ORANG Banjar memiliki sejumlah seni tutur yang mengekspresikan narasi, cerita, kepercayaan, identitas dan nilai-nilai budaya Banjar pada masanya. Madihin, lamut, basyair dan baandi-andi adalah seni tutur produk masa lalu yang menunjukkan keahlian bertutur masyarakat Banjar jaman dulu.

Madihin lahir di Desa Tawia, Kecamatan Angkinang, Kandangan sebagai seni menyampaikan nasihat (dari kata madah: nasihat, memadahi: menasihati). Madihin menyebar hingga Banjarmasin. Yusran Efendy bersama grup lawak Jhon Tralala memopulerkan madihin dengan lawakan-lawakan yang menghibur. Madihin gaya Jhon Tralala menjadi kiblat bagi para pemadihinan generasi muda di Kalimantan Selatan.

Seorang pemadihinan selain harus ahli mengolah kata juga harus terampil memainkan tarbang secara bersamaan. Teks madihin tidak cukup hanya dihapalkan, melainkan harus menyesuaikan dengan konteks pertunjukan: dalam acara apa, siapa saja tamu yang hadir, bagimana situasi saat pertunjukan madihin sedang dilangsungkan.

Madihin masih hidup sebagai bagian dari komunikasi massa. Madihin tampil dalam seremonial suatu forum tertentu. Fungsi hiburannya semakin menguat. Hampir semua pemadihinan menampilkan kelucuan-kelucuan bukan lagi sekadar bumbu pertunjukan, melainkan sebagai objek pertunjukannya itu sendiri. Unsur pendidikan dalam wujud nasihat-nasihat semakin sedikit.

Tidak semua seni tutur di Kalimantan Selatan berhasil sebagai seni pertunjukan atau seni tontonan. Lamut pada awalnya merupakan media pengobatan anak. Lamut hadir dalam ruang-ruang keluarga dengan jumlah peserta yang terbatas. Orang Banjarmasin tidak lagi mengundang palamutan saat anaknya sakit. Muncullah lamut hiburan sebagai upaya untuk beradaptasi dengan situasi, tetapi belum berhasil. Lamut berada di ambang kepunahan.

Di Pegunungan Meratus, seni baaandi-andi disenandungkan ibu-ibu di dalam kamar saat menidurkan anak atau saat memanen padi di pahumaan. Satu cerita bisa dimainkan selama dua sampai tiga jam. Kini nyaris tak terdengar lagi suara senandung kisah Bungsu Kaling di pahumaan.

Generasi muda di Kalimantan Selatan sudah tidak mengenal lagi seni tutur warisan leluhurnya.

Pada bulan Mei lalu saya melakukan survei kepada anak muda di Kalimantan Selatan dari jenjang SMP sampai perguruan tinggi. Saya mengajukan sejumlah pertanyaan melalui Google Form yang linknya saya kirimkan kepada 20 guru SMP dan SMA yang tersebar di 13 Kabupaten/kota di Kalimantan Selatan untuk dikirim lagi ke murid di sekolah. Link tersebut juga saya kirimkan ke 1 kelas mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat dan 4 kelas mahasiswa UIN Antasari.

Hasilnya 94,6 persen menyatakan pernah melihat seni madihin secara langsung dan 72 persen menyatakan tertarik dengan seni madihin. 55 persen pernah menyaksikan seni basyair dan menyatakan ketertarikan terhadap basyair. 10 persen yang menyatakan pernah melihat lamut dan 28 persen menyatakan tertarik terhadap lamut. 9 persen pernah melihat baandi-andi dan 19 persen orang menyatakan tertarik terhadap baandi-andi.

Hasil survei yang saya lakukan secara daring ini sedikit berbeda dengan hasil survei yang saya lakukan secara langsung. Dalam beberapa kesempatan saya menanyakan secara tatap muka dengan para pelajar SMP, SMA dan mahasiswa ternyata hanya seni madihin yang dikenal para pelajar SMP, SMA dan mahasiswa. Lamut, basyair dan baandi-andi nyaris tidak dikenal anak-anak muda.

Tentu jumlah peserta yang saya survei ini belum mewakili keseluruhan anak muda di Kalimantan Selatan. Namun data penelitian ini barangkali sudah cukup menggambarkan eksisteni seni tutur di Kalimantan Selatan.

Survei ini saya lakukan tidak semata-mata untuk mendapatkan gambaran sesungguhnya tentang pengetahuan anak muda terhadap seni tutur di daerahnya, melainkan juga sekaligus mendorong anak muda mencari dan melihat seni tutur yang ada di Kalimantan Selatan. Pertanyaan yang saya ajukan di survei saya harapkan menjadi pemicu mereka mencari jawaban dan melihat bentuk seninya. Semua seni tutur yang saya tanyakan ini sudah bisa dilihat di internet. Bagi anak muda yang sangat akrab dengan gadget tentu mudah saja untuk menelusiri dan menyaksikan video seni tutur Kalimantan Selatan melalui internet. Tinggal diklik saja. Setelah melihat video seni tutur ini apakah mereka tertarik dan terdorong untuk melestarikan atau sebaliknya merupakan tahapan berikutnya. Melibatkan suara-suara muda dalam penelitian tradisi lisan sangat penting untuk pelestarian dan keberlangsungan budaya. Tradisi lisan menghubungkan satu generasi dengan generasi sebelum dan sesudahnya. Anak muda berada dalam posisi sebagai pewaris yang menentukan keberlangsungan tradisi.

Banyak tradisi lisan yang hampir punah atau hilang karena berbagai faktor, seperti modernisasi dan perubahan sosial. Sebaliknya, banyak tradisi lisan yang tetap lestari bahkan terus berkembang berkat teknologi modern.

Perkembangan teknologi komunikasi digital dewasa ini telah memberikan dampak yang besar terhadap hampir semua aspek kehidupan manusia, termasuk tradisi lisan. Pelestarian tradisi lisan yang sebelumnya hanya tergantung ingatan manusia, kini dapat dibantu oleh teknologi modern. Internet telah menjadi media pendokumentasian dan penyebaran tradisi lisan ke audiens yang lebih luas di luar komunitas asalnya. Di satu sisi, teknologi dapat membantu pelestarian, penyebaran, dan revitalisasi tradisi lisan yang hampir punah. Di sisi lain, teknologi juga dapat mematikan tradisi lisan atau mengubah tradisi lisan. Begitu banyaknya pilihan tayangan di internet sehingga tayangan-tayangan yang dianggap tidak menarik tidak akan ditonton. Berbagai tayangan yang dianggap menarik turut mempengaruhi persepsi terhadap tayangan yang dianggap tidak menarik.

Untuk bisa terus eksis diperlukan kemampuan adaptasi. Masalahnya, perubahan begitu cepat, susah diprediksi dan mengakibatkan disrupsi pada banyak hal.@