datang untuk menghidupi kami itu bukan berkat jala bapak, tapi barangkali itu hadiah dari ibu, yang telah lama menjadi santapan hiu macan dan menjadi alga yang meronakan warna laut. Demikian Moeh bercerita.

Respon wanita itu berbeda, si wanita memahami alasan Moeh. Moeh melirik ke peti ikan wanita itu yang perolehannya sangat sedikit. Ia bertanya asal muasal si wanita hinga sampai kemari.

“Anggap saja aku tersesat, dan sekonyong Toman Laut Cina Selatan mendorong sampanku hingga ke sini.” Dari cara wanita itu menjelaskan, jelas wanita ini belum pernah melaut.

“Ikan Toman hidup di air tawar,” pungkas Moeh.

Dengan niat berbalas budi dan sedikit tentang jatuh hati, Moeh menemaninya sepanjang malam. Belajar cara menyerak jala, menerka angin, hingga menghitung arah dengan rasi bintang.

“Sirius, Canopus, dan Capella akan mudah kau temui, karena mereka bintang paling terang.”

“Melihat gugusan bintang itu, aku merasa kecil,” ucap wanita sembari menengadah.

“Mengapa seperti itu? Kau saja telah memikul dua bintang yang ada di bola matamu.”

Menjelang fajar datang, wanita itu harus kembali. Moeh memberi seluruh tangkapannya, yang walau hanya diisi ubur-ubur dan beberapa ikan tenggiri. “Kau tak akan ada di laut seorang diri jika kau tak membutuhkannya, ambillah, biarkan cahaya ubur-ubur menuntun jalanmu pulang.”

Wanita itu luluh dengan ketulusan Moeh. Si wanita bersedia mengantarkan Moeh ke pantai keempat dari sini, barangkali untuk bersembunyi atau mungkin meminjam selembar pakaian dan sampan orang di sana. “Pantai itu seluruhnya diisi orang baik yang kesepian,” ucap wanita meyakinkan.

Sebelum mereka berpisah, ada satu yang hampir terlupa, “Kau belum menyebutkan nama, Aku Moeh.”

Wanita itu menatap ragu dan asing, “Aku Jona.”

Mereka bertemu beberapa kali setelah itu, dengan sampan masing-masing. Jauh dari darat, asing dari nelayan lainnya, hanya mereka berdua. Berkali-kali di titik yang sama, mereka selalu mencari cara yang seakan tidak disengaja untuk bertemu dan menemukan. Gelisah hati bila yang satu terlambat menemui. Setiap malam, sampan mereka mengambang dengan seutas tali pengikatnya. Moeh melompat ke sampan Jona. Bertukar kisah yang mudah menjelma menjadi cinta.

Berminggu-minggu mereka menyimpan hubungan sepi dan tak diketahui. Hingga kemudian, di satu malam, di tengah laut dingin nan kaku, ada degup kencang di dalam dada mereka. Mulanya berniat saling menghangatkan, bibir-bibir itu mulai menjalar ke seluruh tubuh, kini mereka sadar cinta sudah tiada berbatas, hanya ada dengung laut dan berkejaran desah napas. Lepas sudah sebuah mahkota.

Setelah beberapa kali kemudahan itu terjadi, Jona membuka mulutnya, “Aku sungguh-sungguh mencintaimu, tapi aku pula perlu tahu, kita ini apa?”

Moeh hanya merengkuh tubuh wanita itu sebagai jawaban. Mereka akan duduk pada moncong sampan melihat bintang Sirius, Canopus, dan Capella penunjuk arah, tapi mereka tidak pula berarah.

Berminggu-minggu, di setiap malam pertanyaan itu terlontar, hingga masalah pun melebar. Sampai di satu malam, badai datang dan mengamuk.

“Yang rumit itu isi kepalamu atau hubungan ini, Moeh!?” ucap Jona dengan penuh tangis, “Ternyata kau hanya pelancong yang setiap malam datang ke sampanku, entah apa maksudmu, yang jelas sungguh keliru aku memberi rasa itu, kau mencabik-cabiknya.”

“Ini juga salahmu! Kenapa dari awal kau tidak bilang punya suami, dan menjauh saja dariku?” pertanyaan itu seperti sedang memeras hati mereka, “Bilang saja, suami veteran perang yang cacat itu tidak dapat memberimu hidup, hingga kala itu kau terpaksa melaut seorang diri, hanya untuk menjejali mulut pria itu dengan ikan!” ujar Moeh disambut gemuruh petir yang panjang.

“Pikirkanlah anak dua bulan di perutmu itu,” sambung si Nelayan menyingkap segalanya. Mereka berdua masih menangis, merengkuh, mencoba merancang masa depan, perdebatan terus bergulir di samping debur ombak yang terus menghantam sampan mereka.

Keduanya sudah berada di kebuntuan. Menunggu salah satu menyerah atau berharap mendapat ilham dari langit yang kelabu untuk jalan keluar mereka. Sampai salah satu berujar, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak memiliki apa pun, aku lelaki yang tidak berarah,” ungkap Moeh seolah sebagai pengakuan dosa. Tapi Jona menjawab itu dengan keteguhan cintanya, sekaligus amarah kepada alam yang sudah mempertemukan mereka, “Kalau kau hanya bisa bersamaku di laut, maka aku akan di laut selamanya.”

Ombak keras menghantam lumbung, hingga mengguncang keras sampan. Di Tengah hujan deras, sekonyong gelombang mengamuk, dan langit kelabu membelah, terlihat seberkas cahaya putih mengambang seakan menjemput Jona ke laut. Cahaya itu diiringi kelompok lumba-lumba yang menari sembari membentang jala besar dan lembut bak kain kasmir. Jala ajaib itu menangkap Jona dan membenamkannya ke dalam laut.

Moeh terkesiap dan takjub. Ia tahu sekaligus juga tidak. Ia merasakan kehadiran ibu. wanita yang barangkali memberinya penghidupan dari laut, sekaligus pula kematian untuk laut.

Ia berteriak sekuat yang ia bisa. Sesekali mencari cara agar bisa terjun, tapi ia tahu ombak ganas takkan beri ampun. Dengan tangis keras itu, rupanya tidak juga terdengar oleh alam atau siapa pun. Laut menelan Jona dan cahaya itu.

Setelah semua itu, yang tersisa hanyalah sungguh kehampaan dan ketidakpercayaanya pada apa pun, termasuk pada bintang kejora pembawa nasib. Setiap waktu, di saat Sirius, Canopus, dan Capella berada, ia kembali merenung di bibir pantai keempat, berusaha membaik dan kesepian, juga terus berharap menemukan ibu, bapak, atau Jona dan mendekapnya dengan penuh cinta. Lagi.@