: tulisan ini disampaikan pada “1 Abad Gusti Sholihin Hasan” – Seminar Kajian Ruang Tata Pamer Lukisan Gusti Sholihin Hasan, 6-7 Mei 2025, di Hotel Aeris Banjarbaru, diselenggarakan Museum Lambung Mangkurat Prov Kalimantan Selatan.

Koleksi Karya Sholihin di Museum Lambung Mangkurat
Aktivitas kesenirupaan Kalimantan Selatan meski cukup tertinggal dari arus besar, seperti dikatakan Noorman, memiliki arusnya sendiri yang tidak diam. Sejak Gusti Sholihin Hasan meski terasa adanya “kesunyian” apresiasi, ia tumbuh dalam aktivisme di ruang komunalnya sendiri dan sesekali keluar menjenguk perkembangan yang ramai di luar sana. Dalam era digital ini tengokannya tak lagi terbatas pada berita-berita pameran atau dari teman-teman yang berkunjung maupun pulang dari luar daerah. Berbagai karya dari sajian virtual yang dapat diakses lebih leluasa, turut memberi pengaruh pada berbagai perubahan, baik dalam tata saji pameran maupun gaya kreatif. Percepatan ini makin mendorong kesunyian karya-karya Sholihin di ruangan yang tak terlalu menyajikan interaksi. Maka penting dalam revitalisasi kali ini, mengubah paradigma dan tataan koleksi karya Sholihin sebagai aset daerah yang berharga ini, dengan perencanaan matang yang nantinya disertai narasi atau pewacanaan yang lebih interaktif, dalam artian memungkinkan pengunjung dapat menjadi apresian aktif. Hal ini tentu mesti didukung dengan pemanfaatan platform digital dan narasi wacana kekinian yang menghubungkan sejarah dan persoalan seni maupun sosial yang aktual.

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang karya-karya Sholihin saya ingin menampilkan dua ilustrasi cerita. Pada pameran “Ars Tropika” Galeri Nasional di Taman Budaya Kalteng, Palangkaraya (2018), saya diminta jadi salah seorang pembicara bersama wakil perupa dari Kalimantan Tengah. Sebelum sesi saya, saya mendengar perupa Kalteng itu menyebut sejarah seni rupa modern Kalteng dimulai dari nama Sholihin. Saya baru sadar bahwa memang Kalteng pada mulanya adalah bagian dari Kalsel sebelum memisahkan daerahnya pada tahun 1957, sebagai provinsi ke-17 di republik ini. Dan memang sejaknya dulunya, wilayah Kalimantan Tengah sekarang adalah bagian dari Kerajaan Banjar, di antaranya sampai ke Kesultanan Kutaringin di Pangkalan Bun sekarang. Demikian pula sebagian Kalimantan Timur. Maka tak heran, sejarah kedua daerah ini terhubung dengan Kalimantan Selatan yang lebih tua dari sisi administratif, termasuk dalam sejarah seni rupanya. Hal ini pula yang saya dengar dari salah seorang tokoh seni rupa senior di Balikpapan yang saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita bahwa rata-rata perupa modern di Kaltim generasi yang lampau datang dari Kalimantan Selatan. Ia bercerita bagaimana pada tahun ‘70an ia bergaul dalam pergaulan seniman di Banjarmasin, dengan Adjim Arijadi dan lain-lain. Hanya saja kemudian, Balikpapan karena banyak dihuni ekspatriat minyak pada masanya lebih menjanjikan secara ekonomi dalam hal menjual karya. Terbukti pula lagi, iklim kompetisi dan pergaulan perupa Kaltim cukup dinamis dan maju, dibandingkan Kalteng misalnya.

Ilustrasi ini setidaknya menunjukkan bahwa Sholihin sebagai pioner seni rupa modern di Kalimantan memiliki pengaruh yang luas, meski mungkin namanya saat ini tidak terlalu populer dibanding Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, atau bahkan muridnya sendiri Misbach Tamrin. Ada satu keuntungan besar dalam hal ini (sunyi dalam perbincangan yang bisa berarti berefek pada pasar), bahwa karyanya relatif terdokumentasikan dengan lengkap di satu tempat, yaitu Museum Lambung Mangkurat. Menurut data koleksi Museum Lambung Mangkurat tahun 1993, ada kurang lebih 126 peninggalan Sholihin di Ruang Lukisan (sebelumnya bernama Ruang Sholihin) Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Koleksi sebanyak ini tentulah sesuatu yang sangat langka dan berharga, mengingat banyak karya para maestro tidak terkumpul sebanyak itu di satu tempat. Hal itu terjadi karena tersebarnya beberapa karya tersebut di banyak tempat kolektor dan Lembaga tertentu. Dengan demikian, koleksi karya Sholihin di Museum Lambung Mangkurat ini dapat menjadi satu media edukasi penting dalam perkembangan seni rupa suatu kawasan.

Kisah berikutnya adalah ketika beberapa tahun lalu saya dan beberapa rekan (bersama Hairus Salim, dengan ditemani Aswin Noor dan Muhammad Redho) menelusuri jejak karya Sholihin di beberapa rumah keluarganya. Di rumah masa kecilnya di Sungai Jingah, kemudian di rumah ponakannya di Kampung Melayu serta di rumah ponakan lainnya di Sultan Adam. Di tempat terakhir ini terdapat satu lukisan Sholihin dengan gaya yang mengingatkan pada karya Cap Go Meh-nya Sudjojono. Ponakan Sholihin, Gusti Iqbal, menyebut bahwa karya ini adalah karya yang belum selesai. Sebelum melihat lukisannya saya percaya saja, tapi ketika lukisan itu dikeluarkan dan saya melihat langsung saya tersenyum dan kemudian menjelaskan bahwa karya tersebut memang gaya ekspresinya memang demikian. Ekspresif dan kekanak-kanakan (naivistik). Gusti Iqbal kemudian hanya diam dan mengiyakan, karena pernyataannya sebelumnya tak berdasar. Akan sangat berbeda jika ponakan Sholihin ini mampu menjelaskan kenapa lukisan tersebut dinyatakan “belum selesai”, mungkin ada pernyataan langsung dari pelukisnya dan ini mustahil karena ketika Sholihin meninggal ponakannya ini bisa jadi masih sangat muda untuk mendapat info itu secara langsung. Jika demikian, saya akan diam dan mendengarkan dengan seksama.

Melalui cerita ini saya ingin menyampaikan dua hal. Pertama, soal pentingnya kajian atau penelitian mendalam terkait narasi karya-karya Sholihin. Jika tak memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang valid, setelah penelusuran mendalam, penarasian karya dapat dilakukan dengan strategi lain yaitu membuat perbandiangan gaya lukisan semasa karya-karya perupa lain dan narasi sejarah/sosial yang relevan. Tentu saja ini sebuah upaya tafsir, namun penelusuran serta penjelasan yang baik akan menghasilkan bentuk tata pajang serta penarasian yang baik karya-karya koleksi tersebut kepada publik. Kedua, terkait masih rendahnya literasi seni lukis di Kalimantan Selatan soal gaya, sejarah dan narasi sosialnya apalagi. Pameran-pameran yang ramai dikunjungi penonton akhir-akhir ini tidak segaris linier dengan pemahaman ini. Kemampuan narasi yang dibangun masih sebatas wacana “estetik” model fomo yang merebak melalui platform media sosial kekinian. Dengan memanfaatkan sistem viral media sosial hari ini, anak-anak muda dapat digaet untuk datang dan berswafoto di depan sebuah lukisan yang mencirikan gaya estetik khas zaman mereka. Hal ini menurut saya suatu keuntungan juga. Bahwa ke depan, dengan memanfaatkan kemampuan mengelola media sosial, Museum dapat menggaet pengunjung lebih banyak dan mengedukasi mereka lebih baik, melalui narasi sejarah seni rupa lokal yang interaktif atau bahkan imersif dalam konteks kekinian seni virtual.

Seiring makin diminatinya seni rupa sebagai bagian kehidupan fomo hari ini, pengelolaan suatu pameran belum diikuti dengan kemampuan tata letak dan penarasian karya yang baik. Istilah kurator mungkin sudah semakin familiar di telinga banyak orang, namun kerja kurasi yang baik belum banyak dipahami dan dipraktikkan secara benar. Istilah kurator bagi sebagian orang baru dimaknai sebagai penulis pengantar pameran. Padahal lebih dari itu, sebagaimana kerja kurasi di balik tata letak koleksi museum, pekerjaan ini memerlukan waktu yang tidak sebentar dan proses yang mendalam jika dikerjakan secara ideal. Hasilnya adalah sebuah pameran atau tata ruang koleksi yang mampu menarasikan wacana yang relevan, baik terkait materi karya maupun narasi sosial suatu masa atau periode tertentu, psikologi kejiwaan seniman yang selaras dan falsafah keindahan yang bertalian dengan semangat zaman. Narasi menjadi penting untuk mengikat karya, pengkarya, dan audiensnya dalam suatu bentuk apresiasi yang saling mencerahkan. Swafoto adalah keniscayaan dan pemahaman literasi seni yang baik, keduanya akan saling memberi keuntungan bagi sebaran kecintaan pada karya seni dan hasil-hasil kebudayaan, khususnya koleksi karya Sholihin di Museum Lambung Mangkurat. Dengan demikian, ini juga akan mengedukasi tentang perkembangan lebih lanjut tata kelola sajian pameran seni rupa di Kalimantan Selatan.

Menimbang Kembali Maestro Sholihin
Seorang maestro (sebanding sebutan “empu” pada masa lalu) adalah seorang ahli di bidangnya, khususnya seni. Dalam pencatatan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) oleh Pemerintah Indonesia terkait pemajuan kebudayaan, maestro mesti sudah berdedikasi pada bidang seni yang ditekuninya sekurang 35 tahun dan berusia di atas 60 tahun. Anugerah ini tentu saja untuk mereka yang masih hidup, atas dasar pengusulan pemerintah atau lembaga/komunitas yang ada di daerah. Sholihin tentu tak akan pernah mendapatkan gelar resmi ini lagi. Namun, dalam pengakuan masyarakatnya ia tentu pantas mendapatkan kemuliaan gelar ini. Ia telah berdedikasi sepanjang hidupnya yang meski singkat saja itu. Kiprahnya yang meluas, yang beriringan dengan melekat padanya nama daerah Kalimantan Selatan tempat ia lahir, memulai karier kesenirupaan dan kemudian berkubur terakhir di daerah ini, serta warisan karya-karyanya yang menginspirasi pertumbuhan seni rupa Kalsel dan generasi baru sesudahnya. Yang demikian, membuatnya layak disebut namanya dengan tambahan gelar itu. Setidaknya wacana ini penting dalam tata kebudayaan di Kalimantan Selatan.

Berdasarkan koleksi Museum Lambung Mangkurat yang cukup lengkap memuat perjalanan kekaryaan Sholihin, kita dapat mengidentifikasi pergeseran gaya seni lukisnya sesuai periode waktu dan tempat tertentu ia menghasilkan karyanya: Yogyakarta, Brazil, dan Bali. Dengan menambahkan karya pada koleksi keluarganya, ini menyempurnakannya menjadi Banjarmasin, Yogyakarta, Brazil, dan terakhir Bali. Sholihin pernah pula berpameran di Surabaya, Jakarta dan Sumatera Barat, dengan itu bisa pula ada karya yang dibuat pada kedua tempat ini, meski bisa jadi pula tidak. Koleksi Museum Lambung Mangkurat sendiri pada awalnya adalah milik Ibu Rustinah, induk semang (ibu kost)-nya di Yogyakarta. Tidak menutup kemungkinan ada karya lain pada koleksi orang lainnya. Selain itu Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, juga memiliki koleksi karya Sholihin.

Dalam rangka revitalisasi Sholihin dan warisan kesenirupaannya pada satu abad kehidupannya ini, kiranya kita menata ulang dan merapikan “catatan-catatan” yang tersebar sejauh ini. Setidaknya, meskipun Sholihin “sunyi” dalam perbincangan, upaya-upaya pencatatan itu telah ada, pun karya-karyanya cukup lengkap untuk dilihat kembali. Penataan ulang atau perapian ini penting, tidak hanya bagi museum namun juga bagi seni rupa Kalimantan Selatan yang perkembangannya dewasa ini mengalami kemajuan yang berarti.@