BIOSKOP Keliling. Menyebut nama ini, jangan bayangkan pemutaran film meiunakan gerobak dengan layar tancap di tanah lapang. Bioskop Keliling yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIII Provinsi Kalimantan Tengah – Selatan (Kaltengsel) adalah upaya sosialisasi warisan budaya di Kalimantan Selatan.

Seperti kegiatan pada Selasa (30/7/2024) di Aula Guest House Sultan Sulaiman Dekranasda Kabupaten Banjar, Bioskop Keliling memutar dua film sekaligus, film dokumenter Masih Terapung? dan film panjang Pangeran Antasari.

Acara yang diikuti sekitar 35 peserta, terdiri dari para pelajar dan komunitas seni di Kabupaten Banjar, ini dibuka oleh Vinsensius Ngesti Wahyuono, Koordinator Bioskop Keliling.

“Bioskop Keliling ini bertujuan memberikan tontonan dan hiburan yang edukatif lewat media film. Diharapkan nilai-nilai yang terkandung dalam film menjadi pedoman dalam membangun karakter bangsa, terutama generasi muda,” ujarnya.

Selanjutnya acara diisi hiburan musik panting yang dibawakan oleh Sanggar Junjungan Naga Pusaka. Usai membawakan tiga lagu, pemutaran film pertama dimulai.

Film dokumenter Masih Terapung? yang merupakan produksi dari hasil progam Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat bercerita tentang kegamangan kondisi pasar terapung di Sungai Kuin, Banjarmasin.

Film dokumenter yang disutradarai Zainal Muttaqin dan berdurasi sekitar 15 menit ini menghadirkan kegalauan dua pedagang pasar terapung, Acil Suasa dan  Paman Pahrul. Bahwa pasar terapung semakin sepi, karena pesatnya pembangunan di darat, sementara regenerasi pedagang pasar terapung tidak berjalan.

Sementara film kedua,  Pangeran Antasari, seperti diketahui bercerita tentang sejarah perjuangan dan kerajaan Belanda pada masa kolonial. Film yang disutradarai Irwan Siregar berdurasi sekitar 1 jam 30 menit ini diproduksi tahun 2017, dan sudah diputar di beberapa tempat sebelumnya.

Dalam sesi diskusi yang dimoderatori Rosita, Zainal Muttaqin sutradara film Masih Terapung? hadir memaparkan tentang perfilman. Ia memulai dengan membagi tga jenis film, yakni film fiksi, dokumenter, dan eksperimental.

“Sementara fungsinya di antara memberi hiburan, pendidikan, refleksi sosial dan budaya, kritik sosial, bahkan medium propaganda,” jelas sineas muda ini.

Zainal Muttaqin, sineas muda Banjarmasin, saat memberikan materi pada sesi diskusi.

Ia menyarankan agar anak muda banua mengangkat tema lokalitas. “Agar lebih diketahui dan dikenal orang luar. Sebab budaya yang ada di tempat kita tidak ada di tempat lain. Seperti pasar terapung misalnya,” ujar Zainal yang juga memproduksi film Bacakut Pandir.

Della, siswi SMAN 2 Martapura menanyakan bagaimana memasarkan film secara efektif. Menjawab itu, Zainal menyarankan agar memanfaatkan teknologi digital sekarang ini. “Yakni dengan menyebarkan potongan film ke medsos, dengan harapan bisa menjadi viral. Atau bisa juga kita ikutkan ke featival-featival film,” sarannya.

Terakhir Zainal mengingatkan, ketika membuat film harus tahu untuk apa. “Ini penting agar kita tahu film apa yang akan kita buat dan nantinya diputar di mana saja,” ucapnya.

Acara ditutup dengan penyerahan hadiah kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan seputar film yang ditayangkan, dan berfoto bersama.@